Samsung Galaxy S26: Revolusi 'Multi-Agent' dan Selamat Datang Perplexity!
Mobile

Samsung Galaxy S26: Revolusi 'Multi-Agent' dan Selamat Datang Perplexity!

23 Februari 2026 | 6 Menit Baca | Nabila Maharani

Lupakan monopoli satu asisten AI. Di Galaxy S26, Samsung membuka gerbang 'Multi-Agent Ecosystem' yang mengizinkan Perplexity mengambil alih tugas Gemini dan Bixby. Sebuah langkah berani atau justru membingungkan?

Halo, Tech Enthusiast! Nabila di sini.

Jujur aja, sebagai seorang developer yang tiap hari ngoding sambil debugging hidup, saya sering merasa ekosistem AI di smartphone itu agak… maksa. Kita dipaksa pakai satu asisten pintar untuk semua hal. Mau tanya resep masakan? Pake AI itu. Mau tanya error di Python? Pake AI yang sama. Padahal, kita tahu kalau setiap Large Language Model (LLM) itu punya “kepribadian” dan keahlian masing-masing.

Nah, kabar terbaru soal Samsung Galaxy S26 ini beneran bikin saya senyum lebar. Samsung kayaknya sadar kalau one size fits all itu nggak berlaku di dunia AI. Mereka baru saja mengonfirmasi integrasi Perplexity ke dalam Galaxy AI.

Bukan cuma sekadar aplikasi tambahan, tapi integrasi level OS yang bikin kita bisa milih siapa “otak” cadangan kita. Yuk, kita bedah kenapa ini adalah big deal buat kalian yang geek atau sekadar power user.

”Hey, Plex”: Mantra Baru Pengganti Google?

Bayangkan skenario ini: Kalian lagi baca jurnal ilmiah atau dokumentasi teknis yang berat, terus butuh jawaban cepat yang cited (ada sumbernya) dan akurat. Biasanya, kita harus buka browser, ketik url, atau buka aplikasi terpisah.

Di Galaxy S26 nanti, Samsung memperkenalkan trigger phrase baru. Selain “Hi Bixby” atau memanggil Gemini, kalian bisa langsung bilang:

New Voice Command

“Hey, Plex.”

Perintah suara ini akan langsung memanggil engine Perplexity untuk menjawab pertanyaan kalian, tanpa harus membuka aplikasi secara manual.

Kenapa ini penting? Buat saya pribadi, Perplexity itu beda banget sama Gemini atau ChatGPT biasa. Perplexity itu ibarat librarian yang super teliti; dia cari sumber, baca, terus rangkum buat kita lengkap dengan citation-nya. Sementara Gemini mungkin lebih jago di sisi kreatif atau multimodal, Perplexity adalah raja di information retrieval.

Adanya opsi “Hey, Plex” ini menandakan Samsung nggak mau mendikte kita harus pakai teknologi siapa. Mereka kasih kuncinya ke user. “Nih, lo sukanya yang mana? Pake aja.” Itu mentalitas open platform yang saya suka banget dari Android.

Konsep “Multi-Agent Ecosystem”: Masa Depan UI/UX?

Istilah teknis yang dipakai Samsung di sini adalah “Multi-Agent Ecosystem”. Kalau di dunia software engineering, ini mirip konsep microservices versus monolith. Daripada satu aplikasi raksasa ngerjain semuanya (dan berat), mending kita punya agen-agen kecil yang spesifik dan jago di bidangnya masing-masing.

Samsung melihat pola perilaku user yang makin terfragmentasi. Orang mungkin pakai ChatGPT buat bikin email, Midjourney buat bikin gambar, dan Perplexity buat riset data. Samsung berpikir, “Kenapa nggak kita jadiin OS kita sebagai hub buat semua agen ini?”

Filosofi Baru Samsung

Samsung percaya bahwa pengguna akan semakin sering menggunakan agen AI yang berbeda untuk tugas yang berbeda, tergantung di mana kekuatan agen tersebut berada.

Ini adalah antitesis dari apa yang dilakukan kompetitor sebelah. Tahu dong, “Walled Garden” ala Apple yang biasanya maunya kita pakai solusi in-house mereka (Apple Intelligence). Atau Google yang mati-matian dorong Gemini masuk ke setiap celah Pixel. Samsung? Mereka ambil jalan tengah: sediakan platform-nya, biarkan user pilih agent-nya.

Integrasi Level OS: Bukan Sekadar “Wrapper”

Nah, ini bagian yang paling bikin saya excited sebagai orang teknis. Awalnya saya skeptis, “Ah, paling cuma shortcut doang buat buka aplikasinya.”

Ternyata nggak, guys. Integrasi Perplexity di Galaxy S26 ini konon bakal punya akses permission yang cukup dalam. Samsung menyebutkan bahwa Perplexity bakal bisa “ngobrol” sama aplikasi bawaan Samsung.

Aplikasi yang dikonfirmasi bakal bisa diakses Perplexity antara lain:

  • Samsung Notes: Bayangkan riset di Perplexity langsung auto-save atau append ke catatan kuliah kalian.
  • Gallery: Mungkin buat pencarian konteks gambar?
  • Reminder & Calendar: “Hey Plex, cari jadwal rilis library React terbaru dan ingetin saya di kalender.”
  • Clock: Simpel, tapi krusial.

Dan yang paling menarik, Samsung juga menyinggung soal akses ke “select third-party apps”. Meskipun mereka belum buka kartu aplikasi pihak ketiga apa saja yang bisa diakses, ini membuka potensi workflow automation yang gila banget.

Kalau Perplexity bisa baca konteks dari Samsung Notes saya, berarti dia bisa bantu fact-checking catatan saya secara real-time. Ini level integrasi yang selama ini cuma bisa kita mimpiin di PC, dan sekarang mau dibawa ke mobile.

Strategi “Adu Mekanik” dengan Apple and Google

Mari kita zoom-out sedikit and lihat dari kacamata bisnis and kompetisi. Kenapa Samsung repot-repot rangkul Perplexity? Padahal mereka udah mesra banget sama Google.

Jawabannya: Diferensiasi.

Di pasar smartphone high-end saat ini, hardware udah mulai jenuh. Snapdragon terbaru kencang, kamera udah bagus semua. Perangnya pindah ke software and intelligence.

  • Google punya Gemini yang terikat erat sama layanan Google.
  • Apple punya Siri baru yang terintegrasi sama ekosistem mereka sendiri.
  • Samsung? Kalau mereka cuma ngikut Google, apa bedanya Galaxy S26 sama Pixel 11 nanti?

Dengan memberikan kebebasan bagi user untuk memilih “jantung” AI di HP mereka—apakah itu Perplexity, Gemini, atau Bixby—Samsung memposisikan diri sebagai perangkat yang paling fleksibel. Mereka seolah bilang, “Kami nggak peduli AI mana yang kalian suka, yang penting jalannya paling enak di HP Samsung.”

Tantangan Integrasi

Meskipun terdengar manis, tantangan terbesarnya adalah User Experience (UX). Jangan sampai punya 3 asisten (Bixby, Gemini, Plex) malah bikin user bingung harus panggil siapa untuk tugas apa. Hand-off antar agen harus mulus supaya nggak terasa clunky.

Kapan Kita Bisa Coba?

Berita ini muncul tepat sebelum event Galaxy Unpacked yang dijadwalkan tanggal 25 Februari nanti. Besar kemungkinan, detail teknis soal bagaimana API Perplexity “kawin” sama One UI bakal dikupas tuntas di sana.

Buat kita di Indonesia, fitur ini relevan banget. Netizen Indonesia itu early adopter yang kritis. Kita suka coba-coba AI baru. Perplexity sendiri popularitasnya lagi naik daun di kalangan mahasiswa and profesional Jakarta karena kemampuannya memberikan referensi lokal yang lumayan oke dibanding model lain yang sering halusinasi.

Kesimpulan: Kemenangan buat Konsumen (and Developer)

Langkah Samsung memasukkan Perplexity ke Galaxy AI di S26 adalah angin segar. Ini memvalidasi pandangan bahwa masa depan AI itu plural, bukan tunggal. Kita nggak akan hidup di dunia yang dikuasai satu AI overlord.

Sebagai developer, saya melihat ini sebagai peluang. Kalau Samsung membuka API untuk “Multi-Agent Ecosystem”, siapa tahu nanti kita bisa bikin custom agent sendiri yang bisa diintegrasikan ke One UI? Imagine the possibilities.

Tapi untuk sekarang, fitur “Hey, Plex” adalah quality of life improvement yang saya tunggu-tunggu. Nggak sabar buat lihat apakah integrasinya beneran seamless atau masih kerasa kayak aplikasi tempelan.

Gimana menurut kalian? Tim Gemini, Tim Perplexity, atau… masih setia sama Bixby? (Hah, masih ada yang setia sama Bixby? Kidding! ✌️)

Sampai jumpa di artikel berikutnya, jangan lupa update dependencies kalian!

Code is poetry, hardware is the stage. - Nabila