Jujur aja, saya selalu ngerasa brand teknologi itu mirip musisi yang lagi nunggu rilis album. Ada yang main rahasia-rahasiaan sampai detik terakhir, ada juga yang nggak sabaran buat spill potongan lagunya di medsos. Nah, Nothing jelas masuk kategori kedua.
Setelah minggu lalu cuma kasih teaser tipis-tipis soal kehadiran jagoan kelas menengah mereka, Phone 4A, sekarang mereka blak-blakan pamer wujud aslinya. Lewat sebuah render resmi yang disebar di platform X, Nothing akhirnya menjawab rasa penasaran kita soal “gimmick” apalagi yang bakal mereka bawa kali ini. Dan seperti dugaan saya pas lagi ngopi sambil mandangin turntable tua di rumah: mereka masih setia sama estetika transparan-industrial, tapi kali ini dengan twist pencahayaan yang lebih “dewasa”.
Glyph Bar: Bukan Sekadar Lampu Disko
Kalau kalian perhatikan evolusi desain Nothing, mereka selalu bermain di area visual feedback. Di Phone 4A ini, perubahan paling mencolok ada di sebelah kanan modul kamera. Lupakan desain strip LED memanjang yang ada di seri 3A sebelumnya; kali ini mereka memperkenalkan apa yang disebut “Glyph Bar”.
Buat saya yang biasa mantengin LED meter di mixer audio, desain baru ini kelihatan lebih teknis dan presisi. Glyph Bar ini terdiri dari sembilan mini-LED yang bisa dikontrol secara individual. Secara visual, mereka ditata membentuk garis yang terdiri dari tujuh kotak lampu—enam berwarna putih, dan satu berwarna merah.
Peningkatan Glyph Interface
Kenapa ada satu yang merah? Ini mengingatkan saya sama indikator clip atau peak di peralatan rekaman. Sentuhan kecil, tapi ngasih karakter yang kuat banget. Ini bukan cuma soal estetika, tapi soal fungsionalitas. Dengan memecah strip cahaya menjadi kotak-kotak terpisah, variasi notifikasi atau indikator yang bisa ditampilkan jadi jauh lebih fleksibel.
Bayangkan skenario sehari-hari: kalian lagi meeting atau nongkrong di warkop, hp ditaruh telungkup. Lampu merah itu bisa di-setting khusus buat notifikasi super urgent—misalnya telepon dari istri atau bos—sementara yang putih buat notifikasi grup WhatsApp keluarga yang isinya stiker doang. Diferensiasi visual kayak gini yang bikin teknologi terasa lebih manusiawi, nggak cuma sekadar layar nyala yang minta perhatian terus-menerus.
Teknologi “Anti-Bleed” dan Detail Teknis
Nah, ini bagian yang bikin inner geek saya senyum. Masalah utama lampu LED di gadget murah biasanya adalah light bleed—cahayanya mbleber ke mana-mana, bikin kesan murah dan nggak rapi. Kalau di audio, ini kayak crosstalk antar channel yang bikin stereo image jadi berantakan atau noise floor yang tinggi di rekaman vokal.
Nothing mengklaim kalau Glyph Bar di Phone 4A ini 40 persen lebih terang dibanding lampu di seri A sebelumnya. Angka 40 persen itu lumayan signifikan lho kalau kita bicara soal visibilitas di luar ruangan alias outdoor. Tapi yang lebih penting, mereka pakai teknologi yang sudah dipatenkan untuk bikin pendarannya lebih natural, netral, dan bleed-free.
Artinya, batas antara area gelap dan terangnya bakal tegas (crisp). Cahaya nggak akan bocor ke komponen transparan di sebelahnya. Buat mata yang sensitif sama detail, finishing kayak gini yang membedakan barang “mainan” sama tech beneran. Di dunia audio, ini setara dengan punya kabel manajemen yang rapi di dalam sasis amplifier; nggak kelihatan langsung, tapi ngaruh banget ke “rasa” premium produknya.
Triple Camera dan Absennya Flagship Baru
Selain lampu-lampuan, render tersebut juga memperlihatkan “pulau” kamera yang menampung tiga lensa. Ini sinyal kuat kalau Nothing nggak mau kompromi di sektor fotografi meski ini adalah seri ‘A’ yang notabene lebih terjangkau. Posisi Glyph Bar yang ada di sebelah kanan modul kamera ini bikin komposisi belakangnya terlihat lebih seimbang dibanding pendahulunya. Biasanya, seri menengah sering “disunat” fiturnya, entah cuma dikasih dua kamera atau material bodinya didowngrade habis-habisan. Tapi Nothing kelihatannya mau menjaga standar visual mereka tetap tinggi.
Tapi, ada satu kabar yang mungkin bikin sebagian dari kalian kecewa, terutama yang lagi nabung buat flagship baru.
Strategi Rilis 2026
CEO Nothing, Carl Pei, sudah mengonfirmasi bahwa tidak akan ada Phone 4 (versi flagship) tahun ini. Artinya, Phone 3 yang rilis tahun lalu masih akan memegang tahta sebagai perangkat tertinggi Nothing untuk saat ini.
Keputusan ini menarik dan memancing diskusi. Di saat brand lain seperti Samsung atau Xiaomi berlomba-lomba rilis flagship tiap tahun (yang kadang upgrade-nya cuma beda tipis atau sekadar ganti angka), Nothing memilih buat nahan diri. Strategi ini mengingatkan saya pada siklus rilis konsol game atau alat musik high-end. Nggak perlu ganti tiap tahun kalau barang lamanya masih perform.
Mungkin mereka sadar, pasar midrange kayak di Indonesia itu lebih “seksi” dan volume maker-nya lebih gede. Atau mungkin, mereka lagi nyiapin sesuatu yang bener-bener beda buat Phone 4 nanti dan nggak mau buru-buru rilis produk setengah matang. Langkah ini berisiko, tapi juga menunjukkan kepercayaan diri bahwa Phone 3 masih relevan, dan Phone 4A cukup kuat buat menopang penjualan mereka tahun ini.
Spesifikasi: Masih Misterius tapi Tertebak
Walaupun desain belakang udah telanjang bulat dipamerin, jeroannya masih agak abu-abu. Nothing baru konfirmasi satu hal pasti: otak ponsel ini bakal pakai chip Snapdragon. Belum ada detail serinya, tapi kalau melihat kelasnya, kemungkinan besar seri 7 Gen sekian yang emang jadi langganan hp kelas menengah ngebut.
Bocoran Spesifikasi Phone 4A
| Processor | Qualcomm Snapdragon |
| Kamera Belakang | Triple Camera Setup |
| Fitur Unik | Glyph Bar (9 Mini-LEDs) |
| Tanggal Rilis | 5 Maret 2026 |
Kita harus nunggu sampai tanggal 5 Maret nanti buat tau harga dan ketersediaan resminya. Mengingat Nothing punya basis fans yang lumayan fanatik di Indonesia, saya harap harganya nggak bakal jauh-jauh dari pendahulunya pas pertama rilis. Masalah harga ini krusial banget. Kalau terlalu mahal, dia bakal kegencet sama flagship killer lama. Kalau terlalu murah, orang bakal curiga ada fitur vital yang dipotong. Sweet spot harga midrange di sini itu ‘medan perang’ paling berdarah.
Opini Raka: Antara Gaya dan Substansi
Ngeliat Phone 4A ini, saya jadi inget filosofi setup audio saya: Simple signal path is the best path. Nothing mencoba bikin teknologi jadi simpel tapi tetap punya karakter. Glyph Bar yang baru ini bukan cuma gimmick lampu kelap-kelip biar dikira anak gaul Jaksel. Kalau integrasi software-nya bener (misalnya buat timer, indikator volume, atau notifikasi prioritas ala Uber), ini bisa jadi fitur produktivitas yang valid.
Pecahan 9 LED dengan satu aksen merah itu langkah desain yang cerdas. Itu ngasih kesan “retro-futuristik” yang kuat—kayak panel kontrol pesawat luar angkasa di film sci-fi 80-an tapi dengan build quality modern. Desain seperti ini memisahkan pengguna Nothing dari lautan pengguna smartphone ‘kotak hitam’ yang ngebosenin.
Buat pasar Indonesia, Phone 4A punya potensi besar. Kita tau sendiri, konsumen sini kritis banget soal desain dan gengsi. Kalau speknya “ok” tapi desainnya generik, bakal susah lawan dominasi brand Tiongkok lainnya yang speknya seringkali nggak ngotak. Tapi dengan desain transparan dan Glyph Bar yang makin refined, Nothing punya senjata unik buat orang-orang yang pengen tampil beda tanpa harus jual ginjal buat beli flagship.
Sekarang tinggal satu pertanyaannya: Apakah performa Snapdragon di dalamnya bakal sinkron sama tampilan luarnya yang flashy? Jangan sampai kayak speaker mahal tapi kabelnya putus nyambung. Kita tunggu aja tanggal mainnya di 5 Maret nanti. Sambil nunggu, mending saya lanjut ngopi dulu, mumpung masih anget.