Samsung Balik Jadi Raja DRAM, SK hynix Minggir Dulu
Hardware

Samsung Balik Jadi Raja DRAM, SK hynix Minggir Dulu

23 Februari 2026 | 5 Menit Baca | Reza Pramana

Setelah sempat disalip SK hynix gara-gara telat panas di HBM, Samsung akhirnya ngamuk dan merebut kembali tahta industri memori global. Apa rahasianya?

Masih ingat nggak drama tahun lalu di dunia memori? Kalau kalian ngikutin perkembangan hardware, pasti ngeh kalau tahun lalu itu momen yang agak “memalukan” buat Samsung.

Bayangkan saja, Samsung yang selama bertahun-tahun duduk nyaman di singgasana raja DRAM, tiba-tiba posisinya digoyang—bahkan sempat tersalip—oleh SK hynix. Alasannya simpel tapi nyesek: Samsung telat panas di segmen HBM (High Bandwidth Memory) buat AI. Padahal, AI lagi booming-booming-nya berkat NVIDIA.

Tapi, seperti kata pepatah lama di dunia teknologi: “Jangan pernah meremehkan raksasa yang sedang tidur.” Dan benar saja, di awal tahun 2026 ini, Samsung akhirnya ‘ngamuk’ dan melakukan comeback yang manis.

Menurut laporan terbaru dari Omdia, Samsung resmi merebut kembali mahkota industri DRAM global. Ini bukan cuma soal angka penjualan, tapi pembuktian kalau R&D mereka nggak main-main. Yuk, kita bedah kenapa ini kejadian penting, bukan cuma buat pemegang saham, tapi buat kita para tech enthusiast.

Tahta Kembali ke Tangan “Sang Kakak”

Jujur, melihat Samsung turun ke posisi kedua tahun lalu itu rasanya aneh. Kayak melihat Nokia zaman dulu tiba-tiba kalah pamor sama Ericsson di satu segmen krusial. Tapi data terbaru menunjukkan kalau Samsung sudah belajar dari kesalahannya.

Berdasarkan data pasar terbaru, Samsung kini menguasai 36,6% pangsa pasar DRAM global. Sementara itu, SK hynix yang sempat jadi darling-nya investor karena suplai HBM ke NVIDIA, harus puas turun sedikit ke angka 32,9%.

Pangsa Pasar DRAM 2026

100% Global
Samsung
36.6%
SK hynix
32.9%
Micron
22.9%
Lainnya
7.6%

Kenaikan ini bukan kebetulan. Ini hasil dari restrukturisasi bisnis HBM mereka yang agresif. Samsung sadar, kalau mau menang di era AI, mereka nggak bisa cuma jualan RAM DDR biasa buat laptop atau PC rakitan kita. Mereka harus masuk ke “otak”-nya superkomputer.

HBM3E & NVIDIA: Kunci Kemenangan

Nah, di sinilah letak strategi jitunya. Dulu, SK hynix menang banyak karena mereka jadi suplier utama HBM3 buat GPU NVIDIA H100 yang legendaris itu. Samsung sempat ketinggalan kereta.

Tapi sekarang, Samsung sukses mengamankan kontrak krusial untuk HBM3E. Nggak tanggung-anggung, kliennya langsung “trinitas” dunia chip: NVIDIA, AMD, dan berbagai manufaktur ASIC.

Apa itu HBM3E?

Buat yang belum familiar, HBM (High Bandwidth Memory) itu beda sama RAM DDR5 di PC kita. HBM itu chip memori yang ditumpuk secara vertikal (3D stacking) dan ditaruh nempel banget sama prosesor (GPU/CPU) buat kecepatan transfer data super tinggi.

HBM3E adalah versi “Extended” yang lebih kencang, krusial banget buat melatih model AI kayak GPT-4 atau Gemini.

Masuknya Samsung ke rantai pasokan NVIDIA ini adalah game changer. Samsung punya kapasitas produksi (fabs) yang jauh lebih besar dibanding SK hynix atau Micron. Jadi ketika NVIDIA butuh jutaan keping memori, Samsung adalah yang paling siap secara logistik.

Menatap Masa Depan: HBM4 dan Project Rubin

Kalau kalian pikir Samsung cuma mengejar ketertinggalan, kalian salah. Mereka sudah ancang-ancang buat tikungan berikutnya.

Laporan menyebutkan kalau Samsung sudah memposisikan diri dengan sangat baik untuk era HBM4. Menariknya lagi, Samsung dikabarkan sudah masuk dalam daftar suplier untuk jajaran produk NVIDIA berikutnya yang diberi kode nama “Rubin” (penerus Blackwell).

Ini berita besar. Masuk ke roadmap NVIDIA Rubin berarti Samsung dipercaya untuk teknologi masa depan yang bahkan barangnya belum rilis di pasaran. Dengan teknologi internal logic dies dan pin speeds yang memimpin industri, Samsung menjanjikan kapasitas yang masif buat para kliennya.

Ini tipikal Samsung banget. Sekalinya mereka nemu ritme, mereka bakal gas pol sampai kompetitor engap-engapan ngejar kapasitas produksi mereka.

Bukan Cuma AI: Dominasi di DDR5 & Server

Di tengah hype AI, kita sering lupa kalau dunia masih butuh RAM “biasa”. Google, Amazon, Microsoft (para hyperscalers) masih butuh jutaan keping DDR5, LPDDR, dan modul SOCAMM buat server data center mereka.

Di sektor ini, Samsung memang rajanya volume. Kapasitas produksi mereka yang masif membuat mereka jadi pilihan utama buat enterprise demand.

Ilustrasi Memori Server Samsung
Source: Samsung
Memori kelas enterprise seperti ini yang jadi tulang punggung cloud storage kita sehari-hari.

Saat Micron pangsa pasarnya turun ke 22,9%, Samsung justru melenggang kangkung mengambil porsi kue yang lebih besar. Estimasi bahkan menyebutkan pangsa pasar Samsung bisa tumbuh lebih jauh lagi di sisa tahun 2026 ini karena adanya DRAM supercycle.

Apa Artinya Buat Kita di Indonesia?

“Oke Mas Reza, terus apa ngaruhnya buat saya yang cuma mau rakit PC gaming atau beli laptop baru?”

Nah, ini pertanyaan bagus. Fenomena “DRAM Supercycle” dan rebutan kapasitas produksi buat AI ini punya efek samping. Ketika pabrikan memori sibuk bikin HBM buat NVIDIA, kapasitas buat bikin DDR5 konsumer bisa jadi prioritas kedua.

Walaupun artikel sumber nggak secara eksplisit bilang harga RAM bakal naik besok, tapi hukum ekonomi supply and demand tetap berlaku. Kalau Samsung sibuk melayani NVIDIA dan AMD, suplai ke pasar konsumer harus dijaga ketat biar harga nggak melambung.

Kabar baiknya, kembalinya Samsung ke posisi puncak berarti stabilitas suplai global lebih terjaga. Samsung punya pabrik di mana-mana. Kalau mereka sudah full speed, kelangkaan chip memori yang parah kayak zaman pandemi dulu should be less likely.

Kesimpulan

Comeback-nya Samsung ini mengingatkan saya pada era kejayaan hardware di tahun 2010-an. Kompetisi itu sehat. SK hynix sudah melakukan tugas luar biasa dengan “membangunkan” Samsung dari tidur panjangnya.

Sekarang, dengan Samsung kembali memimpin lewat HBM3E dan persiapan HBM4, peta persaingan makin seru. Buat kita penikmat teknologi, ini berarti inovasi bakal makin kencang. Kita tunggu saja apakah dominasi Samsung di era AI ini bakal seawet dominasi mereka di era smartphone, atau SK hynix punya kartu as lain buat membalas.

Satu hal yang pasti: The Empire is back.