Dunia semikonduktor sedang berada di titik balik yang unik. Jepang, yang dulunya adalah pusat gravitasi chip dunia pada era 80-an, kini sedang berupaya keras untuk menghidupkan kembali ekosistem manufaktur chip di dalam negerinya.
Langkah terbaru yang sedang menjadi sorotan adalah tawaran insentif masif dari pemerintah Jepang kepada dua raksasa memori asal Korea Selatan: Samsung Electronics dan SK Hynix. Jepang sangat ingin kedua perusahaan ini membangun fasilitas fabrikasi (fab) memori di tanah Sakura guna memperkuat rantai pasok domestik mereka.
Namun, kabar yang beredar menyebutkan bahwa Samsung dan SK Hynix cenderung menolak atau setidaknya belum tertarik dengan tawaran tersebut, meskipun kondisinya terlihat sangat menguntungkan di atas kertas.
Tawaran Subsidi Setengah Harga
Pemerintah Jepang tidak main-main dalam merayu para pemain besar ini. Laporan industri menunjukkan bahwa Tokyo menawarkan subsidi yang sangat kompetitif, bahkan disebut jauh lebih tinggi dibandingkan tawaran dari negara-negara lain. Subsidi ini dilaporkan bisa menanggung hingga 50% dari biaya konstruksi dan peralatan untuk membangun pabrik memori baru.
Paket Insentif Jepang
Sebagai perbandingan, Jepang sebelumnya telah sukses menarik TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company) untuk membangun pabrik bernilai miliaran dolar di Kumamoto melalui skema subsidi serupa. Keberhasilan TSMC tersebut awalnya diharapkan menjadi pemicu bagi Samsung dan SK Hynix untuk mengikuti jejak yang sama, terutama di sektor memori yang sangat krusial bagi perkembangan teknologi masa depan seperti AI.
Bagi Jepang, memiliki produksi memori domestik adalah langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat ketahanan industri mereka di tengah ketidakpastian geopolitik global saat ini.
Mengapa Raksasa Korea Masih Ragu?
Melihat besarnya subsidi yang ditawarkan, muncul pertanyaan: mengapa Samsung dan SK Hynix tidak langsung menyambarnya? Ada dua alasan utama yang membuat mereka tetap berhati-hati.
1. Fokus pada Proyek Raksasa yang Sudah Berjalan
Kedua perusahaan saat ini sedang “all-in” pada komitmen investasi masif di lokasi lain yang sudah direncanakan sebelumnya:
- Amerika Serikat: Samsung sedang membangun fasilitas produksi canggih di Taylor, Texas. Sementara itu, SK Hynix telah berkomitmen mengucurkan miliaran dolar untuk pabrik packaging HBM (High Bandwidth Memory) yang akan dibangun di Indiana. Proyek-proyek ini memakan sumber daya finansial dan manajemen yang sangat besar.
- Korea Selatan: Pemerintah Korea Selatan juga sedang mendorong proyek “Mega Cluster” semikonduktor di Yongin. Proyek ambisius ini melibatkan total investasi mencapai 622 triliun won (sekitar $450 miliar) hingga tahun 2047. Samsung dan SK Hynix memprioritaskan penguatan basis produksi di “kandang sendiri” sebagai pusat R&D dan manufaktur utama mereka.
Menambah satu lagi proyek fab berskala besar di Jepang di saat mereka sudah memiliki beban kerja ekspansi yang luar biasa dianggap terlalu berisiko secara operasional dan finansial.
Prioritas Domestik
Meskipun subsidi Jepang menarik, fokus utama Samsung dan SK Hynix saat ini adalah memastikan proyek di AS dan ekosistem raksasa di Yongin, Korea Selatan, berjalan sesuai rencana demi menjaga dominasi global mereka.
2. Efisiensi Rantai Pasok dan R&D HBM
Di era kecerdasan buatan (AI), permintaan akan High Bandwidth Memory (HBM) meledak. Saat ini, pusat produksi dan teknologi tercanggih untuk HBM masih terkonsentrasi di Korea Selatan. Memindahkan atau membangun lini produksi baru di Jepang mungkin dianggap belum cukup efisien dari sisi logistik dan integrasi dengan lini R&D mereka saat ini. Menjaga produksi tetap dekat dengan kantor pusat memberikan keunggulan dalam hal koordinasi teknologi dan pengembangan produk generasi terbaru.
Kesimpulan: Subsidi Saja Tidak Cukup
Kasus ini membuktikan bahwa subsidi uang tunai, seberapa pun besarnya, bukanlah satu-satunya faktor penentu dalam industri teknologi tinggi. Strategi jangka panjang, ketersediaan tenaga ahli, logistik rantai pasok, dan fokus manajemen pada proyek yang sedang berjalan jauh lebih menentukan.
Jepang mungkin telah berhasil menarik TSMC, namun meyakinkan Samsung dan SK Hynix adalah tantangan yang berbeda. Bagi kedua raksasa Korea ini, menjaga fokus pada ekspansi strategis di AS and memperkuat ekosistem di Korea Selatan saat ini masih menjadi prioritas utama dibanding sekadar mengejar subsidi di Negeri Sakura.