Pasti sempat dengar kasak-kusuk soal kabar “Discord minta verifikasi ID”. Panik? Wajar. Siapa sih yang mau upload identitas resmi ke aplikasi tempat kita biasanya mencari privasi dan anonimitas?
Nah, kabar terbarunya, Discord akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi setelah mendapatkan reaksi keras dari para penggunanya. Mereka tampak mencoba melakukan damage control terkait integrasi sistem verifikasi umur yang baru-baru ini diujicoba.
Intinya: Discord berusaha menjaga jarak dari Persona, penyedia layanan verifikasi pihak ketiga yang menjadi pusat kekhawatiran ini. Mereka menyatakan bahwa apa yang dilihat pengguna hanyalah sebuah “tes terbatas”.
Awal Mula Keributan: Melibatkan Persona
Keributan ini bermula ketika beberapa pengguna (khususnya di Inggris) mendadak disodori fitur age verification untuk mengakses konten tertentu. Masalahnya, metode yang digunakan melibatkan layanan pihak ketiga bernama Persona.
Persona adalah perusahaan identitas yang memproses dokumen sensitif seperti tanda pengenal resmi serta pindaian biometrik wajah untuk memastikan keaslian identitas pengguna. Bagi komunitas Discord yang sangat menjunjung tinggi privasi, integrasi ini dianggap sebagai ancaman serius terhadap anonimitas mereka.
Klarifikasi Discord: “Hanya Tes Terbatas di UK”
Setelah gelombang kritik yang deras, Discord akhirnya memberikan klarifikasi melalui Head of Product Policy mereka, Savannah Badalich. Dalam pernyataannya, terdapat beberapa poin kunci yang berusaha menenangkan kekhawatiran pengguna.
Poin utamanya adalah bahwa fitur ini hanyalah tes terbatas di Inggris (UK). Di wilayah tersebut, fitur age assurance (pemastian umur) memang sudah mulai diperkenalkan sebagai bagian dari upaya kepatuhan terhadap standar keamanan tertentu.
Discord secara eksplisit mencoba melakukan “distancing” dari Persona setelah melihat respons negatif yang masif. Pihak Discord menekankan bahwa mereka sedang mengevaluasi hasil eksperimen tersebut dan mendengarkan masukan dari komunitas.
Masalah Kepercayaan Privasi
Mengapa pengguna begitu marah? Isunya bukan sekadar rasa malas untuk melakukan verifikasi, melainkan masalah kepercayaan terhadap penanganan data oleh pihak ketiga.
- Keamanan Pihak Ketiga: Menyerahkan data sensitif kepada pihak ketiga selalu menimbulkan risiko. Sekali data biometrik atau identitas resmi bocor, dampaknya jauh lebih permanen dibandingkan sekadar kebocoran kata sandi.
- Perubahan Karakter Platform: Banyak pengguna merasa Discord adalah tempat berkumpul yang santai. Keharusan memberikan identitas resmi mengubah suasana platform dari komunitas yang bebas menjadi aplikasi yang terasa terlalu formal dan intrusif.
Apakah Drama Ini Sudah Selesai?
Pernyataan Discord yang menyebut ini sebagai “tes terbatas” bisa berarti mereka sedang menarik diri atau setidaknya mempertimbangkan kembali rencana peluncuran global menggunakan metode yang sama.
Langkah “mundur” ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh suara komunitas dalam menentukan arah kebijakan sebuah platform. Jika pengguna tidak bersuara keras, fitur verifikasi yang dianggap intrusif ini mungkin saja sudah diluncurkan secara lebih luas tanpa banyak penjelasan.
Untuk saat ini, pengguna di wilayah lain mungkin bisa sedikit bernapas lega. Namun, kejadian ini menjadi pengingat penting bagi setiap platform digital agar lebih transparan dalam mengelola data pribadi pengguna, terutama saat melibatkan mitra pihak ketiga.
Tetap waspada dengan privasi digital kalian, dan selalu kritis terhadap setiap permintaan data pribadi di internet!