Akhir Sebuah Era: Panasonic Resmi Gantung Obeng, Tak Lagi Produksi TV Sendiri
Hardware

Akhir Sebuah Era: Panasonic Resmi Gantung Obeng, Tak Lagi Produksi TV Sendiri

24 Februari 2026 | 6 Menit Baca | Reza Pramana

Sang raja Plasma akhirnya menyerah pada realita pasar. Panasonic resmi menghentikan produksi TV internal dan menyerahkannya ke partner manufaktur. Apa artinya buat kualitas gambar legendaris mereka?

Masih ingat rasanya mengangkat TV Plasma 42 inci di tahun 2008? Beratnya minta ampun, panasnya bisa buat ngangetin gorengan, tapi gambarnya… wah, itu magis.

Buat kita yang tumbuh di era kejayaan elektronik Jepang, nama Panasonic itu sakral. Mereka bukan sekadar brand yang nempel stiker; mereka adalah engineer yang obsesif. Kalau kalian pernah punya Panasonic Viera, kalian tahu apa yang saya maksud. Hitamnya pekat, gerakannya mulus, dan durabilitasnya kayak tank.

Tapi, hari ini kita harus menelan pil pahit—meski sebenarnya sudah tercium aromanya sejak beberapa tahun lalu. Panasonic, sang “Last Samurai” di dunia visual, kini telah sepenuhnya bertransformasi dengan tidak lagi memproduksi TV mereka sendiri secara internal.

Ini bukan sekadar berita bisnis. Ini adalah batu nisan terakhir untuk era dominasi “Made in Japan” di ruang keluarga kita.

Mengapa Sang Raja Plasma Turun Tahta?

Sebenarnya, tulisan dindingnya sudah terlihat jelas sejak 2021 lalu ketika Panasonic mulai menjalin asmara bisnis dengan TCL. Saat itu, mereka mulai mengalihkan produksi model entry-level dan mid-range ke pabrikan asal Tiongkok tersebut.

Namun, perkembangan terbaru di tahun 2024 ini menegaskan bahwa strategi outsourcing tersebut kini telah menjadi the new normal secara menyeluruh, bahkan untuk lini yang lebih luas.

Apa Itu Outsourcing di Dunia TV?

Dalam skema ini, Panasonic tidak lagi memiliki pabrik yang merakit komponen fisik TV. Mereka berubah menjadi desainer dan penentu standar kualitas (Quality Control). Partner manufaktur (seperti TCL) yang akan merakit panel, sasis, dan komponen lainnya sesuai pesanan Panasonic.

Masalahnya klasik: Duit.

Dulu, perusahaan Jepang seperti Panasonic, Sony, dan Sharp bangga dengan “Vertical Integration”. Mereka bikin panel sendiri, bikin chip sendiri, merakit sendiri, bahkan punya pabrik kaca sendiri. Keren sih, tapi biayanya selangit.

Sementara itu, kompetitor dari Korea (Samsung, LG) dan kemudian Tiongkok (TCL, Hisense) datang dengan strategi yang jauh lebih efisien. Mereka membanjiri pasar dengan panel LCD murah yang, jujur saja, kualitasnya “cukup oke” buat 90% mata manusia.

Panasonic, yang sempat bersikeras mempertahankan teknologi Plasma (ingat ZT60 yang legendaris itu?), akhirnya “berdarah-darah” karena pasar lebih memilih LED TV yang tipis dan terang ketimbang Plasma yang akurat tapi boros listrik.

DNA Panasonic: Masih Ada Atau Hilang?

“Terus, kalau yang ngerakit pabrik lain, apa bedanya Panasonic sama TV Cina murah?”

Nah, ini pertanyaan kuncinya. Jawabannya: Processor.

Meski panelnya mungkin dibuat oleh pihak ketiga (kemungkinan besar dari LG Display untuk OLED dan CSOT untuk LCD), “otak” dari TV tersebut masih murni racikan insinyur Panasonic di Jepang.

Spesifikasi Flagship Terkini (Z95A Series)

Panel
Master OLED Ultimate (with MLA)
Processor
HCX Pro AI Processor MK II
Tuning
Hollywood Cinema Experience
Manufaktur
Partner Outsourcing

Saya pernah ngobrol dengan orang industri soal ini. Beda panel mentah dengan panel yang sudah “dioprek” Panasonic itu bumi dan langit. Panasonic terkenal dengan heatsink khusus di panel OLED mereka yang bikin TV bisa lebih terang tanpa risiko burn-in cepat. Teknologi manajemen panas dan color grading inilah yang mereka pertahankan mati-matian.

Jadi, meskipun tangan robot yang memasang bautnya bukan lagi milik Panasonic, jiwa dari gambar yang dihasilkan—color accuracy yang disukai orang Hollywood—masih tetap ada. Setidaknya untuk seri flagship.

Peta Kekuatan TV Global Saat Ini

Kalau kita zoom out sedikit, sedih juga melihat bagaimana peta kekuatan bergeser drastis dalam dua dekade terakhir. Dulu, merk Jepang menguasai pangsa pasar global secara mutlak.

Sekarang? Mari kita lihat realitanya.

Estimasi Market Share TV Global (2023-2024)

Global Dominasi
Samsung
20%
TCL & Hisense
24%
LG
12%
Brand Jepang (Sony/Pana)
7%
Lainnya
37%

Melihat data di atas, wajar kalau Panasonic lempar handuk soal manufaktur. Volume penjualan mereka tidak cukup besar untuk menjustifikasi biaya operasional pabrik raksasa.

Dengan menyerahkan urusan “besi dan baut” ke partner, Panasonic bisa fokus ke hal yang mereka jago: Image Processing. Mereka bertransformasi menjadi butik visual premium, mirip seperti Apple yang tidak punya pabrik iPhone sendiri (semua dirakit Foxconn), tapi tidak ada yang meragukan kualitas iPhone, kan?

Evolusi Fokus Panasonic

Era 2010 100%
In-House Manufacturing
Era 2024 Minim
Low
In-House Manufacturing

Apa Artinya Buat Konsumen Indonesia?

Jujur saja, keberadaan TV Panasonic di pasar Indonesia belakangan ini sudah seperti “hantu”. Ada, tapi jarang kelihatan. Di toko elektronik besar, jejeran TV didominasi Samsung, LG, TCL, dan Hisense.

Keputusan Panasonic untuk stop produksi sendiri ini punya dua sisi mata uang buat kita:

  1. Harga Bisa Lebih Kompetitif: Dengan numpang produksi di pabrik raksasa yang efisien, biaya produksi turun. Harusnya, harga TV OLED Panasonic bisa lebih bersaing dengan LG atau Sony.
  2. Identitas yang Samar di Kelas Bawah: Untuk TV kelas entry-level, saya khawatir bedanya Panasonic dengan TV ODM lainnya cuma di logo dan sedikit software tweak.

Kalau kalian adalah cinephile atau orang yang fanatik dengan akurasi warna, seri flagship Panasonic (seperti seri Z95A terbaru) masih akan jadi “Holy Grail”. Mereka masih pakai prosesor HCX Pro AI MK II yang sangat mumpuni.

Tapi kalau kalian cari TV murah 32-43 inci? Well, mungkin rasanya nggak akan beda jauh sama beli TV merek tetangga yang harganya miring.

Kesimpulan: Realita yang Tak Terelakkan

Sebagai orang yang pernah mereview Plasma Kuro dan Viera di masa jayanya, ada rasa sesak di dada melihat pergeseran ini. Rasanya seperti melihat musisi rock legendaris yang akhirnya memutuskan pensiun dari tur keliling dunia dan cuma mau rekaman di studio rumah.

Tapi di sisi lain, ini langkah cerdas. Daripada Panasonic bangkrut karena memaksakan gengsi punya pabrik, lebih baik mereka bertahan hidup dengan menjual “otak” dan “jiwa” mereka.

Ke depannya, jangan kaget kalau label “Made in Japan” benar-benar punah dari bodi belakang TV. Yang tersisa hanyalah “Designed in Japan, Assembled in [Insert Country Here]”.

Dan mungkin, itu sudah cukup untuk menjaga warisan kualitas gambar Panasonic tetap hidup di era digital ini. Selamat jalan, era manufaktur mandiri Panasonic. Terima kasih atas semua warna hitam pekat yang pernah kau suguhkan di ruang tamu kami.