Galaxy S26 Ultra: Flagship Rasa Mid-Range? Samsung Mulai Pelit Hardware Kamera
Mobile

Galaxy S26 Ultra: Flagship Rasa Mid-Range? Samsung Mulai Pelit Hardware Kamera

24 Februari 2026 | 6 Menit Baca | Ivan Setiawan

Di saat kompetitor berlomba memasang sensor raksasa, Samsung tampaknya masih 'pede' dengan hardware lama di Galaxy S26 Ultra. Apakah era dominasi kamera Samsung akan berakhir karena terlalu mengandalkan AI?

Halo guys, Ivan di sini.

Sebagai orang yang setiap hari nenteng kamera—baik itu mirrorless buat kerjaan atau smartphone buat street photography iseng—saya selalu punya ekspektasi lebih sama seri “Ultra”-nya Samsung. Selama bertahun-tahun, seri ini jadi benchmark atau tolak ukur kamera Android. Kalau mau yang paling versatile, ya ambil Galaxy Ultra.

Tapi, belakangan ini ada tren yang agak… mengkhawatirkan.

Sementara brand tetangga (terutama dari China) lagi gila-gilaan “adu mekanik” soal ukuran sensor, Samsung justru terlihat santai. Terlalu santai, malah. Kabar terbaru soal spesifikasi fisik kamera Galaxy S26 Ultra bikin saya mengernyitkan dahi. Di atas kertas, perbandingan ukuran fisik kameranya dengan kompetitor bikin HP flagship seharga motor ini terlihat seperti… well, mid-ranger.

Kok bisa? Mari kita bedah pelan-pelan dari kacamata fotografi.

Filosofi “Cukup” yang Mulai Berbahaya

Samsung sepertinya sedang memainkan strategi defensif yang sangat berisiko. Intinya begini: mereka menolak (atau menunda) upgrade hardware fisik secara signifikan, dan memilih untuk “menambal” kekurangan hardware itu dengan software processing dan AI.

Strategi ini sebenarnya sah-sah saja. Google Pixel pernah sukses besar dengan cara ini bertahun-tahun lalu. Tapi masalahnya, kita hidup di tahun 2026, bukan 2018.

Hukum Fisika Tidak Bisa Dibohongi

Dalam fotografi, ukuran sensor adalah segalanya (“Sensor Size is King”). Sensor yang lebih besar menangkap lebih banyak cahaya, menghasilkan dynamic range yang lebih luas, dan memberikan efek bokeh (blur) yang natural—bukan bokeh buatan software yang kadang memotong helai rambut kita. Software bisa membantu, tapi tidak bisa menggantikan data fisik cahaya yang hilang.

Kompetitor Samsung tidak diam. Mereka melakukan dua hal sekaligus: Upgrade Hardware Gila-gilaan + Optimasi Software. Hasilnya? Gap kualitas yang semakin lebar.

Galaxy S26 Ultra vs. The Monster (Vivo X300 Ultra)

Mari kita ambil contoh kasus yang paling “menyakitkan” buat fans Samsung: perbandingannya dengan Vivo X300 Ultra (dan flagship China lainnya).

Berdasarkan data ukuran fisik modul kamera yang beredar, Galaxy S26 Ultra terlihat sangat mungil dibanding Vivo X300 Ultra. Ini bukan cuma soal kosmetik atau biar kelihatan garang, lho. Ukuran modul kamera yang besar itu adalah indikator langsung dari ukuran sensor dan optik lensa yang ada di dalamnya.

Kalau kita lihat skematiknya, Samsung masih bertahan dengan sensor-sensor yang ukurannya “konservatif”. Sedangkan kompetitor sudah main di ranah sensor 1 inci (atau mendekatinya) untuk semua lensa, bukan cuma lensa utama.

Perbedaan Filosofi Hardware

Pendekatan Samsung
Sensor Lama + AI Processing Berat
Pendekatan Kompetitor
Sensor Raksasa + AI Processing
Fokus Utama
Zoom Jarak Jauh (Space Zoom)
Fokus Kompetitor
Kualitas Gambar Murni & Tekstur

Ini yang bikin saya gemes. Samsung S26 Ultra mungkin masih akan menang di fitur-fitur gimmick kayak Zoom 100x yang dipoles AI sampai jadi lukisan minyak. Tapi untuk kualitas foto raw—tekstur kulit, gradasi bayangan, noise di kondisi low light—sensor fisik yang lebih kecil akan selalu kalah start.

Ibarat balapan lari, Samsung S26 Ultra ini atlet hebat tapi disuruh lari pakai beban kaki (sensor kecil). Sementara kompetitornya adalah atlet hebat yang dikasih sepatu lari tercanggih (sensor besar). Mau sekeren apa pun teknik lari (software) si Samsung, dia bakal ngos-ngosan ngejar lawannya.

Kenapa Samsung Melakukan Ini?

Sebagai fotografer yang juga ngamatin industri, saya melihat ada beberapa alasan kenapa Samsung “pelit” upgrade hardware:

  1. Desain Internal: Seri S Ultra itu punya slot S-Pen. Itu memakan ruang internal yang masif. Memasukkan sensor 1 inci butuh ruang lensa yang tebal. Mungkin engineers Samsung mentok di sini.
  2. Margin Keuntungan: Menggunakan sensor yang sama selama 3 tahun berturut-turut (hanya ganti nama atau tweaking dikit) itu sangat menguntungkan secara bisnis. R&D cost-nya rendah.
  3. Overconfidence pada AI: Samsung mungkin merasa NPU (Neural Processing Unit) mereka sudah cukup canggih untuk memanipulasi gambar dari sensor kecil agar terlihat setara dengan sensor besar.

Tapi poin nomor 3 itu tricky. Kita sebagai user mulai bisa membedakan mana foto yang detailnya “asli” dan mana detail yang “digambar” oleh AI. Foto dari sensor kecil yang dipaksa terang biasanya teksturnya jadi waxy (seperti lilin) atau over-sharpened.

Perspektif Visual: Apa Bedanya di Hasil Foto?

Oke, kita tinggalkan spesifikasi kertas. Apa efeknya buat foto kalian nanti?

Kalau S26 Ultra benar-benar rilis dengan spesifikasi fisik yang tertinggal jauh seperti rumor ini, kalian bakal merasakannya di skenario berikut:

  • Indoor Photography: Saat foto anak atau kucing di dalam rumah malam hari. Sensor kecil butuh shutter speed lebih lambat untuk menyerap cahaya, risikonya objek jadi motion blur. Kompetitor dengan sensor besar bisa pakai shutter cepat dengan ISO rendah.
  • Portrait Mode: Bokeh dari sensor besar itu creamy dan ada gradasinya. Bokeh dari software Samsung (meskipun salah satu yang terbaik) kadang masih terasa “potongan kertas”.
  • Detail Halus: Coba foto dedaunan atau tekstur kain. Kamera dengan sensor besar akan merender detail itu secara organik. Kamera sensor kecil dengan heavy processing cenderung membuat detail itu terlihat tajam tapi kasar (efek halo).

Tips Cerdas Memilih Flagship

Jangan terpaku pada angka Megapixel (200MP). Dalam fisika cahaya, ukuran pixel (pixel pitch) dan ukuran sensor jauh lebih penting daripada jumlah pixel. Sensor 50MP berukuran 1 inci hampir selalu mengalahkan sensor 200MP berukuran 1/1.3 inci dalam hal kualitas murni.

Opini Ivan: Waktunya Samsung Bangun

Artikel ini bukan untuk menjelekkan Samsung. In fact, saya pengguna setia Samsung karena ekosistem OneUI-nya yang matang banget buat produktivitas.

Tapi, cinta itu butuh kritik.

Kalau rumor Galaxy S26 Ultra ini benar—bahwa ukuran fisik kameranya kalah telak dan terlihat seperti “mid-ranger” dibanding Vivo X300 Ultra atau flagship China lainnya—Samsung sedang bermain api.

Pasar Indonesia mungkin masih sangat loyal dengan brand image Samsung. Masih banyak yang beli karena gengsi atau layanan purna jual (yang memang Samsung juaranya di sini). Tapi, segmen tech enthusiast dan content creator itu kritis. Kalau mereka mulai melihat bahwa HP seharga 20 juta kualitas videonya di malam hari kalah sama HP lain yang lebih murah atau setara, perlahan reputasi “Raja Kamera Android” itu bakal luntur.

Samsung nggak bisa selamanya berlindung di balik kata “Computational Photography”. Ada batas fisika yang nggak bisa ditembus codingan. Dan kompetitor mereka sudah membuktikan bahwa Size Does Matter.

Gimana menurut kalian? Apakah kalian tim “Yang Penting Hasil Akhir Bagus (Software)” atau tim “Hardware Harus Monster Dulu”? Coba diskusi di kolom komentar ya!