Galaxy S26 Ultra: Baterai Stagnan, Umur Makin Pendek? Blunder Fatal Samsung!
Mobile

Galaxy S26 Ultra: Baterai Stagnan, Umur Makin Pendek? Blunder Fatal Samsung!

24 Februari 2026 | 6 Menit Baca | Raka Pratama

Bocoran terbaru mengungkap Samsung tidak hanya mempertahankan kapasitas 5.000mAh di S26 Ultra, tapi juga memangkas siklus hidup baterainya. Efisiensi tinggi atau strategi 'pengusangan' terencana?

Jujur aja, pas gue lagi nyeruput kopi pagi ini sambil scrolling update teknologi, ada satu kabar yang bikin dahi gue mengkerut. Rasanya kayak lu beli speaker high-end, amplifier udah tabung kelas sultan, kabel interconnect harga jutaan, tapi pas diputer… suaranya mendem. Ada yang nggak beres.

Nah, perasaan “nggak beres” ini muncul pas gue baca bocoran terbaru soal Samsung Galaxy S26 Ultra. Kalau lu berharap tahun depan bakal jadi tahun revolusi baterai buat Samsung, mending simpen dulu harapan itu di laci. Karena dari data yang beredar, kayaknya kita bakal dapet “prank” yang lumayan enggak lucu dari raksasa Korea Selatan ini.

Bukan cuma soal kapasitas baterai yang jalan di tempat, tapi ada isu yang jauh lebih serius: umur baterai itu sendiri. Buat kita yang hobi gonta-ganti gadget mungkin nggak masalah, tapi buat lu yang beli flagship buat dipakai 3-4 tahun? Ini alarm bahaya. Mari kita bedah pelan-pelan sambil santai.

Jebakan Angka 5.000mAh: Enam Tahun Tanpa Inovasi?

Coba bayangin, lu punya mobil balap, mesinnya tiap tahun di-upgrade jadi makin kenceng, makin canggih, tapi tangki bensinnya segitu-gitu aja sejak 2020. Itulah yang terjadi sama Galaxy S Ultra series.

Bocoran materi pemasaran yang baru aja bocor mengonfirmasi kalau Galaxy S26 Ultra masih akan tetap pakai baterai 5.000mAh. Iya, lu nggak salah baca. Angka ini sama persis kayak yang dipake di Galaxy S25 Ultra, bahkan mundur sampai ke Galaxy S20 Ultra sekalipun. Udah enam tahun, Bos! Di dunia teknologi yang perubahannya hitungan bulan, enam tahun itu berasa kayak satu abad.

Sejarah Baterai Galaxy S Ultra

Galaxy S21 Ultra 5.000mAh
Rilis 2021
Galaxy S23 Ultra 5.000mAh
Rilis 2023
Galaxy S25 Ultra 5.000mAh
Rilis 2025
Galaxy S26 Ultra (Leaked) 5.000mAh
Stagnan

Padahal kalau kita lihat kompetitor, terutama brand-brand dari Tiongkok, mereka udah mulai main di angka 5.500mAh bahkan 6.000mAh dengan teknologi silicon-carbon yang bikin baterai lebih padat tapi ukurannya tetap tipis. Lha ini Samsung kok malah “mager” inovasi di sektor ini? Padahal ruang di dalam bodi HP itu premium banget.

Ada argumen klasik: “Ah, kan chipset makin efisien, Bang Raka!” Iya, bener. Snapdragon seri terbaru pasti lebih irit daya. Tapi masalahnya bukan cuma soal berapa jam HP lu bisa nyala dalam sehari. Masalah utamanya ada di poin berikutnya, yang menurut gue jauh lebih fatal.

Degradasi Tersembunyi: Umur Pakai yang “Disunat”

Ini bagian yang bikin gue sebagai mantan audio engineer ngerasa triggered. Di dunia audio, kita tahu kalau komponen kayak kapasitor atau tabung vakum itu punya umur pakai (lifespan). Semakin bagus kualitasnya, semakin lama dia bertahan sebelum performanya drop.

Nah, bocoran dari label regulasi Uni Eropa (EU) mengungkap fakta yang cukup mengerikan. Meskipun kapasitasnya sama 5.000mAh, siklus pengisian daya (charge cycles) di Galaxy S26 Ultra dilaporkan mengalami penurunan drastis dibandingkan pendahulunya.

Buat yang belum paham, satu siklus itu dihitung dari lu pakai baterai 100% (bisa sekaligus atau dicicil). Biasanya, baterai HP flagship dirancang buat tahan sekitar 500 sampai 800 siklus sebelum kesehatan baterainya (battery health) turun ke angka 80%. Di bawah 80%, lu bakal mulai ngerasa baterai cepet habis, HP tiba-tiba mati, atau performa dilimit biar HP nggak shutdown.

Apa Artinya Buat User?

Jika rumor penurunan siklus ini benar, artinya baterai Galaxy S26 Ultra akan lebih cepat “usang” dibanding S25 Ultra atau S24 Ultra. Lu mungkin ngerasa baterainya awet di 6 bulan pertama, tapi masuk tahun kedua, performa baterainya bakal terjun bebas.

Kalau Samsung beneran memangkas siklus ini, gue curiga mereka ganti vendor baterai atau ganti komposisi kimia di dalamnya demi nekan biaya produksi (cost-cutting). Ini langkah yang, jujur aja, agak “jahat” buat konsumen yang udah bayar belasan sampai puluhan juta rupiah.

Ilusi Efisiensi vs Realitas Hardware

Ada seorang tipster (pembocor) yang nyoba ngebela Samsung. Katanya, runtime atau daya tahan baterai harian Galaxy S26 Ultra bakal tetap lebih baik daripada S25 Ultra. Alasannya? Optimasi software dan efisiensi hardware dari chipset generasi terbaru.

Oke, gue terima argumen itu. Secara logika teknis, kalau “otak” HP-nya (SoC) lebih pinter ngatur daya, baterai 5.000mAh emang bisa berasa kayak 5.500mAh. Kayak lu punya mobil irit bensin, tangki kecil pun bisa jalan jauh.

Tapi inget, efisiensi itu cuma menolong durasi pemakaian harian, bukan umur panjang komponen. Mau se-efisien apapun chipset-nya, kalau material kimia di dalam baterainya sendiri punya kualitas rendah yang cepet degradasi, ya percuma.

Analogi gampangnya gini: Lu punya speaker yang suaranya jernih banget (efisien), tapi driver-nya terbuat dari bahan kertas murah yang gampang sobek kalau sering digeber. Awal-awal enak, setahun kemudian “kresek-kresek”. Itu yang bakal kejadian di S26 Ultra kalau isu cycle count ini valid.

Komparasi Skenario Baterai

Kapasitas
5.000mAh (Sama)
Teknologi
Li-Ion Standar
Efisiensi Chipset
Meningkat (Snapdragon Gen Terbaru)
Siklus Hidup (Cycles)
Berkurang Drastis (Downgrade)

Kenapa Ini Masalah Besar Buat Pasar Indonesia?

Kita harus realistis lihat pasar kita sendiri. Orang Indonesia itu unik. Kita kalau beli HP flagship, seringkali dilihat sebagai investasi. Ada yang nabung berbulan-bulan, ada yang rela cicilan panjang. Harapannya, HP itu bisa nemenin kita kerja, ngonten, atau main game selama mungkin.

Faktor lain adalah nilai jual kembali (resale value). Salah satu hal pertama yang dicek calon pembeli HP bekas jaman sekarang adalah Battery Health. Kalau Galaxy S26 Ultra baru dipake setahun Battery Health-nya udah jeblok karena siklusnya pendek, harga jual kembalinya bakal hancur lebur.

Selain itu, ganti baterai HP flagship jaman sekarang itu ribetnya minta ampun. Lu harus bongkar lem yang rapet banget (karena IP68 rating), resiko backdoor pecah, dan biaya sparepart original Samsung yang nggak murah. Kalau umur baterainya dipendekkan, artinya Samsung secara nggak langsung “maksa” kita buat lebih sering servis atau lebih cepet ganti HP baru. Strategi bisnis? Mungkin. Menguntungkan konsumen? Jelas nggak.

Opini Raka: Jangan Terbuai Spek di Atas Kertas

Jadi, apa kesimpulannya? Buat gue pribadi, kabar ini bikin gue jadi lebih skeptis. Kita seringkali cuma fokus sama angka di brosur: “Wah kamera 200MP!”, “Wah layar 3000 nits!”, “Wah Snapdragon terbaru!”. Tapi kita lupa sama komponen paling vital yang nyawain itu semua: Baterai.

Kalau Samsung beneran stick sama 5.000mAh itu sebenernya masih bisa dimaafkan ASALKAN kualitas sel baterainya ditingkatin. Tapi kalau kapasitasnya stagnan DAN kualitas siklus hidupnya diturunin? Itu namanya kemunduran. Downgrade yang dibungkus marketing manis soal “efisiensi”.

Saran gue buat kalian yang lagi ngincer upgrade tahun depan: Tahan dulu. Jangan pre-order buta. Tunggu review jangka panjang atau minimal tunggu sampai ada teardown dan analisis mendalam soal komponen baterai yang dipakai. Jangan sampai lu beli HP seharga motor, tapi baterainya sekelas mainan.

Teknologi itu harusnya memudahkan hidup, bikin kita tenang pakainya. Bukan bikin kita was-was tiap kali nge-charge, takut battery health turun satu persen lagi. Kita tunggu aja klarifikasi resmi atau tes nyatanya nanti. Tapi untuk sekarang, keep your expectations manageble, guys.

Sampai ketemu di pembahasan berikutnya, jangan lupa kopinya dihabisin sebelum dingin!