Samsung Galaxy S26 Series: Bedah Spesifikasi 'Di Atas Kertas' & Kembalinya Drama Exynos
Mobile

Samsung Galaxy S26 Series: Bedah Spesifikasi 'Di Atas Kertas' & Kembalinya Drama Exynos

26 Februari 2026 | 6 Menit Baca | Raka Pratama

Samsung akhirnya merilis trio Galaxy S26. Desain mirip, tapi jeroan beda nasib. S26 Ultra makin 'monster' dengan Snapdragon, tapi S26 biasa kembali ke pelukan Exynos. Worth it atau skip?

Oke, tarik napas dulu. Samsung akhirnya resmi menggelar hajatan tahunan mereka, Galaxy Unpacked, dan seperti biasa, trio Galaxy S26—versi reguler, Plus, dan Ultra—sudah nangkring di etalase pre-order.

Jujur aja, sebagai orang yang tiap hari ngulik detail suara di studio, saya punya kebiasaan ngelihat gadget itu kayak ngelihat perangkat audio: jangan cuma liat kemasannya yang kinclong, tapi cek signal flow-nya alias jeroannya. Dan tahun ini, Samsung sepertinya lagi mau “main api” lagi, khususnya buat pasar Indonesia.

Secara visual, kalau kalian taruh S25 dan S26 sebelahan di meja warkop, mungkin cuma fanboy garis keras yang bisa bedain. Tapi cerita di balik layar alias spesifikasi “di atas kertas”-nya? Nah, ini yang bikin dahi saya agak berkerut tapi sekaligus penasaran. Ada upgrade yang sifatnya “gimmick”, ada yang “quality of life”, dan ada satu keputusan krusial soal chipset yang bakal jadi bahan debat panjang di grup-grup teknologi lokal.

Mari kita bedah satu-satu, santai aja kayak lagi ngopi sore.

Drama Lama Bersemi Kembali: Exynos is Back

Ini poin paling kritikal yang harus kalian tahu sebelum buru-buru checkout. Ingat masa-masa kelam di mana versi Indonesia dapet chipset Exynos yang (maaf kata) agak “hangat” dan boros baterai dibanding versi Snapdragon di Amerika? Well, sejarah berulang.

Untuk seri Galaxy S26 dan S26 Plus yang masuk resmi ke Indonesia, Samsung memutuskan menggunakan Exynos 2600. Sementara itu, S26 Ultra—sang kasta tertinggi—tetap dimanja dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5 for Galaxy.

Penting Buat Calon Buyer Indonesia

Kalau kalian ngincar performa gaming mentok kanan atau efisiensi termal yang sudah teruji, S26 Ultra adalah pilihan paling aman tahun ini karena pakai Snapdragon. Buat yang ngelirik S26/S26+ (mulai Rp 16,5 juta), kita perlu nunggu hasil real-world test dari Exynos 2600 dulu. Jangan “beli kucing dalam karung” kalau prioritas kalian adalah raw performance.

Kenapa ini penting? Ibarat di dunia audio, Snapdragon itu kayak amplifier Class A yang stabil dan clean. Exynos kadang kayak Class D budget; di kertas efisien, tapi kalau digeber volume tinggi (baca: gaming berat), distorsinya mulai kedengeran (baca: throttling). Tapi, klaimnya sih Exynos 2600 ini dibangun dengan fabrikasi 3nm/2nm class yang jauh lebih adem. Kita lihat saja nanti pembuktiannya.

Galaxy S26 Ultra: Si “Privat” yang Makin Posesif

Sekarang kita fokus ke si anak emas, S26 Ultra. Selain pakai Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang diklaim punya NPU 39% lebih kencang buat urusan AI, ada satu fitur hardware yang menurut saya jenius buat kaum urban Jakarta yang tiap hari desak-desakan di KRL atau MRT.

Namanya Privacy Display.

Ini bukan sekadar software, tapi ada komponen hardware di layarnya. Bayangin kalian lagi buka banking app atau chat rahasia di kereta, terus ada orang sebelah yang matanya jelalatan. Di S26 Ultra, kalian bisa aktifin mode ini, dan secara optik, layar bakal membatasi viewing angle. Orang di samping cuma bakal lihat layar gelap, sementara kalian yang lihat dari depan tetap jelas.

Ini fitur under-rated. Daripada beli tempered glass gelap (privacy glass) yang bikin kualitas warna layar jadi butek dan nurunin brightness, Samsung kasih solusi built-in. Clean.

Perbandingan Jeroan Galaxy S26 Series (Versi Indo)

Chipset S26/S26+
Exynos 2600 (4nm/3nm class)
Chipset Ultra
Snapdragon 8 Elite Gen 5
RAM Base
12GB (Semua Model)
Fitur Unik Ultra
Hardware Privacy Display

Di sektor kamera, Samsung akhirnya sadar kalau 12MP buat ultrawide itu udah agak ketinggalan zaman buat kelas flagship. S26 Ultra sekarang pakai sensor 50MP buat Ultrawide.

Kenapa ini ngaruh? Buat kalian yang suka foto makro (karena lensa UW biasanya dipakai buat makro juga), detailnya bakal jauh lebih tajam. Plus, rekaman video 8K sekarang bisa mulus pindah antar lensa tanpa penurunan resolusi drastis. Buat konten kreator, ini upgrade yang lebih berasa daripada naikin megapixel kamera utama jadi 300MP atau angka gila lainnya.

S26 dan S26 Plus: Sekadar Pelengkap atau “Sweet Spot”?

Nasib “anak tengah” dan “anak bungsu” emang kadang kasihan. S26 dan S26 Plus dapat upgrade yang, yah, bisa dibilang moderat. Layarnya masih 6.3 inci dan 6.7 inci. Baterainya sedikit naik (4,300 mAh dan 4,900 mAh), tapi charging speed-nya buat yang varian base S26 masih stuck di 25W.

Serius, Samsung? Di tahun 2026, 25W itu rasanya kayak nungguin rendering video pakai laptop jadul. Lama. Kompetitor dari China udah main di 100W, bahkan 120W. S26 Plus mendingan dikit di 45W, tapi tetap aja, ini sektor di mana Samsung keras kepala banget.

Satu hal positifnya adalah RAM 12GB sekarang jadi standar di semua varian. Ini penting banget karena fitur AI yang makin berat butuh “ruang bernapas” di memori. Jadi, multitasking di S26 kecil pun harusnya bakal tetap snappy, asumsinya Exynos 2600 nggak “demam” ya.

Dari Generative ke “Agentic” AI

Kalau tahun lalu buzzword-nya adalah “Generative AI” (bikin wallpaper, edit foto), tahun ini Samsung geser ke Agentic AI.

Apa bedanya? Kalau Generative itu pasif (nunggu perintah), Agentic itu proaktif (inisiatif).

Bayangin kalian punya asisten studio yang nggak perlu disuruh gulung kabel, dia udah gulung sendiri karena tahu sesinya udah kelar. Galaxy AI di S26 series diklaim bisa melakukan “Now Nudge”. Misalnya, dia tahu kalian ada meeting jam 9 pagi dan lalu lintas lagi macet parah, dia bakal kasih notifikasi “Woy, berangkat sekarang atau telat,” bahkan sebelum kalian tanya Google Maps.

Ada juga fitur “Now Brief” yang lebih pintar. Dia nggak cuma ngerangkum email, tapi bisa nge-link konteks antar aplikasi. Contoh: Si A kirim email soal kontrak, terus si B chat WhatsApp nanyain “Udah baca email si A belum?”. AI-nya bisa kasih summary gabungan dari dua interaksi beda aplikasi itu. Seamless.

Klaim Performa Snapdragon 8 Elite Gen 5

NPU (AI) +39%
High
vs Gen 4
CPU Speed +19%
High
Single-core
GPU Power +24%
High
Gaming

Kesimpulan: Tahan Dulu atau Gas?

Melihat jajaran Galaxy S26 ini, kesimpulannya agak terbelah.

Buat S26 Ultra, ini adalah definitive upgrade. Snapdragon terbaru, layar anti-kepo, kamera ultrawide monster, dan bodi titanium bikin dia jadi kandidat kuat “Phone of the Year”—kalau dompet kalian sanggup, tentunya. Harganya yang nembus Rp 23 jutaan emang bikin meringis.

Tapi buat S26 dan S26 Plus, saran saya sebagai teman ngobrol kalian: Tahan dulu.

Tunggu seminggu atau dua minggu setelah rilis. Tunggu review beneran soal performa Exynos 2600. Apakah dia bakal seadem Snapdragon, atau bakal jadi setrikaan mahal? Kalau ternyata Exynos tahun ini beneran bagus, baru sikat. Apalagi promo pre-order Samsung Indonesia biasanya lumayan gila (double storage, diskon bank, dll).

Tapi kalau ternyata Exynos 2600 performanya mehh, mending kalian buru sisa stok Galaxy S25 yang harganya bakal terjun bebas, atau lirik S26 Ultra sekalian kalau butuh fitur AI-nya.

Teknologi itu alat buat mempermudah hidup, bukan buat bikin kita pusing mikirin suhu HP. Smart buyer is the new cool.

Info Ketersediaan

Pre-order sudah dibuka di Indonesia mulai 26 Februari 2026. Promo Double Storage (bayar 256GB dapat 512GB) konfirmasi aktif selama masa PO.