Nvidia Cetak Rekor (Lagi): Era 'Token' Eksponensial & Dampaknya Buat Kita
GPUs

Nvidia Cetak Rekor (Lagi): Era 'Token' Eksponensial & Dampaknya Buat Kita

26 Februari 2026 | 7 Menit Baca | Dimas Aditya

Pendapatan Nvidia tembus langit, Jensen Huang bilang permintaan AI sudah eksponensial. Data Center mendominasi, tapi gamer dapat apa? Simak analisis mendalamnya.

Jujur aja, pas pertama kali liat angka laporan keuangan Nvidia buat Q4 Fiscal Year 2026 ini, reaksi pertama gue cuma satu: “Gila.”

Kita semua tau kalau “Tim Hijau” ini lagi di atas angin gara-gara AI boom, tapi skala angkanya beneran udah di luar nalar. Nvidia baru aja ngelaporin pendapatan kuartalan sebesar $68,1 miliar. Buat yang males ngitung kurs, itu angkanya udah nggak muat di kalkulator beras. Dan yang bikin makin geleng-geleng kepala, ini naik 73% dibanding tahun lalu (Year-over-Year).

Kalau kalian pikir hype AI udah mulai reda atau “bubble”-nya mau pecah, Jensen Huang (CEO Nvidia) justru punya data yang bilang sebaliknya. Menurut dia, kita baru aja masuk ke fase di mana permintaan komputasi itu nggak cuma naik linear, tapi eksponensial.

Nah, sebagai tech enthusiast dan gamer yang hobinya ngeliatin benchmark, gue bakal bedah apa arti angka-angka monster ini, kenapa para raksasa teknologi rela bakar duit (Capex) gila-gilaan, dan yang paling penting: apa dampaknya buat ekosistem teknologi di Indonesia?

Langsung aja kita bahas.

Dominasi Absolut Data Center

Dulu, kalau ngomongin Nvidia, yang kebayang pasti GeForce, RTX, dan frame rate di Cyberpunk 2077. Tapi sekarang? Gaming itu cuma “hobi sampingan” yang menguntungkan buat mereka. Tulang punggung utamanya sekarang mutlak ada di Data Center.

Coba perhatiin data pendapatan mereka di bawah ini:

Rapor Keuangan Nvidia Q4 FY2025

Total Revenue $68.1B
High
Naik 73% YoY
Data Center $62.3B
High
Rekor Tertinggi
Full Year Rev $215.9B
High
Total TA 2026

Kelihatan kan timpangnya? Dari total $68,1 miliar, segmen Data Center nyumbang $62,3 miliar. Ini artinya, hampir seluruh duit yang masuk ke kantong Nvidia itu datang dari perusahaan-perusahaan yang berebut beli GPU H100, H200, dan yang terbaru, Blackwell.

Kenapa demand-nya segila ini? Jensen Huang ngasih penjelasan yang cukup teknis tapi masuk akal. Dunia komputasi lagi bergeser dari general-purpose computing (yang biasa kita lakuin pake CPU biasa) ke accelerated computing.

Di era AI agen (agentic AI), model-model AI ini nggak cuma “menjawab” pertanyaan kita sekali jalan. Mereka “mikir”, ngelakuin reasoning, dan menghasilkan token dalam jumlah masif. Dan buat nge-generate token-token ini dengan cepet tanpa bikin user nunggu loading lama (latency), butuh hardware khusus. Di sinilah GPU Nvidia jadi barang wajib, bukan lagi opsi.

Apa itu Token dalam AI?

Banyak yang bingung pas Jensen Huang ngomong “Demand for tokens”. Token di sini BUKAN crypto ya, guys. Dalam konteks Large Language Models (LLM) kayak GPT atau Claude, token adalah unit dasar data (bisa kata, bagian dari kata, atau tanda baca) yang diproses dan dihasilkan oleh AI. Makin pinter AI-nya, makin banyak token yang harus diproses per detik.

Perang Capex: Rakit PC Level Dewa

Kalau kita biasanya pusing mikirin budget buat upgrade VGA dari XX60 ke XX80, perusahaan kayak Microsoft, Amazon, dan Google (Hyperscalers) lagi ada di level pusing yang beda. Mereka lagi di tengah-tengah perang Capital Expenditure (Capex).

Mereka nggak cuma beli satu-dua kartu grafis. Mereka ngebangun data center raksasa yang isinya ribuan rak server. Tujuannya? Biar nggak ketinggalan kereta AI. Jensen Huang bilang kalau permintaan token di seluruh dunia udah bener-bener eksponensial. Artinya, siapa yang punya infrastruktur paling kuat buat nge-generate token paling cepet dan murah, dia yang menang.

Menariknya, di sini Nvidia main cantik. Mereka nggak cuma jualan chip. Mereka jualan sistem. Platform Grace Blackwell mereka yang pake koneksi NVLink itu diklaim sebagai “raja inference” saat ini. Performanya diklaim bisa berkali-kali lipat lebih efisien dibanding generasi sebelumnya.

Buat para hyperscalers ini, belanja triliunan ke Nvidia itu investasi wajib. Kalau nggak spend sekarang, mereka bakal kehilangan relevansi di masa depan. Istilahnya, “FOMO” level korporasi global.

Estimasi Proporsi Pendapatan Nvidia Q4

$68.1B Total
Data Center (AI/HPC)
91.5%
Gaming & Lainnya
8.5%

Catatan: Grafik di atas adalah visualisasi proporsi berdasarkan angka pendapatan Data Center ($62.3B) vs Total Revenue ($68.1B).

Liat chart donat di atas. Gaming, visualisasi profesional, dan otomotif sekarang cuma dapet porsi kue yang kecil banget dibanding Data Center. Jadi kalau kalian ngerasa harga GPU gaming agak “dianaktirikan” atau stoknya sering gaib, ya wajar. Fokus utama “si empunya toko” emang lagi bukan di kita para gamer.

Relevansi Buat Indonesia: Kita Kebagian Apa?

Nah, ini bagian yang paling sering ditanyain. “Mas Dimas, Nvidia untung gede, terus ngaruhnya apa buat kita di Indonesia? Cuma bikin harga VGA makin mahal?”

Eits, tunggu dulu. Jangan skeptis melulu.

Gelombang besar AI ini sebenernya udah mulai nyentuh pantai kita. Nvidia sadar kalau kedaulatan AI (Sovereign AI) itu penting buat setiap negara. Indonesia, dengan populasi digital yang masif, adalah pasar yang seksi banget buat infrastruktur ini.

Buktinya, ada kemitraan strategis antara Nvidia, Indosat Ooredoo Hutchison, dan GoTo. Ini bukan cuma wacana di atas kertas. Mereka berkomitmen buat ngebangun ekosistem AI yang berdaulat di sini. Salah satu wujud nyatanya adalah pembangunan AI Center of Excellence di Solo, Jawa Tengah.

Investasi di Indonesia

Nvidia dan mitranya nggak main-main. Proyek pusat AI di Solo ini nilainya tembus $200 juta (sekitar Rp 3 triliun lebih). Ini bakal jadi infrastruktur penting buat developer lokal supaya bisa ngelatih model AI pake data lokal dan bahasa Indonesia, tanpa harus selalu “numpang” server di luar negeri.

Bayangin potensi developer kita. Kalau infrastrukturnya udah ada di “kandang” sendiri, latensi lebih rendah, dan kepatuhan data lebih terjamin. Startup-startup lokal yang mau bikin fitur AI nggak perlu lagi boncos bayar sewa cloud mahal-mahal ke provider asing, karena Indosat dan GoTo bakal nyediain backend-nya yang ditenagai chip Nvidia terbaru.

Jadi, uang belanja capex yang gila-gilaan tadi nggak cuma ngalir di Silicon Valley, tapi netes juga ke infrastruktur fisik di Solo.

Analisa Dimas: Antara Harapan dan Realita Gamer

Oke, balik lagi ke mode PC enthusiast. Dengan laporan keuangan sementereng ini, ada dua sisi mata uang buat kita kaum mendang-mending.

Sisi Positifnya: Inovasi di sektor Data Center biasanya bakal “turun” (trickle down) ke produk konsumen. Arsitektur Blackwell yang sekarang dipuja-puja di server, nantinya bakal jadi basis buat kartu grafis GeForce RTX 50 series. Efisiensi daya dan kemampuan AI (DLSS yang makin pinter, frame gen yang makin mulus) yang dikembangin buat server, bakal kita nikmatin juga di PC gaming.

Sisi Negatifnya: Prioritas. Jelas banget prioritas Nvidia adalah memenuhi demand Microsoft, Meta, dan kawan-kawan yang berani bayar mahal. Kapasitas produksi TSMC (pabrik yang bikin chip-nya) itu terbatas. Kalau jatah wafer silikon-nya lebih banyak dipake buat bikin GPU AI seharga ratusan juta rupiah, otomatis jatah buat GPU gaming bisa tertekan.

Hasilnya? Bisa jadi stok awal RTX 50 series nanti bakal terbatas, atau harganya bakal dipasang tinggi karena supply vs demand yang nggak imbang. Kita udah pernah ngalamin ini pas era crypto mining, dan sekarang gantian era AI yang nyedot stok chip.

Kesimpulan

Nvidia lagi ada di puncak rantai makanan teknologi. Pendapatan $68,1 miliar dalam satu kuartal itu bukti kalau revolusi AI bukan cuma gimmick marketing. “Permintaan token” yang dibilang Jensen Huang adalah komoditas baru dunia digital, setara sama minyak di dunia industri fisik.

Buat Indonesia, investasi $200 juta di Solo adalah sinyal bagus bahwa kita dilirik sebagai pemain, bukan cuma pasar konsumtif. Tapi buat para gamer, siap-siap aja. Selama perang AI ini masih panas, harga komponen PC kemungkinan besar belum bakal turun drastis dalam waktu dekat.

Saran gue? Kalau PC kalian sekarang masih kuat buat main di 1080p atau 1440p, tahan dulu upgrade-nya. Biarin para raksasa teknologi berantem rebutan chip AI, kita nonton sambil nabung santai aja.

Gimana menurut kalian? Apakah AI Center di Solo bakal ngaruh ke keseharian kita, atau kalian lebih peduli kapan harga GPU turun? Komen di bawah ya!