Oke, tarik napas dulu. Samsung akhirnya resmi nge-drop bom tahunan mereka: Galaxy S26 Series.
Jujur aja, sebagai orang yang tiap tahun megang HP flagship buat kebutuhan daily driver dan mobile photography, ekspektasi gue tahun ini sebenernya agak mixed. Tahun lalu S25 udah solid banget, jadi apa lagi yang mau ditambahin? Ternyata, Samsung milih jalur “Adu Mekanik” di sektor layar dan, tentu saja, AI yang makin in-your-face.
Tapi yang bikin gue beneran stop scrolling pas baca rilis resminya adalah varian Galaxy S26+ dan S26 Ultra. Ada beberapa hal teknis yang menurut gue bakal ngaruh banget ke experience kita pas lagi hunting foto di outdoor atau sekadar consume content di MRT yang lampunya terang benderang.
Langsung aja kita bedah, dari perspektif gue yang lebih peduli soal visual daripada sekadar angka benchmark antutu.
Galaxy S26+: Bukan Lagi “Anak Tiri”?
Biasanya, varian “Plus” itu posisinya agak nanggung. Orang mending hemat beli yang biasa, atau all-in ke Ultra. Tapi tahun ini, Samsung kayaknya mau ngasih statement kalau S26+ itu layak dilirik.
Fokus utamanya? Layar.
Samsung Galaxy S26+ dateng dengan panel Dynamic AMOLED 2X seluas 6,7 inci. Resolusinya udah 1440 x 3120 piksel. Tajam? Jelas. Tapi “monster” sebenernya ada di peak brightness-nya. HP ini diklaim bisa tembus 3.000 nits.
Evolusi Kecerahan Layar (Peak Nits)
Lho, kok heboh banget soal 3.000 nits? Gini, buat kalian yang hobi street photography kayak gue, musuh terbesar kita itu bukan low light, tapi matahari jam 12 siang. Sering banget gue mau framing foto, layarnya kalah terang sama sinar matahari, jadinya blind shooting.
Dengan 3.000 nits, viewfinder kamera bakal tetep kelihatan jelas dan kontrasnya kejaga. Ini upgrade yang fungsional, bukan cuma angka di atas kertas. Refresh rate-nya tentu aja udah variable 1Hz sampe 120Hz (LTPO), jadi harusnya batere masih bisa napas dikit walau layarnya seterang masa depan k-pop idol.
Spesifikasi Layar Galaxy S26+
| Panel | Dynamic AMOLED 2X |
| Ukuran | 6.7 Inci |
| Resolusi | 1440 x 3120 |
| Refresh Rate | Variable up to 120Hz |
| Peak Brightness | 3.000 Nits |
Galaxy S26 Ultra: Selamat Tinggal “Screen Protector” Gelap?
Nah, pindah ke abangnya, Galaxy S26 Ultra.
Desainnya masih bawa DNA kotak tegas yang jadi ciri khas Ultra (dan Note dulunya). Tapi ada satu fitur hardware yang eksklusif cuma ada di Ultra, namanya Privacy Display.
Gue belum megang unitnya langsung, tapi dari deskripsinya, ini teknologi yang gila sih. Samsung nanam fitur privasi langsung di level hardware layar. Tau kan pelindung layar “anti-spy” yang suka bikin layar jadi agak redup dan viewing angle-nya jelek? Nah, Samsung kayaknya mau bunuh pasar aksesoris itu.
Kenapa Privacy Display itu Penting?
Buat fotografer atau editor, “Privacy Screen Protector” berbahan kaca gelap itu musuh besar. Kenapa? Karena dia ngerusak akurasi warna dan bikin layar jadi grainy. Kalau Samsung bisa bikin fitur privasi yang bisa di on/off secara digital tanpa ngorbanin kualitas panel AMOLED-nya, ini bakal jadi game changer buat mobile creative workflow.
Bayangin skenarionya: Gue lagi ngedit foto di Lightroom Mobile pas lagi di KRL atau pesawat. Gue nggak mau orang sebelah ngintip color grading rahasia gue (atau liat galeri foto yang belum disortir, uhuk). Tinggal nyalain fitur ini, dan layar cuma kelihatan jelas dari depan tegak lurus. Orang di samping cuma bakal liat layar gelap. Magic.
Ini fitur yang kelihatan sepele, tapi nunjukin kalau Samsung mulai mikirin user experience yang lebih mature, bukan cuma gede-gedean megapiksel kamera.
Harga: Dompet Menjerit atau Masih Masuk Akal?
Sekarang masuk ke bagian yang paling nggak enak dibahas: Duit.
Berdasarkan info global, harganya start di angka yang bikin nelen ludah:
- Galaxy S26+: Mulai dari $1,099
- Galaxy S26 Ultra: Mulai dari $1,299
Kalau kita konversi kasar ke Rupiah (plus pajak, bea masuk, dan margin resmi SEIN), S26+ kemungkinan besar bakal start di angka Rp 17-18 jutaan, sementara S26 Ultra bisa tembus Rp 22-23 jutaan buat varian terendah.
Mahal? Banget. Tapi kalau dilihat tren harga flagship belakangan ini, kenaikan ini sebenernya “terprediksi”. Masalahnya, dengan harga segitu, kompetisi makin ketat. iPhone Pro Max masih jadi raja gengsi, dan foldable phone makin murah. Samsung harus bener-bener buktiin kalau fitur AI dan hardware barunya ini worth the extra cost.
Waspada Regional Chipset!
Sampai artikel ini ditulis, belum ada konfirmasi resmi apakah pasar Indonesia bakal dapet versi Snapdragon 8 Gen 5 atau balik lagi ke Exynos.
Belajar dari sejarah (S24 & S25), biasanya Ultra dapet Snapdragon global, tapi varian Plus seringkali “kebagian” Exynos di pasar lokal kita. Buat kalian yang heavy gamer atau hardcore foto/video processing, wajib tunggu review lokal dulu sebelum pre-order. ISP (Image Signal Processor) di Snapdragon biasanya masih lebih mateng buat olah foto dibanding Exynos.
AI: Masih Gimmick atau Udah Berguna?
Samsung nggak mungkin rilis HP tanpa teriak “AI”. Di S26 series ini, mereka ngejanjikan kapabilitas AI yang lebih dalam.
Kalau buat gue pribadi, AI di kamera itu pisau bermata dua. Di satu sisi, fitur kayak Generative Edit ngebantu banget buat ngilangin objek sampah di background (tukang parkir yang ngerusak estetika foto street, misalnya). Tapi di sisi lain, gue kadang ngerasa fotonya jadi terlalu “digital” dan ilang rasa organiknya.
Di S26 Ultra, processing AI-nya diklaim lebih pinter ngatur dynamic range dan noise reduction di kondisi ekstrem. Gue berharap sih Samsung nggak over-sharpening lagi kayak kasus di beberapa generasi awal S22/S23 Ultra. Biarin aja ada grain dikit, yang penting detailnya natural, Bos!
Kesimpulan: Untuk Siapa HP Ini?
Dari apa yang kita lihat sekarang, Galaxy S26+ itu upgrade yang solid buat kalian yang pengen layar gede, terang, dan tajem tanpa harus bawa “batu bata” seberat varian Ultra. Upgrade 3.000 nits itu deal maker buat orang lapangan.
Sedangkan Galaxy S26 Ultra, dengan harga segitu, dia memposisikan diri sebagai alat produktivitas dan privasi ultimate. Fitur Privacy Display itu unik dan (sejauh ini) belum ada lawan sepadan di pasar mainstream.
Buat pasar Indonesia, pertanyaannya cuma satu: Apakah bonus pre-order-nya menarik? Kita tau sendiri, orang kita (termasuk gue) kadang beli HP flagship bukan cuma karena speknya, tapi karena dapet TWS gratis, upgrade storage, atau cashback bank yang gila-gilaan.
Jadi, kalau kalian masih pake S23 Ultra atau S24+, gue rasa masih aman buat skip. Tapi kalau kalian masih bertahan dengan HP 3-4 tahun lalu dan tabungan udah siap dijebol, S26 Series ini nawarin refinement yang kerasa mewah.
Kita tunggu aja unit resminya mendarat di Jakarta buat tes kamera beneran. Stay tuned!