Harga Laptop Bakal Menggila? HP Bongkar Biaya RAM Naik 100%!
Hardware

Harga Laptop Bakal Menggila? HP Bongkar Biaya RAM Naik 100%!

25 Februari 2026 | 6 Menit Baca | Dimas Aditya

Siap-siap dompet jebol. Gara-gara demam AI, komponen RAM dan SSD sekarang memakan 35% dari total biaya produksi laptop. Era upgrade murah sudah tamat.

Oke, jujur aja. Kita semua udah ngerasain ada yang nggak beres sama harga komponen PC belakangan ini. Kalau kalian lagi pantau harga RAM atau SSD di marketplace lokal, pasti sadar grafiknya lagi ijo banget—alias nanjak terus kayak saham gorengan.

Nah, kalau kemarin kita cuma bisa nebak-nebak buah manggis kenapa harganya naik, sekarang kita dapet konfirmasi valid yang bikin “deg-degan”. HP Inc., salah satu raksasa PC terbesar di dunia, baru aja buka kartu soal kondisi dapur mereka. Dan percayalah, angkanya nggak main-main.

Singkatnya: Kita sedang menuju kiamat kecil buat harga laptop dan PC rakitan.

HP baru saja mengumumkan kalau biaya untuk memori (RAM) dan penyimpanan (SSD) sekarang memakan porsi 35% dari total Bill of Materials (BOM) laptop mereka. Padahal kuartal lalu, angkanya cuma di kisaran 15-18%. Ini lonjakan yang nggak masuk akal dalam dunia manufaktur hardware.

Apa artinya buat kita para gamer dan tech enthusiast di Indonesia? Mari kita bedah bareng-bareng sambil ngopi, karena pembahasannya bakal agak “pahit”.

35 Persen: Angka Keramat yang Bikin Pusing

Biar kalian paham seberapa gila situasinya, bayangkan kalian mau ngerakit PC seharga 10 juta. Biasanya, alokasi budget terbesar itu di prosesor atau GPU, kan? RAM dan SSD itu biasanya cuma komponen pelengkap yang harganya manageable.

Tapi data terbaru dari HP di kuartal pertama 2026 ini mengubah peta permainan. Biaya komponen memori naik dua kali lipat alias 100% secara sequential (kuartal-ke-kuartal).

Lonjakan Biaya RAM/Storage (HP BOM)

Q4 2025 15-18%
Low
Porsi Biaya Normal
Q1 2026 35%
High
Porsi Biaya Saat Ini

Ini bukan sekadar “naik dikit”. Ini lonjakan eksponensial. CFO HP, Karen Parkhill, blak-blakan bilang di earnings call kalau kenaikan ini drastis banget.

Bayangkan, sepertiga lebih dari harga modal laptop itu cuma buat bayar chip memori doang. Terus sisa 65%-nya harus dibagi buat layar, chasis, baterai, motherboard, dan tentu saja, CPU/GPU yang juga nggak murah. Logikanya, kalau modal naik, siapa yang bakal nanggung biayanya? Ya jelas, ujung-ujungnya konsumen. Kita.

Tuduhlah AI Sebagai Biang Keroknya

“Lho, kok bisa tiba-tiba naik setinggi itu, Bang?”

Jawabannya satu: Artificial Intelligence (AI).

Masih ingat hype soal ChatGPT, Gemini, dan segala macam AI generator? Nah, server-server yang ngejalanin AI itu butuh GPU NVIDIA yang super kencang. Dan GPU ini nggak pake RAM biasa, mereka butuh HBM (High Bandwidth Memory).

Masalahnya, pabrikan memori utama dunia—The Big Three (Samsung, SK Hynix, Micron)—lagi sibuk banget ngalihin kapasitas produksi mereka buat bikin HBM3e dan HBM4. Kenapa? Karena cuannya lebih gede di sana, Bro!

Akibatnya, produksi DRAM standar (DDR5 dan LPDDR5x) buat laptop kita jadi “anak tiri”. Wafer silikon yang harusnya jadi RAM laptop, dialihin jadi memori server AI.

Hukum Ekonomi Dasar

Supply turun drastis (karena pabrik fokus ke HBM), tapi Demand tetap tinggi (karena semua orang butuh laptop). Hasilnya? Harga meledak. Ini adalah “AI Tax” yang harus kita bayar, meskipun kita cuma pake laptop buat ngetik di Word atau main Valorant.

Situasi ini makin parah karena transisi ke “AI PC”. Laptop zaman now yang pake label Copilot+ (kayak yang pake Snapdragon X Elite atau Intel Core Ultra) itu wajib punya RAM minimal 16GB, dan idealnya 32GB LPDDR5x yang kenceng. Jadi di saat barangnya langka, kebutuhan spesifikasinya malah naik. Double kill.

Strategi HP: Mahal atau “Disunat”?

Berita buruknya belum selesai. Di tengah badai harga komponen ini, HP juga lagi ngalamin drama internal. CEO lama mereka, Enrique Lores, baru aja cabut awal Februari kemarin buat pindah ke PayPal. Sekarang kapal lagi dikemudiin sama Interim CEO, Bruce Broussard.

Di bawah kepemimpinan transisi ini, HP udah nyiapin tiga jurus buat ngadepin harga RAM yang gila-gilaan, dan nggak ada satupun yang enak didenger buat kuping konsumen:

  1. Naikin Harga (Price Hike): Ini solusi paling gampang. Laptop yang tadinya 10 juta, mungkin bakal naik jadi 11-12 juta dengan spek yang sama persis.
  2. Turunin Spesifikasi: Nah, ini yang bahaya. Demi ngejar harga psikologis (misal di bawah 10 juta), HP mungkin bakal nahan diri buat nggak ngasih RAM 16GB atau 32GB. Kita bisa aja ngeliat laptop “AI Ready” yang dipaksain pake RAM 8GB atau SSD yang lebih kecil.
  3. Cari Supplier Murah: HP bilang mereka lagi agresif kualifikasi supplier baru, kemungkinan besar dari China, buat mecah dominasi Samsung/Micron/SK Hynix. Ini bagus buat jangka panjang, tapi pertanyaannya: gimana kualitas dan durability-nya?

Estimasi Struktur Biaya PC (Q1 2026)

100% HP BOM
RAM & Storage
35%
Layar & Panel
15%
CPU & GPU
25%
Lainnya (Chassis, Baterai, dll)
25%

Efek Domino ke Pasar Indonesia

Oke, sekarang kita tarik benang merahnya ke Mangga Dua dan e-commerce Indonesia. Apa efeknya buat kita?

Pertama, Laptop 2026 bakal mahal. Prediksi saya, laptop-laptop baru yang masuk Q2 2026 nanti harganya bakal terkoreksi naik sekitar Rp 1.000.000 sampai Rp 4.000.000 tergantung segmennya. Laptop gaming mid-range yang biasanya jadi primadona “mendang-mending” bakal paling kerasa dampaknya.

Kedua, Harga RAM Eceran. Kalau kalian ada rencana upgrade RAM laptop atau rakit PC, saran saya cuma satu: BELI SEKARANG. Serius. Distributor lokal pasti bakal nyesuain harga stok baru ngikutin harga global. Jangan nunggu “THR cair” kalau itu masih 2-3 bulan lagi, karena bisa jadi duit THR kalian nilainya udah kegerus inflasi komponen.

Ketiga, Fenomena “Downgrade” Spek. Hati-hati kalau beli laptop baru nanti. Cek detail speknya. Jangan sampai kalian beli laptop mahal-mahal, eh ternyata dikasih RAM single channel atau SSD yang speed-nya “kentang” cuma karena produsen mau nekan biaya produksi biar harganya nggak kelihatan naik drastis.

Saran Dimas Aditya

Kalau laptop lama kalian masih ‘ngangkat’, mending upgrade RAM/SSD-nya sekarang juga selagi stok lama masih ada di pasaran. Menunda upgrade hardware di tahun 2026 adalah keputusan finansial yang buruk.

Opini: AI yang Memakan Tuannya?

Ironis banget sebenarnya. Industri teknologi lagi gencar-gencarnya jualan “AI PC” ke konsumen. Microsoft, Intel, AMD, semua teriak “AI! AI! AI!”. Tapi justru obsesi industri terhadap AI (di level data center) yang bikin komponen dasar buat ngejalanin AI di laptop (RAM) jadi barang mewah.

HP sudah kasih peringatan dini lewat angka 35% itu. Dell dan Lenovo mungkin belum buka suara se-spesifik HP, tapi yakinlah, mereka juga lagi pusing tujuh keliling di belakang layar.

Buat kalian yang lagi nabung buat rig baru, kencangkan ikat pinggang. Tahun 2026 bukan tahun yang ramah buat dompet PC builder. Kita dipaksa bayar “pajak kemajuan teknologi” yang sayangnya, dialihkan buat ngebangun otak robot di cloud sana, sementara PC kita di rumah harus rebutan sisa-sisa remah roti (RAM) dengan harga restoran bintang lima.

Jadi, gimana menurut kalian? Masih worth it ngejar laptop AI kalau harganya selangit, atau mending stay di hardware lama sambil nunggu badai berlalu (yang entah kapan)?

Share pendapat kalian di kolom komentar ya! Jangan lupa cek harga RAM hari ini sebelum nangis besok.