Intel Gagal Lagi? Drama Akuisisi SambaNova Batal, Cuma Jadi 'Teman' Xeon
CPUs

Intel Gagal Lagi? Drama Akuisisi SambaNova Batal, Cuma Jadi 'Teman' Xeon

24 Februari 2026 | 6 Menit Baca | Dimas Aditya

Niat hati ingin membeli untuk mengejar ketertinggalan di ranah AI, Intel justru harus puas dengan kolaborasi dan investasi. Apakah ini tanda 'Team Blue' makin ngos-ngosan?

Jujur, sebagai orang yang tumbuh besar merakit PC dengan stiker “Intel Inside” yang ikonik itu, rasanya campur aduk melihat berita belakangan ini. Kalau kalian ngikutin perkembangan hardware beberapa tahun terakhir, pasti sadar kalau “Team Blue” ini lagi berdarah-darah, terutama di arena Artificial Intelligence (AI).

Nah, baru-baru ini ada kabar yang bikin saya tepuk jidat lagi. Intel, yang tadinya digadang-gadang bakal mengakuisisi SambaNova Systems—salah satu startup AI yang cukup hot—ternyata batal “membungkus” perusahaan tersebut.

Padahal, di atas kertas, ini harusnya jadi langkah strategis Intel buat catch up sama si “Jaket Kulit” (NVIDIA) yang makin nggak kekejar. Tapi kenyataannya? Intel harus puas cuma jadi investor dan partner kolaborasi. Downgrade yang lumayan kerasa, dari calon “pemilik” jadi cuma “teman tongkrongan”.

Mari kita bedah kenapa ini bisa kejadian dan apa efeknya buat peta persaingan CPU dan AI di masa depan.

”Friendzone” Korporat: Dari Akuisisi Jadi Kolaborasi

Awalnya, rumor yang beredar kencang adalah Intel mau beli SambaNova secara utuh. Ini masuk akal banget. Intel butuh teknologi inference AI yang matang, dan SambaNova punya itu. Bayangin kalau Intel berhasil beli mereka, portofolio AI Intel bakal langsung boosted.

Tapi, negosiasi itu ternyata layu sebelum berkembang. Bukannya tanda tangan surat pindah kepemilikan, Intel malah mengumumkan kalau mereka tetap akan menaruh uang di SambaNova, tapi dalam bentuk investasi pendanaan langsung.

CEO Intel, Pat Gelsinger, sebenarnya bukan orang baru bagi SambaNova. Sebelum balik ke Intel, Pat sudah pernah mendukung SambaNova lewat Walden Capital. Jadi, koneksinya ada. Tapi fakta bahwa dia nggak bisa (atau nggak mau) menggolkan akuisisi ini menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam.

Apa Itu SambaNova?

Buat yang belum familiar, SambaNova bukan pembuat chip sembarangan. Mereka fokus pada full-stack AI solutions, dari hardware sampai software, khusus untuk enterprise. Teknologi mereka jago banget di bagian Inference—proses di mana AI “menggunakan” apa yang sudah dipelajarinya untuk menjawab pertanyaan atau memproses data. Ini adalah area yang Intel sangat ingin kuasai karena pasar training AI sudah dikunci rapat oleh NVIDIA.

Jadi, alih-alih punya teknologi SambaNova, Intel sekarang cuma “meminjam” kapabilitas mereka. Kesepakatannya berubah menjadi kolaborasi strategis di mana model AI SambaNova akan dioptimalkan untuk berjalan di prosesor Intel Xeon.

Xeon Buat AI? Yakin Mampu?

Disini letak skeptis saya. Intel membanggakan bahwa kolaborasi ini akan membawa model foundational SambaNova ke ekosistem Xeon. Narasinya adalah “membawa AI ke mana-mana”.

Tapi kita harus realistis. Xeon itu CPU. Sekuat-kuatnya CPU server (mau Emerald Rapids atau Granite Rapids sekalipun), arsitekturnya beda jauh sama GPU atau NPU dedicated untuk beban kerja AI yang masif.

Memang, untuk inference yang ringan atau mixed workload, CPU masih relevan. Tapi kalau kita bicara soal Large Language Models (LLM) yang kompleks, membebankan semuanya ke Xeon itu ibarat maksa mobil sedan buat narik kontainer. Bisa jalan? Bisa. Efisien? Tanda tanya besar.

Intel Xeon untuk AI Workload

Arsitektur
x86 General Purpose
AI Acceleration
AMX (Advanced Matrix Extensions)
Target Market
CPU-based Inference & Enterprise
Limitasi Utama
Bandwidth Memory & Parallel Compute vs GPU

Intel sepertinya sadar mereka nggak bisa menang adu raw power di training melawan H100 atau Blackwell-nya NVIDIA. Jadi, strategi mereka bergeser ke inference berbasis CPU yang lebih murah dan tersedia luas. Masalahnya, apakah pasar mau?

Di Indonesia sendiri, banyak perusahaan yang masih pakai server berbasis Xeon. Jadi, mungkin ada niche di mana update software dari SambaNova ini berguna. Tapi buat tech enthusiast yang ngejar performa puncak? Ini bukan jawaban yang kita cari.

Sejarah yang Terulang: Intel Telat (Lagi)

Kalau kita zoom out sedikit, pola ini menyakitkan buat dilihat fans lama Intel.

  1. Era Mobile: Intel meremehkan prosesor hemat daya, akhirnya pasar smartphone dimakan habis sama ARM (Qualcomm, Apple, MediaTek).
  2. Era GPU Gaming: Intel telat masuk, Arc GPU baru muncul saat NVIDIA dan AMD sudah puluhan tahun perang.
  3. Era AI: Sekarang, di saat AI boom meledak, Intel terlihat bingung.

Keputusan untuk tidak mengakuisisi SambaNova ini terasa seperti Intel kehilangan kesempatan emas lagi. Padahal, Intel adalah salah satu dari sedikit penyedia compute yang belum benar-benar bisa mengkapitalisasi kegilaan AI ini.

Laporan keuangan mereka beberapa kuartal terakhir sudah jadi bukti kalau bisnis legacy PC dan Server x86 mereka mulai tergerus. Mereka butuh win yang besar. Akuisisi SambaNova harusnya jadi win itu. Tapi malah jadi sekadar “kerja sama”.

Realita Pasar AI Compute

Dominasi Pasar Training NVIDIA
🦖
Hampir Monopoli
Posisi Intel Catching Up
Low
Fokus ke CPU Inference & Gaudi

Pat Gelsinger sedang mencoba menambal kapal yang bocor sambil berlayar. Investasi langsung ke SambaNova mungkin cara dia bilang, “Oke, kita nggak bisa beli kalian, tapi tolong bantu jualan CPU Xeon kita biar kelihatan relevan di zaman AI.”

Apa Artinya Buat Kita?

“Terus apa hubungannya sama gue yang cuma main Valorant, Bang?”

Gini, Bro. Persaingan di level enterprise dan data center itu pada akhirnya bakal “netes” ke teknologi konsumen.

Kalau Intel terus-terusan kalah di segmen high-margin (AI dan Server), dana R&D mereka buat bikin prosesor desktop (Core Ultra series) bakal terpengaruh. Kita butuh Intel yang sehat dan kuat supaya ada kompetisi. Kalau Intel lemas, AMD dan NVIDIA bakal monopoli harga sesuka jidat. Kalian lihat sendiri kan harga GPU sekarang kayak gimana? Itu baru NVIDIA yang dominan, belum kalau AMD ikutan di atas angin di CPU.

Kegagalan akuisisi ini juga ngasih sinyal kalau Intel mungkin lagi “cekak” secara finansial, atau setidaknya sangat hati-hati mengeluarkan uang cash. Ini beda banget sama Intel 10 tahun lalu yang tinggal gesek kartu buat beli perusahaan manapun yang mereka mau.

Opini Dimas: Langkah Aman yang Membosankan

Menurut saya, langkah menjadikan SambaNova sekadar partner untuk Xeon adalah langkah yang “aman” tapi membosankan. Ini bukan langkah game-changer yang dibutuhkan Intel buat membalikkan keadaan.

Intel seperti pemain bola yang ragu-ragu mau shooting, akhirnya malah passing ke belakang. Aman, bola nggak hilang, tapi nggak bakal nge-gol-in juga.

Buat kalian yang pegang saham teknologi atau sekadar antusias PC, perhatiin terus gerak-gerik Intel setahun ke depan. Apakah kolaborasi Xeon + SambaNova ini beneran bisa bikin server Intel lebih pintar? Atau cuma gimmick marketing buat nutupin fakta kalau mereka belum punya jawaban nyata buat NVIDIA?

Kita lihat aja nanti pas benchmark keluar. Karena di channel ini, semanis apapun janji CEO, benchmark nggak pernah bohong.