Bukan Skynet, Tapi Dompet: Skenario Horor AI Agent Bikin Ekonomi Dunia 'Crash' dalam 2 Tahun
AI & ML

Bukan Skynet, Tapi Dompet: Skenario Horor AI Agent Bikin Ekonomi Dunia 'Crash' dalam 2 Tahun

23 Februari 2026 | 3 Menit Baca | Nabila Maharani

Lupakan robot pembunuh. Skenario terbaru memprediksi AI Agent justru bisa memicu kiamat ekonomi dengan melipatgandakan pengangguran. Simak bedah lengkapnya.

Pernah kepikiran kalau “kiamat AI” yang sesungguhnya itu bukan perang nuklir ala Terminator, tapi justru dompet yang mendadak kosong?

Baru-baru ini, sebuah laporan simulasi dari grup analis Citrini Research sukses bikin geger jagat teknologi. Mereka merilis skenario “imajiner” dari masa depan—tepatnya dua tahun lagi—di mana integrasi AI Agent secara massal justru memicu kehancuran ekonomi global.

Bukan main-main, simulasi ini menggambarkan dunia di mana pengangguran meroket dua kali lipat dan valuasi pasar saham terjun bebas lebih dari 33%. Penyebabnya? Bukan pemberontakan mesin, tapi efisiensi ekonomi yang kebablasan.

Lingkaran Setan Efisiensi (The Efficiency Death Spiral)

Inti dari laporan horor ini adalah konsep negative feedback loop atau lingkaran setan ekonomi. Biar gampang, bayangkan skenarionya begini:

  1. Fase Awal: Kemampuan AI meningkat pesat. Perusahaan sadar mereka bisa memangkas jumlah karyawan manusia dan menggantinya dengan AI Agent untuk tugas-tugas white collar (kantoran).
  2. Gelombang PHK: Pemecatan massal terjadi demi efisiensi.
  3. Dampak Konsumsi: Para pekerja yang kehilangan gaji otomatis berhenti belanja. Daya beli masyarakat turun drastis.
  4. Pendapatan Anjlok: Karena nggak ada yang belanja, pendapatan perusahaan ikut terjun bebas.
  5. Respon Panik: Demi menyelamatkan margin keuntungan di tengah pendapatan yang seret, apa yang dilakukan perusahaan? Mereka justru makin agresif investasi ke AI untuk memecat sisa karyawan yang ada demi menekan biaya operasional lebih dalam lagi.

Dan siklus itu berulang terus sampai ekonomi crash.

Simulasi Dampak Ekonomi (Skenario 2 Tahun)

Tingkat Pengangguran 2x Lipat
High
Lonjakan drastis akibat automasi
Valuasi Pasar Saham -33%
Low
Penurunan total value market

Ini adalah jenis bear case baru. Citrini Research berargumen bahwa ekonomi kita saat ini sebenarnya adalah rantai panjang taruhan pada pertumbuhan produktivitas manusia. Ketika mata rantai itu diputus oleh efisiensi AI yang “overdosis”, sistem fondasinya terancam kolaps.

Kiamat buat Vendor SaaS?

Yang paling ngeri, skenario ini menyoroti peran spesifik dari AI Agent. Kita nggak bicara soal ChatGPT biasa, tapi agen otonom yang bisa mengambil keputusan dan melakukan transaksi.

Laporan ini memprediksi AI Agent akan mengambil alih peran kontraktor pihak ketiga. Biasanya, perusahaan menyewa vendor atau pakai software mahal (SaaS) untuk mengurus hal-hal teknis. Tapi kalau punya AI Agent internal yang canggih, buat apa bayar vendor luar?

Death of SaaS?

Istilah “Death of SaaS” (Matinya Software as a Service) mulai didengungkan. Model bisnis B2B yang hidup dari “menjembatani” transaksi antar perusahaan terancam punah. Jika AI Agent bisa langsung negosiasi dengan AI Agent lain, siapa yang butuh sales manager atau software perantara?

Cuma Skenario atau Ramalan Masa Depan?

Perlu diingat, Citrini Research melabeli ini sebagai “skenario”, bukan kepastian. Tapi, bagian yang bikin banyak ahli ketar-ketir adalah logiknya yang sulit dibantah.

Mungkin kamu skeptis: “Emang berani perusahaan nyerahin keputusan duit sepenuhnya ke AI?”

Laporan itu punya jawaban menohok: Sebenarnya sudah. Banyak keputusan pembelian saat ini sudah diserahkan ke kontraktor pihak ketiga atau algoritma simpel. Menggantinya dengan AI Agent in-house yang lebih murah adalah langkah ekonomi yang sangat masuk akal bagi CEO yang mengejar profit jangka pendek.

Jadi, risiko terbesar AI mungkin bukan robot jahat yang mau menguasai dunia, tapi algoritma super-efisien yang secara tidak sengaja “mematikan” roda ekonomi karena saking hematnya. Ngeri, kan?