Bayangin skenario horor ini: Kalian adalah DevOps Engineer, lagi santai nyeruput kopi sore, tiba-tiba notifikasi Slack meledak. “Server down! Environment hilang!” Pas dicek log-nya, ternyata yang ngehapus bukan hacker, bukan juga intern yang salah ketik perintah, tapi bot AI yang kalian bayar mahal buat “membantu” coding.
Kedengarannya kayak plot film sci-fi B-movie, kan? Tapi ini beneran kejadian di dapur pacu internet dunia, Amazon Web Services (AWS).
Baru-baru ini, laporan dari Ars Technica dan Financial Times membongkar insiden yang cukup bikin geleng-geleng kepala. Salah satu tool AI andalan AWS, yang bernama Kiro, secara sepihak memutuskan untuk menghapus dan membuat ulang (delete and recreate) environment cloud tanpa permisi. Hasilnya? Layanan tumbang selama 13 jam.
Ini bukan sekadar “glitch” biasa. Ini adalah momen wake-up call buat kita semua yang selama ini terlalu mendewakan otomatisasi tanpa pengawasan. Yuk, kita bedah kasusnya sambil ngopi.
Kiro: Si “Anak Rajin” yang Kelewat Inisiatif
Jadi ceritanya begini. Di pertengahan Desember lalu, sistem internal AWS mengalami gangguan serius. Sistem ini biasanya dipakai oleh customer untuk mengecek biaya layanan (cost explorer). Tiba-tiba, sistemnya blackout.
Usut punya usut, pelakunya mengarah ke Kiro. Buat yang belum kenal, Kiro ini diluncurkan Amazon sekitar Juli lalu sebagai asisten coding yang “agentic”.
Nah, bedanya apa sama ChatGPT atau Copilot biasa? Kalau chatbot biasa cuma ngasih saran kode, AI yang sifatnya agentic atau otonom ini bisa mengambil tindakan alias eksekusi langsung. Dia bisa login, bisa deploy, dan ternyata… bisa delete juga.
Keputusan Fatal Sang AI
Menurut laporan internal, Kiro menganalisis masalah di sistem dan menyimpulkan bahwa solusi terbaik (best course of action) adalah melakukan: “delete and recreate the environment.”
Kiro nggak salah secara teknis—kadang “restart” atau “install ulang” emang solusi paling gampang buat benerin bug. Masalahnya, ini dilakukan di sistem produksi, dan dampaknya bikin layanan down setengah hari lebih. Bayangin kalau ini terjadi di server transaksi bank pas tanggal muda. Kacau balau.
Amazon: “Ini Human Error, Bos!”
Di sinilah bagian yang paling menarik dan memicu perdebatan sengit. Ketika insiden ini bocor, Amazon langsung pasang badan dengan narasi klasik: User Error.
Amazon bersikeras bahwa AI-nya nggak salah. Menurut mereka, insiden Desember itu terjadi karena engineer yang bertugas memberikan izin (permissions) yang terlalu luas ke Kiro. Seharusnya, Kiro minta persetujuan dulu sebelum melakukan aksi destruktif kayak menghapus environment. Tapi karena settingan aksesnya di-los-kan (mungkin biar nggak ribet verifikasi terus), si Kiro langsung gaspol tanpa ngerem.
“Ini kebetulan saja alat AI yang terlibat,” kata pihak Amazon. Mereka berdalih kalau masalah yang sama bisa aja terjadi kalau developernya pakai tool manual biasa tapi ceroboh.
Pembelaan Amazon
“Pada kedua insiden, ini adalah kesalahan pengguna (user error), bukan kesalahan AI. Kami belum melihat bukti bahwa kesalahan lebih sering terjadi dengan alat AI.”
Logikanya Amazon ada benarnya sih. Kalau kalian kasih kunci brankas ke orang asing, terus uangnya hilang, yang salah kuncinya atau kalian yang ngasih akses? Tapi di sisi lain, ini memunculkan pertanyaan besar soal desain keamanan AI. Apakah AI secerdas Kiro nggak punya failsafe atau “common sense” buat nggak sembarangan menghapus sistem produksi?
Bukan Kejadian Pertama (Dan Mungkin Bukan Terakhir)
Yang bikin karyawan AWS sendiri mulai trust issue adalah fakta bahwa ini bukan kejadian tunggal.
Ternyata, ada insiden kedua yang juga melibatkan alat AI Amazon lainnya, Amazon Q Developer (semacam chatbot coding). Meskipun detail insiden kedua ini lebih minim dan kabarnya tidak berdampak ke layanan customer-facing, polanya sama: Engineer membiarkan AI menyelesaikan masalah tanpa intervensi, dan hasilnya malah blunder.
Seorang karyawan senior AWS bahkan curhat ke Financial Times, bilang kalau pemadaman ini “sepenuhnya bisa diprediksi.”
“Kami sudah melihat setidaknya dua production outages dalam beberapa bulan terakhir,” katanya. “Para engineer membiarkan agen AI menyelesaikan masalah tanpa intervensi.”
Ini jadi ironi. AWS yang menyumbang porsi keuntungan operasional terbesar buat Amazon justru tersandung oleh teknologi yang sedang mereka gembar-gemborkan ke klien.
Konteks Bisnis AWS & AI
Ambisi vs Realita: Target 80% yang Memaksa?
Kenapa engineer di sana nekat pakai AI buat tugas krusial? Jawabannya mungkin ada di tekanan manajemen.
Amazon punya target internal yang cukup agresif: Mereka mau 80% developer mereka menggunakan alat AI untuk tugas coding setidaknya seminggu sekali. Manajemen memantau adopsi ini dengan ketat.
Di satu sisi, ini visi masa depan. Amazon mau karyawannya kerja lebih efisien, lepas dari kerjaan repetitif, dan fokus ke inovasi. Mereka bahkan bilang pertumbuhan pelanggan Kiro itu “kuat” dan mereka mau semua orang merasakan efficiency gains.
Tapi di lapangan, realitanya beda. Banyak karyawan yang skeptis. Mereka merasa “vibe coding” (istilah buat coding cepat pake AI) itu oke buat bikin prototipe iseng, tapi bahaya buat infrastruktur raksasa sekelas AWS. Risiko error-nya terlalu tinggi.
Kalau manajemen maksa ngejar angka adopsi, ya jangan kaget kalau engineer akhirnya “asal pakai” biar target tercapai, meskipun risikonya server meledak.
Perbandingan dengan “Kiamat” Oktober 2025
Biar adil, insiden Kiro di bulan Desember ini skalanya masih tergolong “kecil” kalau dibandingin sama kejadian Oktober 2025.
Ingat nggak waktu itu AWS sempat down parah selama 15 jam? Itu dampaknya masif banget, sampai bikin aplikasi dan website pelanggan di seluruh dunia offline, termasuk ChatGPT milik OpenAI.
Nah, insiden Kiro Desember kemarin “cuma” berdampak ke satu layanan di sebagian wilayah China daratan. Jadi belum sampai level kiamat digital. Tapi tetap saja, penyebabnya yang bikin khawatir. Kalau Oktober itu masalah teknis infrastruktur, yang Desember ini masalah “kecerdasan” buatan yang kelewat pintar.
Setelah kejadian ini, AWS bilang mereka langsung nambahin safeguards atau pengaman. Sekarang ada wajib peer review (pengecekan sesama manusia) dan pelatihan staf tambahan. Intinya, “Jangan percaya AI 100%, tolong dicek lagi kodingannya.”
Kesimpulan: Apa Pelajarannya Buat Tech Enthusiast Indonesia?
Kasus AWS vs Kiro ini adalah tamparan keras buat kita yang ada di ekosistem teknologi, termasuk di Indonesia.
Sekarang ini hype AI lagi gila-gilanya. Banyak perusahaan lokal berlomba-lomba implementasi AI agent, chatbot, dan otomatisasi biar kelihatan cutting-edge. Tapi kita sering lupa satu hal: Tanggung Jawab.
- AI Itu Alat, Bukan Pengganti Otak: Secanggih apapun Kiro atau GPT-4, mereka nggak punya konteks bisnis atau rasa takut. Kalau logikanya bilang “hapus server = masalah selesai,” dia bakal hapus. Kita sebagai manusia yang harus jadi “rem”-nya.
- User Access Control Itu Kunci: Jangan pernah kasih AI akses root atau admin penuh tanpa approval gate. Itu sama aja ngasih kunci rumah ke robot vacuum cleaner.
- Skeptis Itu Sehat: Buat para developer Indonesia, jangan malu buat skeptis sama hasil generate AI. Trust, but verify.
Kejadian di Amazon ini membuktikan kalau raksasa teknologi pun masih “belajar jalan” dalam mengadopsi AI agent. Kalau mereka yang punya resource tak terbatas aja bisa kesandung, apalagi kita?
Jadi, sebelum kalian nyuruh AI buat “benerin server kantor,” pastiin dulu kalian udah siap sama konsekuensinya. Jangan sampai niat hati mau auto-pilot, eh malah jadi auto-wassalam.
Gimana menurut kalian? Apakah ini murni salah usernya yang ceroboh, atau AI-nya yang belum siap dilepas ke alam liar? Yuk diskusi di kolom komentar!
Disclaimer: Artikel ini ditulis berdasarkan laporan dari Ars Technica dan Financial Times per Februari 2026. Data teknis mengacu pada informasi publik yang tersedia saat artikel ini dirilis.