Steam Deck Langka Gara-gara AI? Valve Mulai Kewalahan di 2026
Gaming

Steam Deck Langka Gara-gara AI? Valve Mulai Kewalahan di 2026

Published on 2026-02-19

Mau beli Steam Deck di 2026? Siap-siap gigit jari. Stok mulai ghoib, varian murah disuntik mati, dan biang keroknya ternyata bukan scalper.

Biasanya nih, kalau sebuah gadget sudah menginjak umur empat tahun, nasibnya cuma ada dua: harganya terjun bebas biar gudang kosong, atau ya memang sudah nggak relevan lagi. Tapi hukum alam elektronik ini sepertinya nggak berlaku buat Valve.

Di Februari 2026 ini, Steam Deck—handheld gaming PC yang mempopulerkan konsep “PC gaming dalam genggaman”—malah mengalami nasib aneh. Bukannya obral stok, Valve justru kewalahan memenuhi permintaan. Kalau kalian buka halaman store Steam sekarang, kemungkinan besar kalian bakal disambut tulisan “Out of Stock”.

Masalahnya bukan karena demand yang tiba-tiba meledak nggak masuk akal, tapi karena Valve kehabisan “bensin” di dapur produksinya. Kita sedang bicara soal krisis komponen global yang bikin raksasa sekelas Valve pun harus angkat tangan.

”Ghoib” Karena AI?

Jadi gini ceritanya. Awal bulan ini, Valve sebenarnya sudah kasih sinyal “SOS”. Mereka terpaksa menunda peluncuran dua produk hardware baru mereka: Steam Machine desktop and Steam Frame VR headset. Alasannya klasik tapi menyakitkan: kelangkaan memori (RAM) dan storage yang melanda industri PC sejak akhir 2025.

Nah, efek domino dari kelangkaan ini ternyata nggak cuma bikin produk baru tertunda, tapi juga “memakan” produk yang sudah ada. Steam Deck yang harusnya jadi cash cow mereka sekarang statusnya “intermittently out of stock” alias kadang ada, kadang hilang, tergantung keberuntungan region kalian.

⚠️
Peringatan Resmi Valve

“Perangkat akan kehabisan stok sewaktu-waktu di beberapa wilayah karena kekurangan memori dan penyimpanan.”

Situasinya cukup parah. Saat artikel ini ditulis, ketiga konfigurasi Steam Deck yang biasanya dipajang Valve nggak ada yang bisa dibeli. Bahkan unit refurbished resmi yang biasanya jadi incaran pemburu diskon juga ludes. Valve benar-benar kehabisan peluru.

Selamat Tinggal, Steam Deck Murah

Ada satu kabar buruk lagi yang terselip di tengah krisis ini. Buat kalian yang selama ini menunda beli Steam Deck karena nunggu harga turun atau nargetin varian termurah, bad news: pintu itu sudah tertutup.

Varian LCD 256GB, yang selama ini jadi gerbang masuk termurah ke ekosistem SteamOS, resmi disuntik mati. Valve memang sudah bilang sejak Desember lalu kalau mereka setop produksi versi LCD dan nggak bakal restock kalau barangnya habis. Nah, sekarang barangnya beneran habis.

Apa artinya ini buat dompet kita?

Kenaikan Harga Entry-Level (De Facto)
$150
↗︎ Harga termurah naik dari $399 (LCD) ke $549 (OLED 512GB) karena varian murah habis.

Yap, “biaya masuk” untuk punya Steam Deck baru sekarang melonjak drastis. Karena varian $399 sudah almarhum, opsi termurah kalian sekarang adalah model OLED 512GB seharga $549. Model 1TB masih anteng di $649. Untungnya, Valve belum naikin harga model OLED (setidaknya belum), tapi hilangnya opsi murah ini jelas pukulan telak buat budget gamer.

Kenapa Bisa Langka Padahal Barang Lama?

Mungkin kalian mikir, “Lho, Steam Deck kan pakai jeroan lama? Kok bisa kena imbas juga?”

Jawabannya ada di satu kata kunci yang lagi hype banget dua tahun terakhir: AI. Industri Artificial Intelligence butuh memori dan flash storage dalam jumlah yang gila-gilaan. Permintaan yang staggering dari perusahaan AI bikin suplai chip RAM dan SSD di pasar global tersedot habis. Prediksinya, kondisi rebutan komponen ini bakal lanjut sampai akhir 2026.

Valve, meskipun punya Steam, tetaplah pemain hardware yang “kecil” kalau harus rebutan jatah chip memori sama raksasa AI. Waktu yang sangat tidak tepat, mengingat Steam Deck sebenarnya lagi sukses-suksesnya menggerogoti dominasi Windows di pasar gaming PC lewat teknologi Proton mereka.

Masih Layakkah di 2026?

Di usia empat tahun, hardware Steam Deck sebenarnya sudah masuk kategori “sepuh”. Di luar sana sudah bertebaran handheld dengan chip Ryzen Z1 and Z2 yang secara teori jauh lebih ngebut, layar resolusi tinggi, dan fitur-fitur kekinian lainnya.

Tapi, ada tapinya. Chip semi-custom AMD di Steam Deck itu unik. Meskipun di atas kertas kalah raw power sama chip baru, optimalisasi SteamOS bikin performanya masih sangat compelling alias menggoda, apalagi kalau kita bicara efisiensi baterai di model OLED.

Banyak handheld pesaing yang harganya jauh di atas $549. Jadi, meskipun “tua”, Steam Deck OLED masih punya value proposition yang kuat. Sayangnya, sebagus apapun barangnya, percuma kalau nggak bisa dibeli, kan?

🔧 Steam Deck OLED (2026 Status)

Availability Sangat Terbatas / Ghoib
Entry Price $549 (OLED 512GB)
Status LCD Model Discontinued / Sold Out
Kompetitor OS Lenovo Legion Go S (SteamOS Native)

Alternatif Buat yang Nggak Sabaran

Kalau kalian ngebet pengen handheld PC tapi nggak mau nunggu Valve membereskan masalah rantai pasokan mereka (atau nggak mau payar harga scalper), opsinya sekarang beralih ke tetangga.

Menariknya, dominasi SteamOS mulai meluas keluar dari kandang Valve. Lenovo Legion Go S sekarang jadi satu-satunya handheld pihak ketiga yang shipping langsung dengan SteamOS. Ini opsi paling masuk akal kalau kalian mau experience konsol ala Valve tapi pakai hardware merek lain.

Buat yang hobi ngoprek, Valve juga sudah membuka dukungan beta SteamOS buat Lenovo Legion Go (versi standar), Asus ROG Ally, and ROG Ally X. Bahkan tim Ars Technica sukses instal SteamOS di berbagai laptop dan desktop AMD.

Tapi ingat, kalau kalian berniat rakit “Steam Machine” sendiri, hati-hati milih GPU. Pengujian terbaru menunjukkan kalau GPU dengan VRAM cuma 8GB mulai ngos-ngosan jalanin game di SteamOS dibanding di Windows. Jadi pastikan spek kalian mumpuni.

Kesimpulan: Apa Kabar Indonesia?

Buat kita di Indonesia, berita ini adalah sinyal waspada. Kita tahu sendiri, distribusi resmi Steam Deck di sini saja masih lewat jalur “abu-abu” atau importir umum, bukan resmi dari Valve.

Ketika stok global di AS dan Eropa saja seret, dampaknya ke Indonesia bakal lebih terasa:

  1. Harga Bakal Naik: Stok yang menipis di suplier luar negeri bakal bikin harga di marketplace lokal (Tokopedia/Shopee) merangkak naik. Hukum supply and demand berlaku kejam di sini.
  2. Varian LCD Jadi Barang Koleksi: Kalau kalian masih nemu Steam Deck LCD baru dengan harga wajar di toko lokal, sikat sekarang. Itu barang sisa yang nggak akan diproduksi lagi.
  3. Waktunya Lirik Bekas: Pasar second mungkin bakal jadi penyelamat buat yang budget-nya mentok di angka 5-6 jutaan rupiah.

Intinya, 2026 ini bukan tahun yang ramah buat beli hardware Valve. Padahal kita semua berharap tahun ini kita bisa lihat Steam Deck 2, eh malah disuruh rebutan stok lama sama bot AI. Nasib, nasib.