Oke, teman-teman. Kita perlu duduk dan ngobrol serius soal peta persaingan AI di awal tahun 2026 ini. Kalau kalian masih berpegang teguh pada keyakinan bahwa Apple selalu “datang belakangan tapi paling sempurna”, berita hari ini mungkin bakal bikin iman kalian sedikit goyah.
Jujur saja, kontras antara apa yang baru saja dirilis Apple untuk Apple Music dan apa yang dipamerkan Google minggu ini itu… jomplang banget. Ibaratnya, Apple baru belajar jalan, Google sudah lari maraton sambil juggling.
Kita baru saja melihat update iOS 26.4, dan di sisi lain, Google melepaskan “monster” bernama Lyria 3. Mari kita bedah kenapa banyak pengamat teknologi bilang Apple Music barusan dipermalukan oleh Google.
Apple Music: Cuma Sekadar Playlist Pintar?
Jadi begini ceritanya. Di update iOS 26.4 yang baru saja meluncur, Apple dengan bangga memperkenalkan fitur AI baru di Apple Music. Fiturnya apa? Kalian bisa mengetik prompt teks, lalu AI akan membuatkan playlist yang sesuai dengan mood atau deskripsi tersebut.
Keren? Ya, lumayan. Revolusioner? Big No.
Masalahnya, fitur kurasi playlist berbasis teks ini rasanya seperti fitur yang “seharusnya” sudah ada sejak era ledakan AI generatif pertama kali beberapa tahun lalu. Kita bicara soal AI yang cuma memilih lagu yang sudah ada, lalu menumpuknya dalam satu daftar. Mekanismenya cuma mencocokkan metadata lagu dengan kata kunci yang kalian ketik.
Realita Fitur Baru Apple
Di iOS 26.4, kemampuan AI Apple Music sebatas “kurator”. Kamu ketik ide tema, dia kasih daftar lagu. Tidak ada konten baru yang diciptakan, hanya pengorganisasian ulang database lagu yang sudah ada.
Fans Apple mungkin akan bilang, “Yah, setidaknya ini memudahkan.” Betul, tapi kalau kita lihat ke “tetangga sebelah”, apa yang dilakukan Apple ini terasa seperti mainan anak TK.
Google Lyria 3: Levelnya Beda Universe
Sementara Apple sibuk menyusun daftar lagu, Google baru saja pamer otot dengan model Lyria 3. Dan ini bukan sekadar algoritma rekomendasi. Google Lyria 3 adalah mesin generative murni.
Kalau Apple Music mencarikan lagu buat kalian, Google Lyria 3 menciptakan lagu buat kalian.
Model terbaru ini bisa menerima input berupa teks atau bahkan gambar, lalu mengubahnya menjadi trek musik berdurasi 30 detik dari nol. Google kasih contoh yang cukup spesifik dan lucu: “a comical R&B slow jam about a sock finding their match” (lagu R&B pelan yang jenaka tentang kaos kaki yang menemukan pasangannya).
Hasilnya? Dalam hitungan detik, Gemini (otak di balik Lyria 3) menerjemahkan ide abstrak itu menjadi audio berkualitas tinggi yang catchy.
🔧 Komparasi Kemampuan AI Audio (Feb 2026)
| Apple Music AI | Playlist Curation (Sorting) |
| Google Lyria 3 | Audio Generation (Creating) |
| Input Apple | Text Prompts |
| Input Google | Text & Image Prompts |
| Output | Google creates 30s tracks from scratch |
Bukan cuma teks, kalian bahkan bisa upload foto dan minta Gemini mengambil inspirasi dari sana untuk bikin lagu. Ini yang saya maksud dengan “adu mekanik”. Di saat Apple masih berkutat dengan search query yang dipercantik, Google sudah masuk ke ranah kreasi seni digital yang kompleks. Meskipun Lyria 3 ini statusnya masih Beta, gap teknologinya terasa sangat nyata.
Siri yang “Ngos-ngosan” Mengejar Ketertinggalan
Konteks ini jadi makin nyesek buat Apple kalau kita tarik garis ke asisten pintar mereka, Siri. Kita semua tahu Siri butuh “operasi plastik” besar-besaran biar bisa relevan lagi.
Harapan besar sempat muncul untuk tahun ini. Rumornya, Apple akan merilis Siri versi baru yang di-back-up oleh Gemini. Fitur-fitur yang dijanjikan sebenarnya manis banget: kesadaran konteks personal, in-app actions (Siri bisa ngerjain tugas di dalam aplikasi), dan on-screen awareness (Siri tahu apa yang lagi kamu lihat di layar).
Tapi, lagi-lagi ada kabar kurang sedap. Mark Gurman dari Bloomberg, yang biasanya bocorannya akurat, bilang kalau peluncuran Siri baru ini mengalami hambatan alias “snags”.
Alih-alih rilis sekaligus sebagai paket lengkap yang “boom”, Apple terpaksa merilis fitur-fitur canggih ini secara bertahap sepanjang tahun. Jadi, jangan harap langsung dapat pengalaman futuristik instan di update berikutnya.
Plot Twist: Apple Pakai Otak Google?
Nah, ini bagian yang paling menarik buat para geeks. Ada indikasi kuat bahwa Apple sebenarnya tahu mereka kalah cepat di sisi infrastruktur AI.
Laporan menyebutkan bahwa perbaikan substansial baru akan benarbenar terasa di iOS 27 nanti. Di update masa depan itu, Apple kabarnya akan meluncurkan “Siri Chatbot” yang didedikasikan khusus. Dan tebak mesinnya jalan di mana?
Kemungkinan besar, chatbot Siri ini akan berjalan di atas infrastruktur cloud milik Google dan menggunakan TPU (Tensor Processing Unit) Google. Apple kabarnya akan menyewa server Google untuk menjalankan model AI mereka sendiri.
Model internal Apple ini disebut Apple Foundation Models version 11 (AFM v11). Konon, model ini dirancang untuk bisa bersaing dengan Gemini 3. Tapi ironisnya, untuk menjalankannya, Apple sepertinya masih butuh bantuan “power” dari sang rival abadi.
Rumor Infrastruktur iOS 27
Siri Chatbot di masa depan diprediksi akan menggunakan ‘Apple Foundation Models version 11’. Namun, backend-nya kemungkinan besar menumpang pada infrastruktur Cloud dan TPU milik Google karena kapasitas server Apple sendiri belum memadai untuk skala AI generatif masif.
Apa Artinya Buat Kita di Indonesia?
Oke, kita tarik napas dulu. Apa sih relevansinya berita “pertarungan raksasa” ini buat kita pengguna gadget di Indonesia?
Pertama, buat pengguna iPhone, kalian harus manage expectation. Fitur AI “ajaib” yang mungkin kalian lihat di demo Google Pixel atau Samsung Galaxy terbaru, mungkin belum akan mampir ke iPhone kalian dalam bentuk yang sematang itu dalam waktu dekat. Fitur playlist di iOS 26.4 itu asik, tapi bukan game changer.
Kedua, ini menunjukkan betapa Google sangat agresif memosisikan diri sebagai leader di AI kreatif. Buat konten kreator atau musisi iseng, tools seperti Lyria 3 (kalau nanti dirilis publik secara luas) bakal jadi mainan yang jauh lebih seru daripada sekadar minta tolong AI susun lagu galau.
Ketiga, fakta bahwa Apple mungkin menyewa infrastruktur Google menunjukkan bahwa di era AI, data center dan chip pemrosesan AI (TPU/GPU) adalah “minyak baru”. Siapa yang punya infrastrukturnya, dia yang pegang kendali.
Kesimpulannya? Google Lyria 3 minggu ini sukses bikin fitur AI Apple Music terlihat seperti fitur beta. Apple punya PR raksasa buat ngejar ketertinggalan ini sebelum iOS 27 rilis. Kalau enggak, label “HP mahal tapi kurang pintar” bakal makin lengket. Kita tunggu saja apakah Siri versi baru nanti bisa membalikkan keadaan, atau malah makin bergantung sama Google.
Gimana menurut kalian? Tim yang sabar nunggu Apple, atau mulai tergoda pindah ke Pixel? Coba kasih pendapat di kolom komentar!