Hardisk Kaca Microsoft: Tahan 10.000 Tahun, Anti Air, Tapi Ada Satu Masalah Besar...
Hardware

Hardisk Kaca Microsoft: Tahan 10.000 Tahun, Anti Air, Tapi Ada Satu Masalah Besar...

Published on 2026-02-19

Lupakan SSD atau HDD. Microsoft Project Silica menjanjikan penyimpanan data abadi dalam lempengan kaca. Tahan air, tahan panas, tapi nulis datanya bikin elus dada.

Jujur aja, seberapa sering kita parno hardisk eksternal tiba-tiba “bunyi” atau SSD mendadak corrupt padahal baru dipake setahun? Kita hidup di era di mana kita memproduksi data gila-gilaan, tapi media penyimpanannya justru makin rentan. Hardisk mekanikal itu rapuh, SSD punya batas umur write cycle, dan tape magnetic butuh perawatan khusus.

Nah, Microsoft lewat divisi risetnya (Microsoft Research) baru aja pamer sesuatu yang kedengeran kayak fiksi ilmiah tapi beneran kejadian. Namanya Project Silica.

Intinya sederhana tapi ambisius: mereka mau nyimpen data di dalam kaca. Bukan kaca jendela biasa, tapi kaca kuarsa (silica) yang dimodifikasi. Klaimnya nggak main-main, data yang disimpen di sini bisa bertahan 10.000 tahun. Ya, lu nggak salah baca. Sepuluh ribu tahun.

Tapi, seperti biasa di dunia teknologi, nggak ada solusi yang sempurna. Ada harga mahal (secara teknis) yang harus dibayar buat keabadian ini. Yuk, kita bedah bareng-bareng mekanismenya.

Kaca: Bukan Sekadar Jendela

Selama ini kita mikir kaca itu barang pecah belah. Kalo jatoh, ya wasalam. Tapi, dalam konteks materials science, kaca itu kategori material yang luas banget. Kaca yang dipake Microsoft di sini diklaim “thermally and chemically stable”.

Artinya apa? Lempengan kaca ini tahan terhadap fluktuasi suhu ekstrem, nggak bakal rusak kena air (kelembapan), dan yang paling penting buat data center: kebal terhadap interferensi elektromagnetik (EMI). Lu mau taruh magnet segede gaban di sebelahnya pun, datanya aman.

💡
Mitos Kaca Meleleh

Banyak yang percaya mitos kalo kaca itu sebenernya cairan yang sangat kental dan bakal “mengalir” ke bawah setelah berabad-abad (makanya jendela gereja tua tebal di bawah).

Menurut peneliti Project Silica, itu mitos. Kaca jenis ini stabil secara fisik. Jadi, jangan bayangin data lu bakal “lumer” setelah 500 tahun disimpan.

Masalah utama dari nyimpen data di kaca sebenarnya cuma satu: gimana cara nulisnya? Kaca itu keras. Kita nggak bisa pake jarum magnet kayak HDD atau transistor listrik kayak SSD. Kita butuh sesuatu yang jauh lebih presisi dan destruktif dalam skala mikro. Jawabannya: Femtosecond Lasers.

Laser Femtosecond: Mengukir Cahaya

Di sinilah letak “magic”-nya. Microsoft menggunakan laser femtosecond—laser yang nembakin pulsa cahaya super cepat, cuma berlangsung 10^-15 detik.

Laser ini nggak cuma “menggores” permukaan kaca. Dia menembus masuk ke dalam (internal) lempengan kaca dan mengubah struktur fisiknya di titik fokus yang sangat kecil. Titik data ini disebut Voxel (3D Pixel).

Dalam publikasi terbarunya di Nature, Microsoft menjelaskan dua metode penulisan yang mereka uji buat sistem ini. Ini penting banget buat dipahami karena beda metode, beda hasil kapasitasnya.

1. Metode Birefringence (Polarisasi)

Ini metode yang lebih fancy. Laser menembak dua kali. Tembakan pertama bikin lubang lonjong (void), tembakan kedua pake polarisasi cahaya buat bikin efek birefringence.

  • Cara kerja: Data dibaca berdasarkan orientasi lubang lonjong tersebut. Karena orientasinya bisa macem-macem, satu voxel bisa nyimpen lebih dari 1 bit data.
  • Kelebihan: Densitas data gila-gilaan. Bisa muat banyak banget di ruang sempit.
  • Kekurangan: Butuh kaca kualitas super tinggi dan optik yang ribet.

2. Metode Indeks Bias (Refractive Index)

Ini metode alternatif yang lebih “merakyat”. Laser cuma ngubah seberapa kuat cahaya dibelokkan (refraksi) dengan ngatur energi laser.

  • Cara kerja: Variasi energi laser bikin perubahan indeks bias yang beda-beda. Lagi-lagi, satu voxel bisa nyimpen beberapa state (multibit).
  • Kelebihan: Hardware lebih simpel, bisa jalan di berbagai jenis material transparan (nggak harus kaca super mahal).
  • Kekurangan: Kapasitas maksimalnya lebih rendah dibanding metode pertama (sekitar 2 Terabyte per lempeng).

🔧 Spesifikasi Lempengan Project Silica

Dimensi Fisik 12 cm x 12 cm x 0.2 cm
Kapasitas Maksimal Hingga 4.84 Terabyte (Metode Birefringence)
Daya Tahan Data > 10.000 Tahun
Konsumsi Energi 0 Watt (Saat penyimpanan/idle)

Cara Bacanya? Pake Mikroskop dan AI!

Oke, data udah ditulis. Terus cara bacanya gimana? Lu nggak bisa masukin kaca ini ke DVD-ROM drive.

Microsoft pake sistem mikroskop yang dikendalikan komputer. Mikroskop ini bakal “ngintip” ke dalam lapisan kaca. Karena datanya ditumpuk berlayer-layer di dalam kaca setebal 2mm, tantangannya adalah gimana caranya baca satu layer tanpa keganggu bayangan dari layer di atas atau bawahnya.

Solusinya: Convolutional Neural Network (AI).

Sistem mikroskop bakal ngambil gambar dari layer yang difokuskan, plus gambar dari layer di sekitarnya. Terus, AI yang udah dilatih bakal misahin noise dan gangguan visual dari layer tetangga buat menerjemahkan voxel tadi jadi data biner lagi. Tanpa AI, citra yang ditangkep mikroskop bakal terlalu buram atau tumpang tindih buat dibaca secara akurat.

Sistem decoding-nya juga pake error correction yang sama kayak jaringan 5G (Low-Density Parity-Check). Jadi kalo ada goresan dikit atau noise, data aslinya masih bisa diselamatin.

Masalah Terbesar: Nulisnya Lama Banget!

Sampai sini kedengerannya sempurna, kan? Tapi tunggu dulu. Ada satu bottleneck alias hambatan besar yang bikin teknologi ini belum bisa ngegantiin SSD lu besok pagi.

Kecepatan tulisnya (Write Speed) lambat.

Microsoft udah bikin hardware khusus yang bisa nembakin 4 laser sekaligus ke satu lempeng kaca. Keren? Lumayan. Tapi tau nggak dapet speed-nya berapa? Cuma 66 Megabits per second (Mbps).

Buat perspektif, 66 Mbps itu kayak kecepatan download internet rumahan standar. Kalo lu mau ngisi penuh satu lempengan kaca kapasitas 4.84TB dengan kecepatan segitu, lu butuh waktu sekitar 150 jam. Itu hampir seminggu cuma buat burning satu keping kaca!

No data provided

Tim peneliti bilang mereka bisa aja nambahin sampe 12 laser paralel buat naikin speed-nya. Tapi tetep aja, ini bukan teknologi buat consumer yang mau backup foto liburan secara instan. Ini teknologi buat “Write Once, Read Never (or rarely)”.

Relevansi: Siapa yang Butuh Ini?

Microsoft ngasih contoh kasus penggunaan nyata: Teleskop Square Kilometer Array. Proyek astronomi ini diprediksi bakal ngehasilin 700 Petabytes data arsip tiap tahun.

Kalo pake Project Silica:

  1. Lu butuh 140.000 lempeng kaca per tahun.
  2. Karena write speed-nya lelet, lu butuh 600 mesin Project Silica jalan barengan non-stop cuma buat ngejar setoran data harian teleskop itu.

Angka yang gila, kan? Tapi di sisi lain, kalau data itu disimpen di Hardisk biasa, lu butuh listrik buat muterin piringannya, butuh AC buat dinginin ruang servernya, dan harus ganti hardisk tiap 3-5 tahun sekali karena rusak.

Kaca Silica ini? Setelah ditulis, lu bisa taruh di gudang tanpa listrik, tanpa AC, dan dia bakal anteng di sana selama 10.000 tahun. Zero energy maintenance. Ini yang bikin dia menarik banget buat arsip sejarah, data pemerintahan, atau “harta karun” pengetahuan manusia.

Opini: Cocok Buat Indonesia?

Sebagai negara tropis dengan kelembapan udara yang “jahat” banget buat barang elektronik, teknologi ini sebenernya relevan banget buat Indonesia.

Bayangin Arsip Nasional kita. Dokumen sejarah, film lama, data kependudukan, itu semua rentan banget sama jamur dan oksidasi kalau disimpen pake metode konvensional (kertas atau pita magnetik). Hardisk di data center Jakarta atau Surabaya harus idup 24 jam di ruangan ber-AC dingin biar nggak kepanasan. Boros energi.

Kalo Project Silica ini udah mateng, ini bisa jadi solusi “Green Storage” yang pas. Kita bisa nyimpen data penting bangsa ini di lempengan kaca, taruh di rak biasa, dan nggak perlu khawatir soal tagihan listrik atau kelembapan udara.

Emang sih, nulisnya lama. Tapi buat data yang sifatnya archive (disimpen buat anak cucu), nunggu seminggu buat nulis 4TB rasanya worth it dibanding resiko datanya ilang dimakan zaman. Microsoft mungkin agak overselling kalo bilang ini solusi buat semua orang, tapi buat kebutuhan spesifik, ini jelas masa depan yang cerah—secerah kaca.

Gimana menurut kalian? Rela nunggu 150 jam buat backup data, asal datanya abadi?


Dikutip dan diolah dari laporan Ars Technica dan Jurnal Nature (2026).