Jujur aja, siklus rilis smartphone belakangan ini makin kerasa kayak deja vu. Kalian pernah nggak sih ngeliat HP baru rilis, terus reflek bilang, “Lho, ini bukannya HP yang gue pegang sekarang?” Nah, perasaan itulah yang bakal kalian rasakan waktu ngeliat Google Pixel 10a.
Google baru aja membuka keran pre-order untuk jagoan budget mereka ini, yang bakal resmi mendarat di pasaran tanggal 5 Maret 2026 nanti. Harganya? Masih “sopan” di angka $499 (sekitar Rp 7-8 jutaan kalau kurs lagi bersahabat, belum pajak masuk ya).
Tapi, ada satu hal yang bikin garuk-garuk kepala. Kalau kalian berharap Pixel 10a ini bakal jadi lonjakan teknologi yang masif dari Pixel 9a, mending turunin ekspektasi sekarang juga. Google tampaknya lagi main aman—atau mungkin terlalu aman—dengan strategi “Sidegrade” alias upgrade tipis-tipis yang nyaris nggak kerasa.
Desain: Akhirnya Rata Tanah!
Oke, kita mulai dari yang positif dulu. Hal pertama yang bakal kalian notice—atau justru nggak notice—adalah bagian belakangnya. Inget kan tonjolan kamera Pixel yang ikonik itu? Di Pixel 9a, Google udah mulai ngeratain bump-nya, dan di Pixel 10a ini, mereka nekat bikin benar-benar rata (flush) dengan bodi belakang.
Ini perubahan visual yang cukup radikal buat lini Pixel yang biasanya bangga banget sama “visor” kameranya. Buat kalian yang hobi naruh HP di meja tanpa casing, ini kabar gembira. Nggak ada lagi drama HP goyang-goyang pas lagi ngetik.
Materialnya gimana? Google masih setia sama kombinasi rangka aluminium (100% daur ulang, nice) dan bodi belakang plastik (81% daur ulang). Jadi, kalau dipegang mungkin nggak sedingin kaca premium, tapi jelas lebih tahan banting.
Material Daur Ulang
Layar: Peningkatan yang Ditunggu-tunggu
Masuk ke sektor layar, akhirnya Google sadar diri. Selama ini seri A sering dikasih kaca pelindung “jadul” Gorilla Glass 3 yang udah berumur lebih dari satu dekade. Nah, di Pixel 10a, mereka lompat jauh ke Gorilla Glass 7i.
Kenapa ini penting? Karena Gorilla Glass 3 itu emang tahan gores, tapi ringkih kalau jatoh. Versi 7i ini diklaim punya proteksi jatuh dan goresan yang jauh lebih balanced. Selain itu, tingkat kecerahan layar juga didongkrak.
- Pixel 9a: 2.700 nits (peak)
- Pixel 10a: 3.000 nits (peak)
Angka 3.000 nits ini setara sama Pixel 10 versi reguler, lho. Jadi buat dipakai di bawah matahari Jakarta jam 12 siang, konten di layar pOLED 6,3 incinya bakal tetep nampol.
Jeroan: Mesin Tua di Bodi Baru?
Nah, ini dia bagian yang bikin kaum tech enthusiast mengernyitkan dahi. Biasanya, seri A itu mewarisi chipset dari kakak-kakaknya yang rilis beberapa bulan sebelumnya. Harusnya, Pixel 10a pake Tensor G5 dong?
Sayangnya, tidak.
Tensor G4 Masih Bertahan
Google memutuskan untuk tetap menggunakan chipset Tensor G4 di Pixel 10a. Chipset yang sama persis dengan yang dipakai di Pixel 9a tahun lalu. Padahal, Tensor G5 digadang-gadang sebagai lompatan performa yang signifikan.
Kenapa Google pelit amat? Alasannya klasik: “menyeimbangkan harga dan performa.” Di tahun 2026 ini, harga komponen kayak RAM dan storage lagi gila-gilanya karena kelangkaan supply. Biar harganya tetap kekunci di $499, Google terpaksa mengorbankan upgrade chipset.
Efeknya apa? Ya, performanya bakal 11-12 sama Pixel 9a. Bukan berarti lemot, Tensor G4 masih sangat capable buat harian dan AI task, tapi jangan harap ada lonjakan performa gaming atau efisiensi daya yang drastis kayak di Tensor G5.
Biar lebih jelas bedanya (atau samanya), coba cek perbandingan spek di bawah ini:
🔧 Technical Specifications
No specifications provided
Kamera: “If It Ain’t Broke…”
Kalian nunggu upgrade sensor kamera? Siap-siap kecewa. Pixel 10a membawa setingan kamera yang identik dengan pendahulunya:
- 48 MP Utama (f/1.7, OIS)
- 13 MP Ultrawide (f/2.2)
- 13 MP Selfie
Tapi ingat, ini Pixel. Magic-nya bukan cuma di hardware, tapi di software. Walaupun spek di atas kertas sama, Pixel 9a kemarin masih jadi salah satu opsi fotografi mobile terbaik di kelasnya. Dengan algoritma Google yang makin matang di Android 16, hasil fotonya pasti tetap cakep khas Pixel—kontras tinggi, HDR ciamik, dan shutter yang responsif.
Cuma ya itu tadi, rasanya kurang greget aja nggak ada fitur baru atau sensor yang lebih gede di tahun 2026 ini.
Baterai & Konektivitas: Upgrade Tipis-Tipis
Sektor daya ada peningkatan sedikit. Wired charging naik kelas dari 23W ke 30W. Oke, ini belum secepat charging 120W punya brand sebelah, tapi setidaknya nggak “siput” banget lah. Wireless charging juga naik jadi 10W, meski sayangnya belum ada magnet Qi2 ala MagSafe.
Kapasitas baterai tetap badak di 5.100 mAh. Dikombinasikan dengan layar 60-120Hz yang adaptif, daya tahannya mestinya aman banget buat seharian penuh.
Satu hal menarik yang luput dari perhatian banyak orang: Bluetooth 6.0. Ini teknologi baru banget. Walaupun chipsetnya lama, entah gimana Google nyelipin modul konektivitas terbaru ini. Plus, masih ada slot SIM Card fisik! Ini krusial banget buat kita di Indonesia atau traveler yang lebih suka beli kartu lokal fisik daripada ribet scan eSIM.
Kenapa Google Melakukan Ini?
Pertanyaannya, kenapa Pixel 10a ini nanggung banget? Selain masalah harga komponen yang tadi kita bahas, ada dugaan strategi marketing.
Kalau Pixel 10a dikasih Tensor G5 dan fitur kamera baru, dia bakal jadi terlalu bagus. Ingat, Pixel 10 harganya $800. Kalau Pixel 10a yang harganya $499 punya performa yang mirip, siapa yang mau beli kakaknya? Dengan menahan performa seri A, Google secara nggak langsung bikin Pixel 10 terlihat lebih premium dan eksklusif.
Kesimpulan: Buat Siapa HP Ini?
Pixel 10a ini posisi-nya agak tricky. Buat pengguna Pixel 9a, JANGAN UPGRADE. Serius, buang-buang duit. Perbedaannya terlalu minim buat dirasain sehari-hari.
Tapi, buat kalian yang masih pake Pixel 6a, 7a, atau bahkan baru mau hijrah dari brand lain dan pengen ngerasain software experience murni Google + jaminan update OS 7 tahun, Pixel 10a adalah gerbang masuk yang paling masuk akal.
Harganya $499 itu sweet spot. Di AS sana, ini killer deal. Tapi buat kita di Indonesia? Masalahnya klasik: Pajak & IMEI. Kalau kalian impor sendiri, harganya bisa melambung jadi 8-9 jutaan. Di titik harga segitu, kalian udah bisa dapet flagship killer resmi di Indonesia dengan garansi jelas dan charging ngebut.
Pixel 10a tersedia dalam warna Lavender, Fog, Obsidian, dan warna baru “Berry”. Kalau kalian emang “anak Pixel” garis keras yang butuh HP cadangan atau daily driver yang reliable tanpa mikirin benchmark Antutu, Pixel 10a masih punya pesonanya sendiri.
Gimana menurut kalian? Apakah desain kamera rata dan layar lebih terang cukup buat nebus “dosanya” pake chipset tahun lalu? Atau mending sekalian nabung buat Pixel 10? Yuk, diskusi di kolom komentar!