Kiamat RAM di Depan Mata: Bos Phison Peringatkan Kebangkrutan Massal di 2026
Hardware

Kiamat RAM di Depan Mata: Bos Phison Peringatkan Kebangkrutan Massal di 2026

Published on 2026-02-19

Bukan sekadar harga naik, kelangkaan RAM kali ini diprediksi bisa 'membunuh' lini produk bahkan perusahaan teknologi di paruh kedua 2026. Siap-siap barang ghoib lagi?

Oke, tarik napas dulu. Kalian masih ingat kan mimpi buruk harga GPU waktu era mining kripto dulu? Di mana harga VGA kelas menengah bisa buat beli motor bekas? Nah, siap-siap déjà vu, tapi kali ini aktor utamanya bukan VGA, melainkan RAM.

Dan kabar buruknya, ini bukan cuma soal harga yang bakal bikin dompet jebol. Kita bicara soal skenario yang jauh lebih gelap: produk yang batal rilis, stok yang kosong melompong, sampai perusahaan teknologi yang mungkin gulung tikar cuma gara-gara nggak kebagian jatah memori.

Ini bukan clickbait. Peringatan ini datang langsung dari “orang dalam” industri yang posisinya krusial banget. Pua Khein-Seng, CEO dari Phison—yakni perusahaan di balik otak (controller) SSD kalian—baru saja kasih sinyal bahaya “SOS” buat industri hardware global.

Phison: “Ini Bakal Jadi Bencana di Paruh Kedua 2026”

Buat yang belum tahu, Phison itu ibarat “mandor” di dunia storage. Controller chip buatan mereka ada di mana-mana, dari SSD murah meriah sampai drive NVMe kelas sultan. Jadi, kalau bos Phison sudah ngomong soal pasokan memori, kita wajib pasang kuping.

Dalam wawancara terbarunya dengan stasiun TV Taiwan, Next TV, Pak Pua Khein-Seng nggak cuma ngomongin tren teknologi. Dia bicara soal survival.

⚠️
Peringatan Merah CEO Phison

“Perusahaan mungkin perlu memangkas lini produk mereka di paruh kedua tahun 2026, dan beberapa perusahaan bahkan akan mati jika mereka tidak bisa mendapatkan komponen yang mereka butuhkan.”

Konteksnya begini: Pewawancara (Ningguan Chen) melempar pertanyaan tajam, apakah kelangkaan ini bisa bikin perusahaan tutup atau lini produk disuntik mati? Khein-Seng nggak menampik. Dia mengiyakan skenario horor tersebut.

Logikanya sederhana tapi ngeri. Bayangkan kamu punya pabrik laptop. Casing sudah jadi, layar sudah ada, CPU siap pasang. Tapi RAM-nya nggak ada. Barang nggak bisa dirakit, nggak bisa dijual, cash flow macet. Kalau ini terjadi berbulan-bulan? Ya wassalam.

Biang Keroknya: AI yang “Rakus”

Mungkin kalian bertanya, “Lho, perasaan kemarin harga SSD dan RAM lagi murah-murahnya? Kok tiba-tiba panik?”

Jawabannya satu kata: AI.

Ledakan Artificial Intelligence yang kita nikmati sekarang—dari ChatGPT sampai Gemini—itu butuh infrastruktur gila-gilaan. Data center AI itu nggak pakai RAM eceran kayak PC kita. Mereka “memakan” pasokan memori dunia dalam jumlah yang nggak masuk akal.

Lonjakan Harga RAM

No data provided

Masalahnya, kapasitas produksi pabrik memori itu terbatas. Ketika raksasa teknologi (sebut saja Microsoft, Google, Meta) memborong semua stok DRAM buat server AI mereka, sisanya buat siapa? Buat pasar consumer kayak kita? Itu cuma remah-remahnya doang.

Ketimpangan supply dan demand ini sudah bikin harga RAM melonjak tiga, empat, bahkan enam kali lipat dalam beberapa bulan terakhir. Ini bukan inflasi biasa, ini panic buying level korporat.

Oligopoli: Cuma 3 Pemain yang Mengatur Nasib Kita

Situasi makin runyam kalau kita lihat struktur pasar memori dunia. Industri DRAM itu dikuasai oleh “The Big Three”: Samsung, SK Hynix, dan Micron.

🔧 Penguasa Pasar DRAM Dunia

No specifications provided

Hampir 93% pasokan RAM dunia ada di tangan tiga perusahaan ini. Dan tebak apa strategi mereka sekarang? Mereka nggak mau buru-buru bangun pabrik baru. Mereka trauma dengan masa lalu di mana kelebihan produksi bikin harga hancur (ingat harga SSD 1TB cuma 600 ribuan tahun lalu?).

Sekarang, mereka lebih milih menjaga suplai tetap ketat biar profit maksimal. Jadi, jangan harap mereka bakal jadi pahlawan kesiangan yang membanjiri pasar dengan RAM murah dalam waktu dekat. Mereka “cuan” besar dari kelangkaan ini.

Efek Domino: Nvidia dan Apple Pun Pusing

Kalau kalian pikir ini cuma masalah buat brand kecil, kalian salah besar. Bahkan raksasa sekelas Nvidia dan Apple pun kena imbasnya.

Laporan menyebutkan bahwa Nvidia—raja GPU dunia—mungkin bakal melewati peluncuran GPU gaming untuk pertama kalinya dalam 30 tahun. Bayangkan, Nvidia yang duitnya nggak berseri aja kesulitan mengamankan stok memori buat kartu grafis GeForce seri terbaru mereka. Kemungkinan besar, alokasi memori mereka dialihkan semua ke GPU AI (seperti H100/B200) yang margin keuntungannya jauh lebih “gurih”.

Apple juga sama. Mereka mungkin punya rantai pasokan paling efisien di dunia, tapi kalau barangnya nggak ada, ya nggak ada. Sekelas Apple diprediksi bakal kesulitan mengamankan stok RAM yang cukup, belum lagi chip memori buat SSD.

Kalau Nvidia dan Apple saja pusing, gimana nasib vendor laptop gaming “value” atau produsen smartphone mid-range? Bisa jadi model-model favorit kita bakal hilang dari pasaran, atau kalaupun ada, harganya bakal nggak ngotak.

Era Baru: “Servis Lebih Baik Daripada Beli Baru”

Ada satu poin menarik lagi dari omongan bos Phison ini. Dia memprediksi pergeseran perilaku konsumen.

“Orang-orang akan mulai memperbaiki produk lebih sering ketika rusak, daripada membuangnya ke tempat sampah, selama beberapa tahun ke depan.”

Ini ironis tapi masuk akal. Ketika harga laptop baru melambung tinggi atau barangnya langka (ghoib), opsi paling rasional adalah memperbaiki laptop lama. Tukang servis dan industri sparepart kanibalan mungkin bakal panen raya di tahun 2026-2027 nanti.

Budaya “rusak beli baru” yang selama ini dimanjakan oleh elektronik murah bakal dipaksa berhenti. Kita mungkin bakal kembali ke era di mana upgrade RAM laptop lama atau ganti SSD adalah solusi paling mewah yang bisa kita lakukan.

Kesimpulan: Apa Artinya Buat Kita di Indonesia?

Oke, mari kita tarik benang merahnya buat kita, para tech enthusiast di Indonesia. Peringatan CEO Phison soal paruh kedua 2026 ini adalah sinyal kuning—menuju merah.

  1. Harga Elektronik Bakal Naik (Lagi): Laptop, HP, SSD, RAM stick, sampai VGA card kemungkinan besar bakal mengalami kenaikan harga signifikan mulai pertengahan tahun depan.
  2. Barang Ghoib Comeback: Jangan kaget kalau nanti ada laptop rilisan baru yang di-review bagus oleh YouTuber, tapi pas dicari di marketplace statusnya “Pre-Order 3 Bulan” atau “Stok Kosong”.
  3. Waktunya Beli Sekarang? Kalau kamu memang butuh upgrade PC atau beli laptop baru buat kerja 3-4 tahun ke depan, saran saya: jangan terlalu lama mikir. Menunggu “harga turun” di tengah badai supply chain global yang didorong AI adalah perjudian yang berisiko.

Masalah RAM ini bukan sekadar siklus pasar biasa. Ini adalah new normal di mana kebutuhan AI memakan jatah hardware manusia biasa. Jadi, rawat gadget kalian baik-baik, karena penggantinya mungkin bakal susah dicari atau harganya bakal bikin nangis.

Gimana menurut kalian? Apakah kita harus mulai nimbun RAM dari sekarang, atau ini cuma taktik marketing biar kita belanja? Yuk, diskusi di kolom komentar!