Laporan terbaru dari publikasi teknologi Jerman, WinFuture, pada 13 Juli 2026 mengonfirmasi apa yang selama ini sudah terendus oleh pasar. OnePlus, jenama yang bertahun-tahun mendobrak pasar global lewat titel “Flagship Killer”, bersiap mengumumkan pengunduran diri secara total dari Amerika Serikat dan Eropa. Pengumuman resmi mengenai “perubahan strategi mendasar” ini dijadwalkan meluncur pada pertengahan Juli ini.
Langkah ini bukan sekadar manuver perampingan sementara. Berdasarkan temuan di lapangan, sisa inventaris OnePlus di Amerika Serikat dan Eropa saat ini sedang dihabiskan melalui berbagai jaringan peritel tanpa ada rencana restok atau peluncuran hardware baru di wilayah tersebut.
Tanda-tanda kepamitan ini sangat jelas terlihat pada infrastruktur digital mereka. Situs regional OnePlus di Eropa—termasuk Italia, Spanyol, Prancis, dan Swedia—kini secara otomatis mengarahkan pengunjung ke halaman toko Oppo. Sementara itu, pada situs resmi OnePlus Jerman, gudang mereka nyaris kosong. Katalog daring hanya menyisakan stok terakhir OnePlus 15R yang dibanderol €539 (sekitar Rp9,5 juta), mengonfirmasi berhentinya pasokan model flagship kelas atas.

Mundurnya OnePlus dari pasar Barat secara otomatis memperkuat cengkeraman duopoli Apple dan Samsung di segmen premium Amerika Serikat. Di Eropa, absennya mereka justru membuka karpet merah bagi pabrikan Tiongkok lain seperti Xiaomi dan Honor untuk mengambil alih pangsa pasar yang ditinggalkan.
Kematian Perlahan Sang Penantang
Keruntuhan operasional OnePlus di Barat tidak terjadi dalam semalam. Restrukturisasi internal di tubuh grup induk mereka menjadi eksekutor utama transisi ini. Pada April 2026 lalu, Oppo memutuskan untuk meleburkan divisi OnePlus dan realme ke dalam satu unit bisnis yang dipimpin oleh pendiri realme, Li Bingzhong.
Runtuhnya Operasional Global OnePlus
Sinyal Awal
Laporan internal mengindikasikan rencana Oppo untuk menyusutkan operasional OnePlus.
Eksodus Eksekutif
CEO OnePlus India, Robin Liu, resmi mengundurkan diri.
Konsolidasi Grup
Oppo menggabungkan manajemen OnePlus dan realme, diikuti pengunduran diri massal staf OnePlus di Inggris dan Eropa.
Akhir Ekspansi Barat
WinFuture membocorkan rencana penutupan operasional di AS dan Eropa.
Peleburan ini mencabut independensi merek yang dulunya punya kultur perusahaan yang khas. Imbas paling fatal justru ada pada perangkat lunak. Laporan pada awal Juli memastikan bahwa pengembangan OxygenOS—antarmuka bersih yang selama ini menjadi alasan utama konsumen setia pada OnePlus—dan Realme UI dihentikan secara permanen. Seluruh perangkat di masa depan akan menggunakan ColorOS buatan Oppo untuk semua pasar global.
Status Pemilik Perangkat Saat Ini
Pengguna OnePlus di Amerika Serikat dan Eropa tidak perlu panik. Divisi Eropa OnePlus telah menjamin bahwa pembaruan peranti lunak dan dukungan perbaikan hardware akan tetap berjalan sesuai dengan siklus hidup (lifecycle) masing-masing perangkat yang sudah terjual.
Hilangnya Alternatif Fotografi Natural
Untuk pasar Asia, khususnya India dan Tiongkok, nama OnePlus belum akan dikubur. Namun, posisinya bergeser secara ekstrem. OnePlus tidak lagi diposisikan sebagai penantang flagship premium, melainkan diturunkan kelasnya menjadi sekadar lini produk murah di bawah payung bisnis Oppo. Keputusan ini berbasis pada metrik internal; lebih dari 50 persen total penjualan global OnePlus memang berasal dari pasar India lewat volume penjualan seri Nord.
Transisi ini sekaligus membawa satu kehilangan spesifik di pasar smartphone: eksperimen pemrosesan gambar kelas atas. Sejak menggandeng produsen kamera legendaris Hasselblad, OnePlus secara konsisten menawarkan karakter color science yang berbeda di kelas premium. Mereka mencoba menyajikan kontras yang lebih natural dan metrik warna yang mendekati estetika kamera medium format konvensional.
Pendekatan visual tersebut sempat menjadi alternatif menyejukkan di tengah tren industri yang berlomba-lomba menghasilkan foto over-processed dengan rentang dinamis artifisial dan saturasi berlebih. Sayangnya, riset dan pengembangan sensor gambar besar beserta kalibrasi warna khusus memerlukan alokasi dana penelitian yang tidak sedikit. Ketika model bisnis direvisi hanya untuk menyasar segmen budget berorientasi volume di pasar berkembang, teknologi fotografi premium dan kemitraan semacam ini menjadi pos pertama yang dicoret dari neraca keuangan.
Implikasi untuk Konsumen Indonesia
Di Indonesia, absennya OnePlus dari jalur distribusi resmi memang membuat gaung merek ini sudah meredup sejak beberapa tahun lalu. Namun, komunitas pengguna jalur impor paralel—mereka yang rela membayar pajak dan mendaftarkan IMEI demi mengejar murninya OxygenOS dan kualitas kamera—masih cukup vokal.
Berita penghentian operasi global ini merupakan titik akhir dari relevansi skema tersebut. Membeli lini OnePlus terbaru dari luar negeri kini telah kehilangan esensi nilai jual uniknya. Sebab, perangkat keras, orientasi pasar, hingga sistem operasinya (ColorOS) kelak identik dengan perangkat kelas menengah Oppo yang didistribusikan resmi di Tanah Air. Opsi impor jalur mandiri hanyalah bentuk repot yang sudah tidak bisa lagi dibenarkan. Pasar ponsel telah kehilangan satu penantang unik, dan menyisakan sedikit opsi bagi konsumen di ujung atas spektrum premium.
