OpenAI Dapat Suntikan Rp1.700 Triliun: Amazon & Nvidia Beli 'Tiket VIP', SoftBank Ikut Pesta
AI & ML

OpenAI Dapat Suntikan Rp1.700 Triliun: Amazon & Nvidia Beli 'Tiket VIP', SoftBank Ikut Pesta

28 Februari 2026 | 6 Menit Baca | Nabila Maharani

Duit $110 miliar ini bukan cuma angka fantasi, tapi tiket emas buat nguasai infrastruktur AI masa depan. Apa dampaknya buat kita para dev?

Kalian pernah ngerasa dompet tipis pas liat tagihan AWS di akhir bulan? Atau stress nungguin training model yang nggak kelar-kelar di GPU gratisan Google Colab? Nah, coba tarik napas dulu. OpenAI baru saja mengumumkan angka yang bikin kalkulator error: $110 miliar (sekitar Rp1.700 triliun) dalam putaran pendanaan terbaru mereka.

Jujur aja, buat kita yang sehari-hari ngoding pakai bantuan AI, angka ini pasti bikin melongo. Tapi kalau kita bedah lebih dalam, ini bukan sekadar “uang kaget”. Ini adalah vendor lock-in paling mahal dalam sejarah teknologi. Amazon, Nvidia, dan SoftBank nggak cuma ngasih duit; mereka lagi beli masa depan infrastruktur AI.

Mari kita bedah “source code” di balik kesepakatan gila ini.

Valuasi yang Menembus Stratosfer

Sebelum kita masuk ke teknisnya, ayo lihat dulu angkanya. OpenAI sekarang punya valuasi pre-money sebesar $730 miliar. Setelah suntikan dana ini masuk, valuasi post-money mereka melonjak jadi sekitar $840 miliar.

Buat perspektif, ini mendekati nilai kapitalisasi pasar perusahaan teknologi raksasa yang udah established puluhan tahun. Dan ingat, OpenAI ini masih perusahaan yang “bakar duit” buat compute cost.

Metrik Finansial OpenAI 2026

Total Investasi Baru $110B
High
Rekor pendanaan AI
Valuasi Post-Money $840B
Estimasi Pasar
Cash on Hand $150B
Total Kas Tersedia

Yang menarik, target internal mereka baru akan positive free cash flow di tahun 2030. Jadi, perjalanan masih panjang, kawan-kawan.

Amazon Masuk Gelanggang: The AWS Lock-In

Ini bagian yang paling juicy buat kita yang suka ngulik cloud architecture. Amazon memimpin ronde ini dengan komitmen $50 miliar. Tapi, ada syarat dan ketentuan berlaku yang mirip banget sama logika credits cloud yang biasa kita pakai, tapi versi raksasa.

Dari $50 miliar itu, $15 miliar dikasih di depan, dan sisanya $35 miliar tergantung milestone (seperti IPO atau pencapaian AGI). Tapi tunggu, ada plot twist-nya. OpenAI berkomitmen buat “jajan” cloud resources di AWS senilai $100 miliar selama delapan tahun ke depan.

Konsep Circular Investment

Sederhananya gini: Amazon kasih duit ke OpenAI -> OpenAI pakai duitnya buat sewa server AWS -> Duitnya balik lagi ke Amazon sebagai revenue cloud.

Ini strategi cerdas buat ngunci OpenAI biar nggak cuma bergantung sama Microsoft Azure.

Buat para backend engineer, ini berita besar. AWS sekarang jadi exclusive third-party cloud provider untuk inisiatif baru bernama “OpenAI Frontier”. Ini adalah platform enterprise agent-builder. Jadi, kalau Microsoft Azure pegang lisensi untuk produk API standar dan ChatGPT konsumen, AWS bakal jadi rumah buat “AI Coworker” kelas enterprise yang lebih berat.

Andy Jassy, CEO Amazon, bahkan bilang kalau dua lab AI terbesar di dunia sekarang pakai chip Trainium mereka secara ekstensif. OpenAI bakal pakai kapasitas komputasi sebesar 2 Gigawatt (GW) dari chip custom Amazon ini.

Nvidia: Menjual Sekop di Tambang Emas

Nvidia nggak mau ketinggalan kereta. Mereka taruh $30 miliar di meja. Sama kayak Amazon, ini juga taktik supaya hardware mereka tetap jadi standar industri. Investasi ini terikat dengan penggunaan kapasitas training 2 GW pada sistem GPU Vera Rubin generasi terbaru.

Kita tahu lah ya, Nvidia itu ibarat dealer tunggal di balapan F1. Kalau kalian mau model AI kalian ngebut, opsinya cuma sedikit. Dengan deal ini, OpenAI memastikan mereka dapet prioritas antrean buat chip paling gahar yang bahkan belum rilis massal.

Sementara itu, SoftBank—yang dipimpin Masayoshi Son—juga ikutan nyumbang $30 miliar. Bedanya, peran SoftBank di sini lebih ke pure capital. Mereka yang memastikan operasional tetap jalan dengan pembayaran cicilan di bulan April, Juli, dan Oktober 2026. Uang cash ini penting banget buat operasional sehari-hari sementara Amazon dan Nvidia mainnya di barter infrastruktur.

Komposisi Investasi $110B

$110B Total
Amazon
45.5%
Nvidia
27.3%
SoftBank
27.3%

Microsoft di Mana?

Jangan salah sangka, Microsoft nggak “ditinggalin”. Mereka masih pegang lisensi eksklusif IP sampai AGI tercapai, dan tetap jadi penyedia utama untuk stateless API dan produk first-party.

Ibaratnya, Microsoft itu “mitra senior” yang punya hak asuh anak pertama, sementara Amazon itu partner strategis baru yang diajak bikin pabrik bareng. Pembagian tugasnya mulai jelas: Azure buat inferensi standar dan API publik yang biasa kita hit pakai Python script, AWS buat training berat dan agen enterprise.

User Base yang Makin Gemuk

Buat yang mikir “siapa sih yang pake AI segitu banyaknya?”, datanya cukup mencengangkan.

Statistik Pengguna OpenAI

Weekly Active Users 900 Juta
ChatGPT Global
Consumer Subs 50 Juta
ChatGPT Plus/Team
Codex Users 1,6 Juta
AI Agent Devs

Yang paling menarik perhatian adalah Codex (AI software agent). User-nya naik tiga kali lipat sejak awal 2026 jadi 1,6 juta pengguna mingguan. Ini sinyal keras kalau coding dengan bantuan AI bukan lagi sekadar fitur tambahan di VS Code, tapi udah jadi workflow utama.

Apa Artinya Buat Kita di Indonesia?

Oke, duit triliunan dolar di Silicon Valley rasanya jauh banget dari Mangga Dua. Tapi, efek dominonya bakal kerasa sampai sini.

  1. Akses Enterprise di AWS: Banyak perusahaan besar di Indonesia (bank, unicorn, BUMN) yang infrastrukturnya heavy di AWS. Dengan masuknya “OpenAI Frontier” ke AWS, integrasi agentic AI ke sistem korporasi lokal bakal jauh lebih mulus. Nggak perlu lagi pusing mikirin latency lintas cloud atau kepatuhan data yang ribet.
  2. Hardware War = Inovasi: Dengan OpenAI pakai chip Trainium Amazon dan Vera Rubin Nvidia secara masif, kita bisa berharap efisiensi model bakal naik. Ujung-ujungnya, biaya API token buat developer indie kayak kita bisa jadi lebih murah (semoga!).
  3. Standar Baru Coding: Pertumbuhan user Codex yang gila-gilaan adalah wake-up call. Kalau kalian masih denial pakai AI buat coding, kalian bakal ketinggalan kereta. Di Indonesia, di mana kebutuhan talenta digital tinggi banget, menguasai AI-assisted development bakal jadi skill wajib, bukan lagi nilai plus.

Sam Altman bilang, “Dunia butuh komputasi kolektif yang masif.” Terjemahan bebasnya: Perang infrastruktur baru aja dimulai, dan pelurunya adalah chip dan listrik.

Sebagai developer, tugas kita sekarang bukan cuma jadi penonton. Manfaatin tools yang makin canggih ini buat bikin solusi yang relevan. Jangan sampai kita cuma jadi konsumen teknologi, padahal “bahan bakunya” udah disediain di depan mata.

Selamat ngoding, teruslah bereksperimen!