Jujur, kadang aku kangen masa-masa awal ChatGPT rilis. Waktu itu kita semua cuma takjub karena bot bisa diajak curhat atau disuruh bikin boilerplate code React yang (kadang-kadang) jalan. Tapi berita pagi ini bikin aku sadar: those days are long gone. Kita udah nggak lagi ngomongin “mainan riset”. Kita lagi ngeliat lahirnya infrastruktur digital baru yang skalanya… yah, agak nggak ngotak.
Baru aja kemarin, OpenAI nge-drop kabar menggemparkan ke industri teknologi. Mereka resmi mengumumkan kalau ChatGPT sekarang punya 900 juta pengguna aktif mingguan (WAU).
Angkanya memang sebesar itu—hampir tiga kali lipat populasi Amerika Serikat. Kalau ChatGPT itu negara, dia udah jadi negara terbesar ketiga di dunia setelah India dan China. Dan yang lebih mengejutkan? Ini terjadi barengan sama pengumuman pendanaan swasta terbesar sepanjang sejarah umat manusia.
OpenAI: The New Titan
Valuasi yang Bikin Kalkulator Error
Mari kita bedah angkanya, karena sebagai developer yang biasa ngurusin budget server bulanan $50, angka ini bikin pusing. OpenAI baru aja mengamankan dana segar sebesar $110 miliar (sekitar Rp 1.700 triliun kalau kurs lagi baik).
Ini bikin valuasi perusahaan melonjak ke angka $840 miliar. Buat yang suka ngikutin pasar saham, angka ini udah mepet banget sama valuasi raksasa teknologi yang udah mapan puluhan tahun. Bedanya? OpenAI baru berdiri sekitar satu dekade.
Siapa “paus” di balik suntikan dana ini? Nama-namanya nggak asing:
Menariknya, masuknya Amazon ke dalam cap table ini bukan cuma soal duit, tapi soal survival of the fittest di dunia infrastruktur AI. Ini membawa kita ke topik yang paling seru buat dibahas secara teknis: Perang Cloud.
Plot Twist: ‘Selingkuh’ dengan AWS?
Oke, tahan dulu. Kita semua tahu kalau Microsoft (lewat Azure) itu mitra strategis OpenAI sejak lama. Jadi, kok bisa Amazon—yang notabene punya AWS, saingan berat Azure—malah invest $50 miliar? Apakah hubungan OpenAI dan Microsoft retak?
Jawabannya: Nggak retak, tapi jadi complicated (alias strategi multi-partner yang agresif).
Jadi begini skemanya. Microsoft Azure tetep jadi cloud provider eksklusif untuk semua API OpenAI dan produk first-party mereka (seperti ChatGPT yang biasa kita pake). Tapi, untuk inisiatif baru yang disebut “OpenAI Frontier”—platform agent untuk enterprise—OpenAI menggandeng Amazon/AWS sebagai partner eksklusif pihak ketiga.
Pembagian Wilayah Cloud
Azure: Tetap memegang kunci untuk API publik dan ChatGPT consumer product. Hubungan strategis inti tidak berubah.
AWS: Menjadi rumah baru untuk “OpenAI Frontier”, fokus pada enterprise agent, didukung oleh chip custom Amazon Trainium.
Kenapa AWS? Jawabannya ada di silikon. OpenAI butuh daya komputasi yang masif—mereka menargetkan budget komputasi $600 miliar sampai tahun 2030. Dengan deal ini, OpenAI mengamankan kapasitas 2 gigawatts (cukup buat nyalain satu kota metropolitan) yang ditenagai oleh chip Trainium buatan Amazon sendiri.
Buat kita yang suka ngulik hardware, ini sinyal jelas: OpenAI nggak mau ketergantungan 100% sama GPU Nvidia (meskipun Nvidia juga ikut invest). Mereka diversifikasi ke ASIC custom kayak Trainium buat efisiensi inference jangka panjang.
Kabar Baik Buat Developer (Codex & API)
Lupakan sejenak angka miliaran dolar itu. Apa ngaruhnya buat kita, para kuli koding?
Data menunjukkan kalau Codex (model di balik GitHub Copilot dan fitur coding ChatGPT) sekarang punya 1,6 juta developer aktif mingguan. Angka ini naik tiga kali lipat sejak awal tahun 2026.
Ini validasi keras bahwa AI-assisted coding bukan lagi sekadar fitur nice-to-have, tapi udah jadi standard toolchain. Kalau kamu belum pake AI buat bantu debug atau nulis unit test, kamu udah ketinggalan dari sebagian besar industri.
Dengan duit sebanyak ini, latency API berpotensi turun drastis—semoga harganya ikut turun juga. Infrastruktur 2GW yang mereka bangun itu berarti model yang lebih cerdas dengan waktu respons yang lebih instan tinggal soal waktu.
Perspektif Indonesia: Kesempatan atau Ancaman?
Nah, sekarang kita tarik ke konteks lokal. Di Indonesia, adopsi ChatGPT buat pendidikan dan bisnis tumbuh sangat cepat. Dari mahasiswa yang minta buatin outline skripsi, sampai startup di SCBD yang integrasi API GPT-4o buat customer service, semuanya pake.
Masuknya AWS sebagai partner strategis ini menarik, mengingat AWS punya region di Jakarta (ap-southeast-3). Kalau “OpenAI Frontier” nanti bisa di-deploy lewat infrastruktur lokal AWS, ini bisa jadi game changer buat enterprise di Indonesia yang punya aturan ketat soal data residency (data nggak boleh keluar negeri).
Bayangkan AI agent yang bisa dijalanin dengan latensi lokal Jakarta, ditenagai chip Trainium yang efisien. Ini bisa jadi angin segar bagi developer dan enterprise Indonesia yang selama ini bergulat dengan isu latency dan biaya lebih tinggi karena data harus mampir ke region luar negeri.
Masa Depan: The Global Utility
Sam Altman bilang, “Kita masuk ke fase di mana AI garis depan bergerak dari riset ke penggunaan harian skala global.” Dan dia bener.
Dengan valuasi $840 miliar, OpenAI bukan lagi startup. Mereka adalah utilitas. Sama kayak listrik atau internet. Kompetisi emang makin ketat—Anthropic baru aja dapet pendanaan Seri G (valuasinya $380 miliar) dan xAI juga nggak mau kalah—tapi dengan 900 juta user, OpenAI punya moat (benteng pertahanan) berupa data interaksi user yang nggak dimiliki siapa pun.
Tahun 2026 ini diprediksi bakal ditutup dengan “Mega-IPO” OpenAI. Kalau itu kejadian, ini bakal jadi penanda sejarah baru industri tech.
Buat sekarang, arah yang jelas cuma satu: terus bangun. Tools-nya udah makin canggih, infrastrukturnya makin kuat. Yang nggak boleh ketinggalan adalah kita sendiri.
