MediaTek Nggak Cuma Jago Kandang di HP, Sekarang Mainan 'Cahaya' Buat Hajar Bottleneck AI!
CPUs

MediaTek Nggak Cuma Jago Kandang di HP, Sekarang Mainan 'Cahaya' Buat Hajar Bottleneck AI!

27 Februari 2026 | 6 Menit Baca | Dimas Aditya

Bukan lagi cuma soal chipset HP murah meriah, MediaTek baru saja gelontorkan dana triliunan Rupiah ke teknologi Silicon Photonics. Tujuannya? Bikin interconnect AI yang speed-nya nggak masuk akal!

Jujur aja, kalau denger nama MediaTek, apa yang langsung muncul di kepala kalian? Pasti kebanyakan bakal jawab: “Ah, itu chipset sejuta umat di HP Xiaomi atau Infinix,” atau mungkin “Chipset idaman bocil Epep karena murah tapi kenceng.”

Nggak salah sih. Selama satu dekade terakhir, MediaTek emang rajanya SoC (System on Chip) mobile. Tapi kalau kalian perhatiin gerak-gerik mereka belakangan ini, ada ambisi yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar ngalahin skor AnTuTu Snapdragon.

Berita terbaru yang baru aja mendarat di meja redaksi beneran bikin saya melongo. MediaTek baru saja resmi “pecah celengan” dan menanamkan investasi strategis ke Ayar Labs. Buat yang belum tau, Ayar Labs ini adalah startup ‘unicorn’ yang fokus ngembangin teknologi Silicon Photonics.

Nilai investasinya? Sekitar $90 juta (itu triliunan Rupiah, Bos!). Ini bukan angka receh buat sekadar iseng. Ini adalah sinyal keras kalau MediaTek mau naik kelas dari sekadar jagoan mobile jadi pemain inti di infrastruktur AI global.

Logo MediaTek
Source: Wikimedia Commons
Dari jeroan HP murah sampai infrastruktur AI Google, MediaTek mulai melebarkan sayapnya secara agresif.

Kenapa Harus Silicon Photonics? Emang Tembaga Kurang Kenceng?

Oke, kita masuk ke mode geek sebentar. Masalah terbesar di dunia komputasi performa tinggi (HPC) dan AI server sekarang itu bukan lagi di kecepatan prosesornya. GPU kayak NVIDIA H100 atau Blackwell itu udah kenceng banget. Masalahnya ada di interconnect alias jalan rayanya.

Bayangin kalian punya Ferrari (GPU AI), tapi dipaksa jalan di gang sempit Jakarta pas jam pulang kantor (kabel tembaga konvensional). Hasilnya? Bottleneck parah.

Kabel tembaga punya limitasi fisik. Kalau dipaksa ngirim data terlalu banyak dan terlalu cepat, dia bakal panas dan sinyalnya degradasi. Solusinya? Cahaya.

Apa Itu Silicon Photonics?

Secara sederhana, Silicon Photonics mengganti jalur listrik (elektron) di dalam chip dengan jalur cahaya (foton).

Efeknya?

  1. Bandwidth jauh lebih besar.
  2. Latency (delay) anjlok drastis.
  3. Konsumsi daya super irit karena cahaya nggak menghasilkan panas sebanyak listrik saat ‘jalan-jalan’.

Nah, Ayar Labs ini punya teknologi bernama TeraPHY dan SuperNova light sources yang bisa mindahin data pakai cahaya langsung dari dalam chip. Inilah yang diincar MediaTek. Mereka sadar kalau mau relevan di era AI, mereka harus nguasain teknologi “jalan tol” cahaya ini.

Detail Investasi: MediaTek ‘All In’ di Jalur Optik

Investasi ini nggak dilakukan sembarangan. Lewat anak perusahaannya yang bernama Digimoc, MediaTek mengakuisisi sekitar 1,7 juta saham preferen Ayar Labs. Kalau dihitung-hitung, kepemilikan mereka sekarang sekitar 2,4%.

Mungkin kedengeran kecil persentasenya, tapi dampaknya masif. Dengan masuknya MediaTek, Ayar Labs sekarang punya backing dari salah satu manufaktur chip terbesar di dunia. Apalagi sebelumnya VentureTech Alliance (yang satu geng sama ekosistem TSMC) juga udah ikutan nyuntik dana.

Ini data kunci soal teknologi yang bakal dipake MediaTek dari Ayar Labs. Coba bandingin efisiensi dayanya sama kabel tembaga biasa:

Spesifikasi Teknologi Optik Ayar Labs

Bandwidth Chiplet (TeraPHY)
Up to 16 Tbps (Bidirectional)
Light Source
SuperNova (16 wavelengths/256 channels)
Power Efficiency (Optical)
0.05 - 0.2 pJ/bit
Power Efficiency (Electrical/Copper)
~15 pJ/bit
Standar Interconnect
UCIe & CW-WDM MSA

Kalian liat angka Power Efficiency-nya? Dari 15 pJ/bit turun ke 0.05 pJ/bit. Itu bukan sekadar efisiensi, itu lompatan teknologi yang gila. Buat data center yang tagihan listriknya bisa milyaran per bulan, ini adalah holy grail.

Target Sebenarnya: Google TPU v7 “Ironwood”

Sekarang, mari kita sambungin benang merahnya. Kenapa MediaTek ngotot banget masuk ke sini? Jawabannya ada di Mountain View alias markas Google.

MediaTek udah dikonfirmasi bakal megang peran krusial dalam desain dan manufaktur Google TPU v7 (kode nama: Ironwood). Buat yang belum tau, TPU (Tensor Processing Unit) adalah otak di balik semua layanan AI Google, mulai dari Search sampai Gemini yang sering kita ajak ngobrol.

Selama ini, pasar custom AI ASIC (chip khusus AI) dikuasai sama raksasa kayak Broadcom dan Marvell. MediaTek mau mendobrak duopoli ini. Strateginya cerdas: Tawarkan solusi lengkap. Nggak cuma bikin chip komputasinya, tapi juga sediain solusi I/O (Input/Output) super kenceng berbasis optik berkat teknologi Ayar Labs ini.

Ambisi AI MediaTek

Target Market Share (2028) 15%
High
Pasar AI ASIC Global
Proyeksi Revenue $7.5B
💰
Valuasi Ayar Labs $1B+
Unicorn Status
Investasi MediaTek $90M
🤝

Rick Tsai, CEO MediaTek, bahkan udah sesumbar kalau pasar AI ASIC ini bakal tembus $50 Miliar di tahun 2028. MediaTek nggak mau cuma jadi penonton, mereka nargetin dapet kue sekitar 10% sampai 15%. Itu duit yang gede banget, jauh lebih menggiurkan dibanding margin tipis jualan chipset HP entry-level.

Dampaknya Buat Kita (Gamer & Tech Enthusiast Indonesia)

“Bang, apa ngaruhnya berita beginian buat gue yang cuma main Genshin Impact di HP Android?”

Waduh, jangan salah. Dampaknya bakal kerasa, meski nggak langsung di tangan kalian.

  1. Layanan Cloud Lebih Cepat: Kalau infrastruktur Google TPU makin kenceng dan efisien berkat teknologi MediaTek x Ayar Labs ini, layanan kayak Google Photos, Translate, sampai asisten AI bakal makin seamless. Nggak ada lagi cerita loading lama pas minta AI generate gambar.

  2. Reputasi Brand: MediaTek yang makin “pintar” di level server biasanya bakal nurunin teknologi turunannya ke chip mobile (Dimensity seri flagship). Bisa jadi di masa depan, teknologi interkoneksi super cepat ini diadaptasi dalam skala mikro buat HP flagship, bikin komunikasi antara CPU, GPU, dan NPU di HP makin ngebut tanpa bikin HP jadi setrikaan.

  3. Persaingan Harga: Kalau MediaTek berhasil mecahin dominasi Broadcom, harga sewa server atau layanan cloud AI bisa jadi lebih kompetitif. Ujung-ujungnya, langganan layanan premium (kayak Gemini Advanced atau ChatGPT Plus) bisa lebih terjangkau buat pasar sensitif harga kayak Indonesia.

Opini: Langkah Jenius atau Judi Mahal?

Menurut saya, ini langkah yang wajib diambil MediaTek. Pasar smartphone global itu udah mulai jenuh (saturated). Orang makin jarang ganti HP tiap tahun. Pertumbuhannya udah nggak se-seksi dulu.

Di sisi lain, AI lagi meledak-ledaknya. Kebutuhan hardware buat ngejalanin LLM (Large Language Model) itu rakus banget. Dengan menggandeng Ayar Labs, MediaTek ngasih sinyal kalau mereka siap adu mekanik di liga utama.

Mereka nggak cuma mau dikenal sebagai “alternatif murahnya Qualcomm”. Mereka mau jadi tulang punggung internet masa depan. Dan jujur aja, melihat spesifikasi teknis optical I/O yang ditawarin Ayar Labs, saingan-saingan lama mereka wajib waspada.

Buat kita di Indonesia, siap-siap aja. Nama MediaTek bakal makin sering kita denger bukan cuma pas bahas spek HP, tapi juga pas bahas teknologi canggih di balik layar komputer kita. Benchmark dulu, baru ngomong—dan benchmark buat teknologi cahaya ini janjinya bakal gila-gilaan.