Netflix Beli Startup AI Ben Affleck: Bukan Buat Deepfake!
AI & ML

Netflix Beli Startup AI Ben Affleck: Bukan Buat Deepfake!

6 Maret 2026 | 5 Menit Baca | Nabila Maharani

InterPositive bukan soal mengganti aktor, tapi membereskan 'mess' di post-production. Langkah cerdas Netflix buat efisiensi studio.

Kalau kalian sempat panik mikir AI bakal gantiin semua aktor Hollywood dan bikin kita nonton film isinya robot semua, napas dulu. Berita hari ini justru kasih plot twist yang menarik banget.

Netflix baru aja resmi mengakuisisi InterPositive, sebuah startup teknologi AI. Yang bikin alis naik sebelah? Pendirinya adalah Ben Affleck. Ya, Batman favorit kita (atau kedua favorit, tergantung selera kalian) ternyata diam-diam punya side hustle ngoding—atau setidaknya, memimpin tim engineering yang serius.

Tapi tunggu, jangan bayangin InterPositive ini kayak Sora atau Runway Gen-3 yang bisa bikin video dari teks “kucing main skateboard di Mars”. Bukan. Pendekatan mereka jauh lebih grounded dan, secara teknis, justru ini solusi yang paling masuk akal buat industri film sekarang.

Ben Affleck berbicara di panel Comic Con
Source: Wikimedia Commons
Ben Affleck kini menjabat sebagai Senior Advisor di Netflix setelah akuisisi InterPositive.

Bukan Generative AI, Tapi “Bug Fixer” Buat Film

Coba bayangin kalian lagi ngoding, terus ada bug kecil tapi nyebelin di production. Kalian nggak mau rewrite ulang semua kodenya kan? Kalian cuma mau nge-patch bagian yang rusak.

Nah, filosofi InterPositive itu persis begitu. Mereka nggak mencoba bikin aktor palsu. Mereka fokus membereskan masalah teknis di post-production yang biasanya makan waktu berbulan-bulan dan biaya jutaan dolar. Kita bicara soal wire removal (hapus tali pengaman stuntman), benerin lighting yang meleset, atau nyambungin shot yang continuity-nya berantakan.

Dalam istilah teknis, model mereka bukan dilatih buat “berhalusinasi” bikin gambar baru, tapi dilatih untuk memahami logika sinematografi.

Konsep 'Dailies' sebagai Training Data

Poin paling jenius dari InterPositive adalah cara mereka melatih model. Alih-alih pakai dataset raksasa dari internet (yang sering bikin masalah hak cipta), model ini di-fine tune pakai “dailies”—rekaman mentah harian dari syuting film itu sendiri.

Artinya, AI-nya belajar konteks visual spesifik dari film tersebut. Jadi kalau filmnya punya color grading suram ala Gotham, AI-nya nggak bakal tiba-tiba kasih lighting cerah ala Barbie.

Technical Breakdown: Kenapa Ini “Big Deal”?

Bagi siapa saja yang pernah struggle dengan konsistensi model ML, pendekatan InterPositive ini terasa brilian karena membatasi scope. Masalah terbesar Generative AI sekarang adalah inkonsistensi. Frame 1 oke, Frame 2 tangannya jadi spaghetti.

Dengan membatasi input hanya pada raw footage dari produksi yang sedang berjalan, varians error-nya bisa ditekan drastis. Ini ibarat kita bikin fungsi kecil yang sangat spesifik, bukan satu fungsi raksasa yang mencoba melakukan segalanya.

Berikut spesifikasi teknis dari apa yang sebenarnya dibeli Netflix:

Kapabilitas InterPositive Engine

Training Data
Project-Specific Dailies + Soundstage Dataset
Core Function
Technical Cleanup & Consistency Check
Pipeline
Integrasi Eyeline Studios
Hardware Target
Post-Production Workstations

Netflix nggak main-main soal integrasi ini. Tim InterPositive bakal langsung dilebur ke dalam Eyeline Studios, unit visual effect internal Netflix. Ben Affleck sendiri nggak cabut gitu aja; dia geser posisi jadi Senior Advisor. Jelas ini bukan sekadar “acquihire” (beli perusahaan cuma buat ambil orangnya), tapi beli stack teknologinya.

Timeline: Dari Stealth Mode ke Raksasa Streaming

Menariknya, InterPositive ini beroperasi cukup lama di bawah radar alias stealth mode dengan nama PT yang agak random, Fin Bone LLC. Affleck ternyata sudah mendaftarkan paten atas namanya sendiri sebagai inventor. Ini bukti kalau dia nggak cuma “tempel nama”, tapi benar-benar terlibat dalam desain sistemnya.

Jejak Digital InterPositive

+4 thn

Inisiasi Proyek

Ben Affleck mendirikan Fin Bone LLC (cikal bakal InterPositive) untuk solusi inefisiensi produksi.

+1 bln 2 mgg

Validasi Awal

Premiere film 'The Rip' yang dibintangi Affleck & Damon, mempererat hubungan dengan Netflix.

+3 hr

Partnership Deal

Netflix dan Artists Equity (perusahaan Affleck) tanda tangan kontrak first-look.

Akuisisi Resmi

Netflix mengumumkan pembelian InterPositive dan integrasi tim.

Timing pengumuman ini (Kamis kemarin waktu AS, atau Jumat dini hari WIB) juga menarik. Netflix baru aja mundur dari tawaran pembelian Warner Bros. Discovery. Sepertinya mereka sadar: daripada beli studio tua dengan segudang masalah, mending investasi ke teknologi yang bikin produksi konten mereka sendiri lebih murah dan cepat.

Apa Artinya Buat Kita (dan Industri Film Indonesia)?

Mungkin kalian mikir, “Terus apa hubungannya sama gue yang cuma nonton Netflix sambil makan mie instan?”

Dampaknya bakal kerasa di kualitas visual. Biaya VFX itu mahal banget, guys. Dengan automasi cleanup dan lighting lewat AI ini, budget produksi bisa dialihkan ke hal lain—misalnya nulis naskah yang lebih bagus (semoga) atau bayar kru lebih layak.

Buat konteks Indonesia, di mana Netflix lagi gencar-gencarnya bikin Originals (seperti film-film aksi lokal dengan budget terbatas, tapi bisa punya finishing visual sekelas Hollywood karena proses “sapu bersih” pasca-produksinya dikerjakan AI.

Kelebihan

  • Mempercepat proses editing teknis yang membosankan
  • Menjaga konsistensi visual karena dilatih per-project
  • Mengurangi biaya VFX untuk koreksi minor (wire removal, dll)

Kekurangan

  • Potensi pengurangan kru entry-level di post-production
  • Ketergantungan studio pada ekosistem proprietari Netflix

Satu kutipan Ben Affleck yang ngena banget buat saya: “I gotta type something into a computer, and it’s gonna give me a movie. That’s not what this is.”

Ini validasi penting. AI di sini diposisikan sebagai power tool, bukan creator. Sama kayak IntelliSense atau Copilot di text editor kita; dia bantu nulis kode lebih cepat, tapi logikanya tetap dari otak manusianya.

Jadi, buat para sineas dan editor, jangan takut dulu. AI ini datang buat ngambil kerjaan ngebosenin kalian (hapus kabel, samain warna background), supaya kalian bisa fokus ke art-nya. Langkah strategis ini membuktikan bahwa masa depan industri film bukanlah soal menggantikan talenta, melainkan memperkuat mereka dengan teknologi yang tepat.