Drama Pentagon Bikin Claude AI Jadi Raja App Store? Kok Bisa?
AI & ML

Drama Pentagon Bikin Claude AI Jadi Raja App Store? Kok Bisa?

2 Maret 2026 | 6 Menit Baca | Nabila Maharani

Ketika raksasa teknologi lain berlomba dapat kontrak militer, Anthropic justru menolak dan kena 'blacklist'. Hasilnya? Netizen malah jatuh cinta.

Oke, jujur aja. Biasanya kalau ada perusahaan teknologi yang “berantem” sama pemerintah Amerika Serikat—apalagi Pentagon—nasibnya bakal suram. Saham anjlok, investor kabur, atau CEO-nya tiba-tiba mengundurkan diri. Tapi plot twist di awal Maret 2026 ini beneran di luar nalar.

Anthropic, pembuat Claude (yang sering saya puji-puji kalau lagi ngoding karena logic-nya yang lebih rapi dari tetangga sebelah), baru saja melakukan hal yang “gila”. Mereka menolak kontrak pertahanan senilai ratusan juta dolar karena masalah prinsip.

Hasilnya? Bukannya bangkrut, Claude malah meroket ke Posisi #1 di App Store AS, menggeser ChatGPT yang sudah duduk manis di singgasana itu sejak akhir 2022.

Lonjakan Popularitas Claude (Maret 2026)

Peringkat App Store #1
High
Menggeser ChatGPT
User Gratisan +60%
High
Sejak Jan 2026
Pelanggan Pro 2x Lipat
High
Year-to-Date

Ini fenomena yang menarik banget buat kita bedah. Kenapa sikap “idealis” malah bikin cuan? Dan apa hubungannya sama kita, para developer dan pengguna AI di Indonesia? Yuk, kita deep dive.

Kronologi: Saat “No” Berarti “Yes” Buat User

Ceritanya bermula dari negosiasi alot antara Anthropic dan Pentagon (yang di era administrasi Trump sekarang di-rebranding jadi Department of War—serem ya namanya).

Intinya, pemerintah AS mau pakai teknologi AI canggih Anthropic buat keperluan pertahanan. Nilainya fantastis, mencapai $200 juta atau sekitar 3 triliun Rupiah lebih.

Tapi, Anthropic mengajukan syarat mutlak: AI mereka nggak boleh dipakai buat mass domestic surveillance (memat-matai warga sendiri secara massal) dan nggak boleh dipasang di fully autonomous weapons (senjata yang bisa nembak sendiri tanpa izin manusia).

Pemerintah AS bilang: “Ambil tawaran kami apa adanya, atau minggir.” Anthropic bilang: “Oke, kami minggir.”

Dan di situlah “perang” dimulai.

Timeline Konflik Anthropic vs Pentagon

+3 mgg 3 hr

Masih Underdog

Claude cuma duduk di peringkat #131 App Store AS.

+3 hr

Ancaman Blacklist

Pentagon mengancam akan memutus akses jika Anthropic menolak syarat.

+1 hr

Penolakan Resmi

CEO Dario Amodei menolak 'penawaran terakhir' karena alasan hati nurani.

+2 hr

Perintah Eksekutif

Presiden Trump melarang penggunaan Anthropic di federal; OpenAI ambil alih kontrak.

Efek Streisand

Claude melesat ke #1 App Store, resmi mengalahkan ChatGPT.

Efeknya langsung terasa instan. Presiden Trump langsung mengeluarkan perintah eksekutif yang melarang semua agensi federal pakai teknologi Anthropic dalam enam bulan ke depan. Sekretaris Pertahanan, Pete Hegseth, bahkan melabeli Anthropic sebagai “risiko rantai pasokan” bagi keamanan nasional.

Bahasa halusnya: “Kalian musuh negara karena nggak mau nurut.”

Efek Streisand: Dilarang Malah Dicari

Kalian tahu Streisand Effect? Itu lho, fenomena di mana upaya menyensor atau melarang sesuatu malah bikin hal tersebut jadi viral. Itulah yang terjadi di sini.

Begitu berita keluar bahwa Anthropic menolak bikin sistem senjata otonom—yang mengingatkan banyak orang pada ketakutan akan “Skynet”—simpati publik langsung tumpah ruah. Di media sosial X dan Reddit, tagar Cancel ChatGPT mulai trending.

Lho, kok ChatGPT kena imbas?

Karena disaat Anthropic bilang “nggak”, OpenAI (pembuat ChatGPT) langsung maju dan tanda tangan kontrak tersebut beberapa jam setelahnya. OpenAI setuju dengan “pengaman teknis” yang diajukan Pentagon. Buat sebagian user yang concern sama etika AI, ini kelihatan banget bedanya: satu perusahaan pegang prinsip, satunya lagi pragmatis.

Suara Developer

Bagi banyak developer, pergeseran sentimen ini unik. Biasanya kita pilih tools berdasarkan performa (mana yang coding-nya paling jago). Tapi sekarang, “moral alignment” jadi fitur unggulan. Rasanya lebih tenang pakai AI yang developernya berani bilang ‘nggak’ sama senjata otonom.

Bahkan selebriti kayak Katy Perry ikutan hype ini dengan posting screenshot langganan Claude Pro dengan caption singkat: “Done.”

Apa Kata Data?

Bukan cuma omong kosong media sosial, angkanya beneran ngeri. Sejak awal 2026, pelanggan berbayar Claude Pro sudah naik dua kali lipat. Pendaftaran pengguna harian naik tiga kali lipat dibanding November 2025 lalu.

Ini tamparan keras buat narasi bahwa “etika menghambat bisnis”. Ternyata, di tahun 2026, konsumen—termasuk kita—mulai peduli sama siapa di balik layar chatbot yang kita ajak ngobrol tiap hari.

Logo Claude AI
Source: Wikimedia Commons
Logo Claude AI yang kini mendominasi chart produktivitas.

Bedah Teknis: Claude vs ChatGPT

Oke, lepas dari drama politiknya, apakah Claude emang sebagus itu? Setelah menggunakan kedua tools ini secara intensif, harus diakui: Claude memang sedang “menyala” banget, terutama sejak rilis model Sonnet terbaru.

Kalau kita adu head-to-head dalam konteks situasi sekarang:

Pertarungan Filosofi: Maret 2026

Ethical Choice

Claude (Anthropic)

VS
Gov Partner

ChatGPT (OpenAI)

9.5 /10
Kepercayaan Publik
6 /10
1 /10
Dukungan Pemerintah AS
10 /10
9 /10
Kemampuan Coding (Sonnet 3.5/4.6)
8.5 /10
9.5 /10
Pertumbuhan User (Q1 2026)
7 /10

Pemenang

Claude (Anthropic)

Secara teknis bersaing ketat, tapi secara sentimen publik, Claude menang telak di ronde ini.

Model terbaru mereka, Claude 4.6 Sonnet yang rilis pertengahan Februari lalu, memang sudah jadi favorit banyak software engineer. Kemampuannya memahami konteks kode yang panjang (large context window) masih jadi juara dibanding GPT-4o varian apapun. Jadi, drama Pentagon ini sebenarnya cuma “bensin” yang menyambar api yang sudah ada. Produknya emang bagus, ditambah momentum yang pas.

Relevansinya Buat Kita di Indonesia

“Terus apa ngaruhnya buat gue yang lagi ngoding di Jakarta Selatan atau Surabaya?”

Ngaruh banget, Guys.

  1. Privasi Data: Kalau pemerintah AS (Department of War) punya akses luas ke model AI tertentu, ada kekhawatiran soal data yang diproses model tersebut. Sikap Anthropic menolak mass surveillance adalah sinyal positif buat user internasional kayak kita yang nggak mau data kita diintip negara lain.
  2. Ketersediaan Layanan: Meskipun Trump bilang mau “phase out” Anthropic dari agensi federal, ini justru bikin Anthropic makin fokus ke pasar komersial dan global. Kita mungkin bakal lihat fitur-fitur consumer yang lebih canggih karena mereka nggak sibuk ngurusin pesanan militer.
  3. Pilihan Tools: Buat developer Indonesia, ini validasi. Menggunakan Claude bukan cuma soal teknis, tapi juga soal mendukung ekosistem AI yang lebih aman dan terkontrol.

Spesifikasi Platform Claude Saat Ini

Model Utama
Claude 3.5 & 4.6 Sonnet
Developer
Anthropic PBC
Valuasi
$380 Miliar
Status App Store
#1 Productivity (US)

Opini Penutup

Kejadian ini ngasih pelajaran berharga: Di dunia teknologi yang makin dystopian, integritas itu ternyata punya nilai jual. Anthropic mempertaruhkan kontrak triliunan rupiah demi prinsip, dan pasar membalasnya dengan loyalitas.

Buat saya pribadi, rasanya lebih nyaman ngetik prompt ke AI yang developernya berani bilang “nggak” ke Big Brother. Bukan berarti OpenAI jahat (bisnis is bisnis), tapi dalam ronde kali ini, hati nurani yang menang.

Gimana menurut kalian? Apakah kalian tim yang pindah ke Claude, atau tetap setia sama ChatGPT? Perang AI ini baru saja masuk babak baru yang lebih seru. Pada akhirnya, teknologi bukan cuma soal baris kode, tapi juga soal integritas yang ada di baliknya.